Cerita Ringan

Di kotak draft gw ada 26 postingan yang mager aja di situ. Cerita demi cerita tertulis setengah-setengah aja; dari staycation yang udah beberapa kali, sampai bocah kecil (will be 3 on 30th Jan, 2018) pun juga udah masuk sekolah Juli kemarin. Lalu ada juga cerita sedih yang cukup viral (dengan akhir yang positif, sepertinya) yang terus gw simpan sendiri.

Ngga ngerti kenapa motherhood ini bikin gw lumayan berubah. Waktu gw baca postingan gw yang dulu-dulu/sebelum-sebelumnya, ya ampun polos sekali dirikuu…, cerita lepas aja gitu, ngga pakai mikir bakal malu-maluin diri atau ngga. Tapi ya biar gimanapun, itu apa adanya diri gw pada saat itu, jadi biarpun ada yang memalukan atau bikin merinding karena cheesy, tetap gw ngga nyesel hahah.

Tapi tetap seperti yang gw bilang tadi, motherhood ini merubahku hiks. Ada semacam perasaan kalau gw ambil waktu untuk diri gw sendiri (contoh: ‘me time‘ atau luangin waktu di malam hari untuk nulis blog); gw bersalah. What is wrong with me? (mungkin diriku hanya lelah?)

Seolah-olah, gw harus terus selesaiin dulu pekerjaan rumah dan urusan yang berhubungan dengan anak-anak gw, baru gw boleh duduk dan melakukan hal untuk diri gw sendiri… sedangkan seperti yang (sebagian dari) kalian tahu, pekerjaan rumah dan urusan anak itu seperti lingkaran, ngga pernah selesai (kalau ngga pakai bantuan nanny/helper).

Itu sebabnya pada satu titik, gw sempat berpikir: apa udahan aja ya bloggingnya… daripada hati kebagi antara ngurus keluarga tapi mikirin harus ngeblog terus, udah gitu ditambah lagi satu kondisi, akhir Maret 2017 lalu, gw baru ganti laptop dari yang Windows ke Macbook, jadi pastinya masih bingung-bingung.

Bingung-bingung yang lain masih bisa gw atasin dan pelan-pelan teratasi, tapi ada satu yang masih gw bingung, yaitu cara resize foto. *diketawain anak-anak IT se-Indonesia Raya lainnya* Kalau di Windows gw pakai Photoshop yang key/serial numbernya dapat dari adik gw. Setelah gw ganti ke Macbook pastinya udah ngga bisa pakai lagi dan gw harus beli tapiii buat gw itu mahal, ngga rela cuma pakai buat resize foto doang.

Intinya adalah pada saat itu gw belum dapat solusi gimana cara resize foto di Macbook tanpa bayar apa-apa. Jadilah itu salah satu alasan gw nunda ngeblog. Udah gitu juga kelupaan terus untuk nanya mbah gugel. Jadi semua jalan gitu aja.

Tapi emang ya (lagi-lagi), ‘alam semesta’ seperti ngga ngijinin gw pergi, HOT TOPIC yang belum lama ini *kalian tahu kan yang mana*; blog post yang ditulis seseorang itu, bikin gw ngerasa sedikit terganggu. Terganggu bukan karena keputusan yang udah dia buat (karena emang itu hak asasi dia), tapi karena dia pikir cuma karena keputusan dia tepat, dia bisa mengejek keputusan orang lain, orang Indonesia to be exact. Ada yang memilih diam, nontonin aja, kalau gw milih komen aja biar lega. Gw terima kok apapun balasan komen dia, asalkan gw tetap humble *prinsip hidup*, gw ngga akan sakit-sakit amat sama komentar baliknya yang mungkin akan %$^@%*@#(%^&^&*&(**()#@!!!. Tapi ternyata ngga separah yang gw bayangkan, masih cukup kuat gw bacanya. (tapi yang ke orang lainnya sangat menunjukkan betapa dia belum siap sama pro kontra kehidupan.) (gw tahu topik ini dari insta story blogger lain, gw curiga yang diomongin adalah seseorang itu, jadi gw cari tahu dan ternyata emang benar).

Gw mau bahas sedikit (lumayan banyak sih) tentang postingan orang tersebut ya…

Gw sebenarnya sangat menghormati keputusan dia… lah gimana ngga menghormati, gw juga ada kok tante yang childfree, malahan sebelumnya beliau emang ngga mau nikah, ngga ada tuh dari keluarga yang mandang sebelah mata ke beliau, apalagi kasih “nasehat-nasehat”. Hidup tetap berjalan seperti biasa.

Tapi emang jalan hidup ngga ada yang tahu, beliau ternyata bisa ketemu orang yang sama-sma ‘klik’ gitu dan mereka putusin untuk menikah awal tahun lalu (setelah dekat beberapa tahun)!! Di usia tante gw yang ke 47 tahun dan suaminya 48 tahun. Mereka sama-sama masih single, belum pernah menikah). Dan bisa dipastikan mereka akan terus childfree mengingat umur tante gw. Adopsi anakpun sepertinya ngga karena suatu alasan. Dan ngga masalah, hidup tetap jalan seperti biasa, beliau juga ngga koar sana sini memberikan ‘seribu’ alasan kenapa dia ngga mau punya anak. 

Ada juga kerabat gw yang lain yang benar-benar single sampai sekarang (umur 40 tahun), dia ngga adopsi anak, tapi dia punya anak-anak asuh di Papua. Dia pun ngga koar-koar kiri kanan menjelaskan kenapa dia ngga mau menikah apalagi punya anak. Karena dia percaya diri dengan keputusannya dan orang lain menghormati. Kalaupun ada yang membicarakan di belakang, ya ada sebabnya kan mereka ada di belakang? *mengutip dari suatu quote*.

Si seseorang tersebut bilang gw missed the point (setelah baca komen gw), fyi, gw yakin gw ngga missed the point. Kenapa? Karna justru saking gw ngerti poin-poin yang dia tulis (yang secara umum ditujukan untuk mereka yang ingin memiliki anak – atas kemauan sendiri), gw bisa nanya gimana dengan mereka yang hamil karena kecolongan dan diperkosa? Apa harus kita suruh mereka aborsi sedangkan hukum Tuhan melarang itu.

Cuma dengan nanya gitu gw langsung dimasukin ke SQUAD “CUMA CONCERN SOAL AGAMA & MISSED THE POINT”. Cuma karena gw menyebut kata Tuhan dan ngga bahas lima poin yang dia tulis; terdapat di dalamnya sbb: dunia sudah terlalu banyak orang, lapangan pekerjaan susah, bayaran rendah, penyakit, makanan sehat, air bersih, pasar becek, harga sawi di carrefour, dan lain-lain.

Buat apa gw bahas semua itu kalau ujung-ujungnya gw justru akan terlihat ‘sok berani’ dan menggurui? Jadi gw hanya menanyakan yang berkaitan dengan poin-poin tersebut, yaitu bagaimana dengan mereka yang hamil karena kecolongan dan diperkosa?!

Dan tahu ngga, menjawab komen orang lain yang berkaitan dengan kebobolan, dia dengan entengnya jawab ANGKAT RAHIM. Dia kira angkat rahim itu seperti pencet jerawat? Dia kira ngga ada resiko kematian? Ngomong sama teman gw yang kehilangan mamanya karena hal tersebut!!!

Yang bikin lucu adalah dia kira lima poin yang dia tulis ngga pernah terpikirkan oleh orang lain, dan nulis gini: “Sok atuh mau punya anak, tapi ya inget aja LIMA  poin penting yang kusampaikan tadi. Zaman kita hidup ngga segampang zaman ortu kita hidup, pun zaman anak2 Cici besar nantinya gak segampang hari ini. Jadi tolong pertimbangkan LIMA poin ini untuk anak2 cici ke depannya yah.”

LALU SETELAH BACA ITU APA GW AKAN TERDUDUK DENGAN LEMAS DAN BERKATA, “YA AMPUN APA YANG TELAH KULAKUKAN?? AKU CEROBOH SEKALI TIDAK MEMIKIRKAN MASA DEPAN SEPERTI ITU, AKU BERSALAH, AKU BERSALAH KEPADA ANAK-ANAKKU… APA YANG HARUS KULAKUKAN SEKARANG?? *lalu pingsan*. Ngga.

Karena sebagai orangtua gw tahu jangankan lima poin yang dia sebutkan itu, yang lebih jauh dan lebih dalam aja udah terpikirkan. Dan jangan mulai tanyain tentang orangtua yang buang anak segala macam ya, di dunia ini ngga semuanya berwarna putih. Banyak juga orang sakit jiwanya. Jangan mengabaikan yang positif dan cuma mau fokus ke negatif aja KECUALI ADA YANG BISA KAMU PERBUAT UNTUK MEMBANTU. 

Cuma karena di luar sana banyak orang brengsek, bukan berarti semua orang pasti brengsek juga. Mengutip lirik  lagu Basofi Sudirman:
TIDAK SEMUA LAKI-LAKI IBU-IBU BERSALAH PADAMU!

Dan referensi lagu lain yang harus dia dengar:
ROW-ROW ROW YOUR BOAT… LIFE IS BUT A DREAM.
Hidup hanya sementara, hanya sebentar, kita ngga hidup abadi di dunia ini.

Satu lagi, omongan dia tentang zaman dulu, zaman sekarang dan zaman nanti. 

Pendapat gw adalah setiap jaman ada tantangannya sendiri. Sekarang ada kesusahan, bukan berarti dulu tuh enak. Coba tanyakan ke orangtua kulit hitam yang tinggal di Amerika dari sejak mereka lahir? Apakah mereka lebih suka di zaman mereka kecil atau sekarang? Kejauhan? Coba tanya orang-orang Indonesia yang hidup di zaman penjajahan.

Atau kalau bahas mereka masih kejauhan…, cobalah tanya gw, lebih suka tinggal di jaman gw kecil dulu waktu masih sering dilecehkan secara verbal oleh orang asing di jalan (cuma karena asal usul ras gw yang mereka simpulkan dari fisik gw) ataukah gw lebih suka jaman sekarang? Atau apakah gw suka zaman waktu hampir setiap hari nyokap gw melakukan verbal abuse, bahkan physical abuse ke gw? (yang setelah punya anak gini, gw curiga mungkin dulu nyokap gw mengalami yang namanya Postpartum Depression).

Zaman dulu banyak bikin nangis dan gw ngga meratapi karena memang itu yang membentuk diri gw di zaman sekarang. Zaman sekarang malah gw bisa lebih strong karena selain memang fisik pun gw udah lebih besar dibanding waktu gw kecil (YA IYALAH!), pola pikir gw juga terbentuk ke arah yang lebih baik. Semua semata-mata karena gw ngga mendendam dan meratap! Dan hal itu membawa gw ke momen turning point gw di tahun 2004! Gw yang ada di posisi terendah di hidup, meminta pertolongan, lalu hati gw seperti terjamah, ada perasaan bahwa gw udah aman, lalu gw meyakini sesuatu. Sejak itu hidup gw membaik dan terus membaik (termasuk hubungan gw dengan nyokap gw).

Tantangan mah pasti masih ada, ngga mungkin ngga ada, itu sebabnya daripada saling menakuti dan bersikap pesimis, mending kita saling memberi semangat. Lebih bagus lagi kalau bisa saling bantu.

*****
Anywayyyy, Di mulai dari situ, selanjutnya malah jadi blogwalking ke blog-blog lain. Proses blogwalking ke blog-blog lain tersebut, ngebalikin ingatan akan passion awal gw dulu nulis blog (2011, waktu gw mulai nulis segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan pernikahan gw).

Jadi sekarang, gw mau mulai lagi dengan cerita ringan ya…

Kemarin (18 Nov, Sabtu) gw ke rumah ortu gw, nenek gw juga tinggal di sana.

Btw bahkan untuk ke rumah ortu gw pun bisa dua bulan sekali karena (you have no idea) betapa hecticnya keseharian gw. Bukan gw ngga mau pakai helper ya, gw sempat pakai loh selama kurang lebih tiga bulanan gitu, si mbak kerjanya bagus, ngga reseh, suka ngobrol, tapiii sering telat… kalau gw emang di rumah terus sih ngga kenapa-napa telat, tapi sering banget bentrok dengan jam gw harus jemput GG. Dan itu waktu FF belum mulai sekolah loh, kalau waktu itu FF pun udah sekolah juga, lebih ribet lagi ngatur jamnya. Karena GG sekolah jam 8 pagi, FF jam 10 pagi. Dan nyari helper lagi di apartemen ngga segampang itu sih, mostly bentrok di waktu (karena rata-rata mereka udah megang beberapa unit lain juga). 

Balik lagi ke rumah ortu gw itu, jadi di sana Si GG mainin buku yang ada di rak nenek gw, GG turunin salah satu buku dan taruh ke sofa depan nenek gw. Nenek gw kan ngga suka kalau barangnya diberantakin, jadi dia bilang ke GG untuk balikin lagi. Karena GG (dan FF juga sih) sangat suka buku, dia ngga dengerin nenek gw, nah karena ngga didengerin, nenek gw mulai nakut-nakutin GG, kurang lebih kayak gini: “Ih jangan main, ada (binatang) C loh… iiihhh ada C loh.”

Habis itu kan gw bantu GG balikin ke rak itu buku, eh malah gantian si FF yang ambil buku itu lagi… nah si nenek gw ngomong gitu  lagi: “Iiihh ada C loh… jangan mainin, ada C lohh….”

Pasti pada bingung kan maksud gw apa dan C itu apa?!

C itu ada binatang yang bikin gw phobia parah. Sangat parah sampai gw cuma berani tulis inisial depannya aja di sini atau kadang gw pakai bahasa inggrisnya ‘w***’. Intinya bukan binatangnya itu… tapi sekarang gw ngerti kenapa gw bisa phobia banget sama binatang itu!

Kalau gw ingat balik lagi, gw itu kan dari umur balita sampai kelas 3 SD diasuh sama nenek dan tante gw, gw punya kecurigaan kalimat yang dia pakai untuk nakutin GG dan FF itu (yang pakai binatang C itu) PASTI sering dia pakai juga ke gw dulu dan masuk ke alam bawah sadar gw, sampai jadi phobia.  Karena penjelasannya apa kok gw bisa spesifik takut sama binatang itu? Sedangkan ular yang besar aja gw ngga takut? *sok, padahal belum pernah pegang langsung, eh tapi at least gw ngga takut lihatnya.*

Setelah gw dapat jawaban atas phobia gw (biarpun bukan jawaban langsung tapi sangat gw yakini), gw jadi mikir, gw sendiri juga kalau udah kehabisan akal, sering nakut-nakutin GG dan FF pakai binatang, tapi binatangnya semut, kadang spider sih… gw jadi ngerasa bersalah sendiri dan mikir, gimana kalau mereka gede nanti malah phobia sama semut/spider? Dan gw putusin perlahan-lahan ngga mau lagi deh nakut-nakutin/ancam pakai binatang.

Itu cerita kemarin… Hari ini (19 Nov, Minggu) gw juga ada cerita ringan.

Tadi subuh, gw mimpi… GG udah ngga ada lagi (kalian pasti tahu maksud gw). Gw lupa di dalam mimpi itu apa penyebab GG ngga ada lagi, tapi gw ingat banget perasaan kehilangan GG itu. Gw ingat gw seperti ngga bisa nafas. Gw ingat gw takut gw juga susah hidup lagi (badan gw masih aktif tapi seperti jiwa gw udah hampir pergi), di mimpi itu gw lihat ke Ryan dan gw panik karena gw tahu sebagian jiwa gw udah mau pergi, gw literally akan gila dan gw merasa kasihan sama Ryan. Sambil gw ngerasain kayak gitu sambil gw ngga bisa nahan kesedihan juga. Gw bilang sama Ryan, harusnya kita jangan kasih nama panggilan Gwen dengan Gwen-Gwen karena dengar nama Gwen ngga menyakitkan tapi dengar nama Gwen-Gwen walaupun cuma dalam hati, entah kenapa hati kayak dicabut.

Mimpi itu super real, bahkan ditengah-tengah kesedihan di dalam mimpi itu, gw berdoa dan gw sangat ingat doa gw itu: Tuhan, tolong pertemukan aku dengan GG lima menit aja dan aku pasti ngga akan sesedih ini lagi….” SEKETIKA ITU JUGA, gw bangun dari tidur gw, tadi subuh. Dan GG yang posisi tidur biasanya di pojokan (FF ditengah-tengah antara gw dan GG), benar-benar ada di samping gw, bahkan dia tidur di bantal gw (mungkin juga karena dia rada nemplok di gw, gw jadi mimpiin dia). Anyway, gw yang masih kebawa perasaan di mimpi, ngerasa bahagia banget, puji Tuhan banget itu cuma mimpi. Karena beneran gw bisa ngerasain gw ngga mungkin bisa bangkit lagi. Saking gw ngerasa bahagia banget karena itu cuma mimpi, gw sampai ngomong, literally keluarin suara, “terima kasih Tuhan, terima kasih Tuhan”.

Karena mimpi itu, hati dan mata gw terbuka untuk mempersiapkan diri “kehilangan” mereka suatu hari nanti, bukan dalam artian meninggal, tapi ketika mereka dewasa nanti. Mereka akan punya dunia sendiri, bukan lagi gw yang menentukan. Akan ada orang-orang di hidup mereka yang gw ngga kenal. Juga mereka (mungkin) akan menikah dan punya keluarganya sendiri. (Walaupun udah ngga terhitung berapa kali gw mikirin tentang semua yang berhubungan dengan anak-anak gw di masa depan, tetap, gw ngga tahu kapan gw akan siap) Tapi setelah mimpi itu, ada sesuatu yang menguatkan gw.

Dan IMHO, setiap detik perjalanan orang tua (yang ngga berhenti berharap dan berdoa kepada Tuhan), setakut apapun orangtua tersebut, akan ada hal-hal yang terjadi dalam hidupnya, yang sebenarnya adalah pertolongan.
Mungkin bukan lewat keajaiban-keajaiban besar, mungkin cuma sesimpel mimpi.  
Karena setiap peristiwa yang memberi makna tertentu – yang di dalamnya ada sesuatu yang bisa dijadikan pelajaran – bahkan memberikan solusi atas suatu beban – gw yakini itu adalah asalnya dari Tuhan. Gw yakini itulah pertolongan Tuhan dan gw syukuri. 

😀

P.s: tentang resize foto di Macbook, kemarin gw dapat jawabannya yaitu gw bisa resize lewat Preview (app yang udah ada di Macbook langsung). Caranya: (mungkin cara yang akan gw jelasin di bawah ini agak ribet, jadi kalau di antara kalian ada yang lebih ngerti dan ada solusi lain boleh jelasin ke gw… thanks a lot.)

Cara gw edit di Preview:
Awalnya gw klik logo Preview, ga terjadi apa-apa, jadi gw masuk ke folder Photos, buka salah satu foto dan double klik untuk nemuin tombol “open with (Preview)”, tapi ngga ada option itu, yang ada “open with Moments”, lalu gw coba copas foto tsb ke Finder, di situ gw ulang lagi double klik foto tersebut dan nyari “open with Preview”, ternyata ada option itu dan bisa kebuka dan benaran juga gw bisa resize ukuran foto di situ. Jadi intinya adalah foto yang ada di Photos ngga ada option “open with Preview”. Foto-foto yang lokasinya di Finder baru ada option “open with Preview”.

Sekian dan terima kasih. 😀

Tak Kenal Maka Tak Sayang (part 2)

Postingan terakhir gw itu tanggal 8 Februari, berarti udah sebulan lebih dua minggu gitu gw ngga sentuh blog ini. Alasannya karena badan gw drop banget. Lelah akut. Batuk dari yang gw cerita waktu itu sampai sekarang masih belum sembuh total (dan parahnya itu di malam hari waktu lagi tidur). Sebenarnya sempat redaan sebentar tapi kemudian kambuh lagi (karena tertular lagi) dan kali itu ditambah dengan pilek juga. Lalu hampir sembuh lagi, kemudian si Ryan bawa pulang durian; yang cuma gw makan 2 butir tapi batuk ngga peduli dan kembali meraja. Sekarang masih dalam proses penyembuhan untuk batuknya (udah 80% 95% sembuh). Kalau badan udah segar lagi.

Penyebab (batuk) sembuh lama mungkin karena (1) gw ngga minum obat; bukan gw ngga suka obat, tapi gw merasa setiap kali gw minum obat bukan sembuh malah tambah parah. Mungkin juga karena ngga cocok sama obatnya. (2) karena gw benar-benar kecapean selama kurang lebih sebulanan ini, ngurusin GG yang udah mulai sekolah (benar-benar udah masuk sekolah, walaupun belum musimnya), daya tahan tubuh gw melemah sepertinya.

Soal GG yang udah mulai sekolah, gw bahas di postingan sendiri ya, takut melenceng kejauhan dari topik. Intinya gw drop karena benar-benar kecapean, sibuk ini dan itu, seolah-olah waktu untuk istirahat aja ngga ada. Apalagi untuk buka sosial media; pun cuma sebentar-sebentar, secuil-secuil. Ditambah lagi dua anak ngga bisa kompromi, mana ngerti mereka kalimat “Mommy lagi ngga enak badan, main berdua dulu ya.”

Dan begitu badan udah enakan lagi…, gw buka email dan reader list gw… semakin scroll ke bawah…, itu kenapa judulnya rata-rata “Tak Kenal Maka Tak Sayang” ya? Sempat bingung bentar, apa ini orang komen di postingan gw atau apa hahahahah ge-er banget. Tapi setelah baca postingan Episapi.com ini, barulah ngeh heheh 😀 😀 Awkward tapi puasssssss gw baca-bacain “aib” teman-teman blogger (walaupun masih ada yang belum kebaca), di sisi lain juga gw jadi kagum sama (yang gw anggap) kelebihan-kelebihan mereka (baca: kalian). Berasa lebih kenal dan jadi lebih kagum aja gitu. Dan sayangnya belum sempat tinggalin jejak komen sih… secepatnya ya – kalau belum keburu basi heheh. Makasih ya Pi, ide yang bagus dan jadi lebih semangat blogwalking juga (gw) jadinya.

Oh ya, juga begitu badan udah mulai enakan, yang gw lakuin adalah minta Ryan beliin gw tiket Beauty and The Beast. Film yang udah gw tunggu-tunggu. Karena seperti yang pernah gw bilang di Tak Kenal Maka Tak Sayang part 1, Belle itu adalah Disney Princess favorite gw. Happy banget habis nonton. Karena sukaaa banget. Tumben-tumbenan ngga ada yang gw kritik (dalam hati) dari sebuah film. Tadinya gw kira akan penuh kritikan, tapi gw salahhh, gw suka banget. Bahkan gaunnya yang dikritik oleh beberapa teman karena kurang ‘wah’ juga gw fine-fine aja. Malah cenderung suka sih sama gaunnya; simpel banget (sesuai sama karakter Belle, IMO). Overall, film ini bikin gw berkhayal, ketawa, kesal, ikut nangis (dikit doanggg),  senyum-senyum & semangat!! *Dan sedang merencanakan nonton kali kedua*.

Masuk ke topik, sesuai judul, gw mau bikin bahasan tentang diri gw bagian ke dua (ngga ada yang tag gw jadi tulis sendiri aja hiks… heheh bercandaaaa, emang udah lama pengen tulis ini); tapi ini pembahasan yang beda dari sebelumnya. Mari kita mulai.

  1. Gw suka bilang ‘makasih’‘sorry’ dan ‘tolong/please’.
  2. Gw sangat mengikuti aturan per-lift-an, mengutamakan yang menggunakan stroller, ibu hamil dan orang tua. Biarpun mereka datang belakangan.
  3. Gw juga nunggu orang-orang yang di dalam lift keluar dulu baru gw masuk.
  4. Gw ngga masalah tahanin pintu lift untuk orang lain, (termasuk ketika di apartemen, orang lain itu baru ngunci pintu unit apartemennya, gw akan tunggu sampai dia selesai.  (yang satu lantai dengan gw dan unitnya dekat dengan lift ya dan pengecualian kalau di dalam lift ada orang lain juga)).
  5. Gw ngga akan cemberut kalau ada sekelompok keluarga/teman yang masuk ke lift lalu tahanin pintu untuk anggota keluarga/teman lain yang baru jalan ke lift.
  6. Ketika gw buka pintu, gw perhatiin dulu di belakang gw ada orang atau ngga, kalau ada, gw akan tahan untuk mereka.
  7. Gw juga ngga segan-segan untuk bangun dari tempat duduk dan bukain pintu untuk orang yang gw lihat lagi bawa banyak barang dan mustahil untuk buka pintu sendiri.
  8. Sebisa mungkin gw terima brosur/flyer yang dibagiin sama mas/mbak yang berdiri di depan resto/toko. Kalau tangan lagi penuh, gw akan tolak dengan senyum dan bilang ‘sorry‘.
  9. Sebelum keluar dari toilet umum, gw akan membersihkan dulu dudukan wc bekas gw pakai, biarpun ngga kotor.
  10. Selesai makan di resto, gw selalu rapiin piring-piring/”sampah” di meja gw. (pengecualian kalau lagi rame-rame sama keluarga atau teman, ngga terlalu ekstrim gw rapiinnya karena ngga mau mereka malu. Yang malu itu biasanya suka suruh gw jangan kerajinan – bersihin meja kan emang kerjaan para waiter). Mungkin ngga ada salahnya mereka malu? Tapi kalau gw mikirnya, pengen ringanin kerja mereka aja. Biar tinggal angkut gitu. Lagian bukannya gw rapiin terus bawa ke dapur dan cuci, kan? Cuma rapiin bekas makan gw doang.
  11. Nah berlaku juga untuk di coffeeshop… suka lihat di meja-meja yang udah ngga ada orang lagi, alias udah pergi orangnya, tapi kenapa gelas kosongnya (yang dari kertas itu) ngga dibawa sekalian, buang gitu ke tong sampah apa susahnya, itu kan bekas dia minum, emang ngga ngerasa ngga enak biarin orang lain yang buangin?
  12. Gw sedih ketika: lagi nunggu lift di mal, bawa dua anak sendirian; yang satu di stroller, satu lagi gendong pakai gendongan: begitu lift terbuka, gw yang lagi nungguin orang-orang keluar dulu, kalah “saing” sama mereka yang datang belakangan dan nyeruduk masuk lift desak-desakan sama mereka yang berusaha keluar. Seolah-olah lagi lomba gitu.
  13. Sedih juga sih ketika anak-anak gw (yang lagi dilepas alias ngga pakai gendongan/stroller) aktif dan ceria banget di dalam lift, tapi ada orang lain yang merasa terganggu dan harus ditunjukin pula rasa terganggunya itu. Ini anak kecil loh, bukan orang dewasa, kok bisa kesal sama anak kecil? Cuma berapa detik doang lift naik/turun, kok ngga bisa nahan kekesalan? Eh tapi ini mah cuma pemikiran gw doang, mana mungkin kita bisa ngatur orang lain ya, yang penting adalah gw ngga menyerap aura negatif dari mereka, gitu aja. Untungnya cuma pernah sekali ngalamin itu.
  14. Sedih juga waktu pintu kebanting gitu aja depan muka gw, padahal tangan gw udah siap-siap mau nahan (pintu itu).
  15. Sedih waktu sepatunya FF jatuh, gw lagi gendong dia pakai gendongan, dan nenteng beberapa kantong, gw jongkok, tangan berusaha gapai-gapai sepatu itu, karena pandangan gw ketutup. Itu terjadi di depan restoran yang lagi banyak orang ‘waiting list’ berdiri. Mereka cuma ngelihatin aja, yang nolongin gw malah kakek yang lagi duduk, khusus bangun buat bantuin gw. Makasih Kek…. ;’)) Fokus gw bukan minta belas kasihan orang lain, tapi lebih ke berharap mereka yang cuek bisa lebih ‘melek’ aja gitu terhadap keadaan sekitar.
  16. Kepercayaan gw terhadap manusia juga dipulihkan ketika, gw di depan lift (sering banget kejadian di depan lift ya? – ya karena itu tempat yang cukup umum, tempat orang nunggu barengan kali ya) gw yang habis belanja di hypermarket, pegang beberapa kantong belanja dan juga gendong satu anak pakai gendongan, ketika pintu lift terbuka, gw udah was-was orang-orang akan nyeruduk masuk dan gw ngga kebagian lagi, eh ternyata seorang tante halangin jalan untuk gw dan nyuruh gw masuk duluannnnnn :’) :’):’)
  17. Juga ketika gw belanja di C*ntury, waktu kasir tanya gw ada kartu member/ngga, setelah gw cari ternyata ketinggalan, satu enci-enci yang habis bayar, tapi masih beresin dompetnya di samping gw, sodorin kartu member dia, katanya: “pakai aja, lumayan loh diskon 10%”, sambil senyum. Gila baik banget… dan karena barang yang gw beli juga lumayan harganya, ya gw terima pinjaman kartu dia.
  18. Juga pernah… waktu gw lagi hamil GG, makan di resto, gw ngga tahu kalau minuman yang gw pesan mengandung soda, si mbak yang layanin gw ngasih tahu kalau itu mengandung soda dan tanya gw lagi hamil apakah boleh? Dan gw ngga peduli ibu hamil boleh minum soda/ngga, fokus gw bukan itu, fokus gw adalah perhatiannya si mbak itu… yang ngga cuma kerja kayak robot. :’)

Dari beberapa point di atas mungkin kesannya gw lemah dan gampang ditindas orang ya? Karena emang gw aslinya murah senyum juga kali. Orang-orang suka mengkaitkan dengan “terlalu baik” dan gampang di”tindas”. Padahal semua yang gw lakuin itu bukan hal istimewa atau hal lemah. Yang gw lakuin itu adalah bagian dari tata krama dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan terhadap orang yang jelas-jelas suka ngeritik gw juga gw masih murah senyum dan bersikap sopan….

Tapi beda lagi kejadiannya kalau ada orang yang berani confront langsung depan gw. Sifat asli gw yang galak (banget), pun  bisa keluar (nurun ke FF pula).  Kalau cuma bawel-bawel, kritik, gw mah sabar banget (sabar untuk nahan diri di depan orang ybs). Sabar itu gw pertahanin karena gw bukan orang ‘kampungan’ yang gampang ‘berantem’ terus hubungan (orang lain) rusak gitu. Terbukti kesabaran gw selama ini berbuah manis kok. *ngga perlu bahas lebih jauh lagi*.

Balik lagi ke orang yang berani confront depan gw, gw justru lebih berani dan lebih tertantang. Dan juga gw punya bakat untuk pake logika ketimbang perasaan (takut, nangis dulu) dan itu udah pernah terjadi:
Waktu jaman gw dan Ryan awal pacaran, kemana-mana masih suka pakai motor, waktu masuk mal, ambil tiket, lewatin palang yang udah keangkat, tiba-tiba palangnya turun dan hajar helm Ryan dan merosot turun, lalu ketabrak (badan Ryan/motor, lupa) dan patah (bayangin kejadian itu terjadinya cepat banget, lebih dapat gambarannya). Jadi itu bukan salah Ryan ya, Ryan ngga nerobos palang itu (buktinya ada bekas lecet di helm Ryan). Kita masih shock gitu, tiba-tiba satpam yang jaga sekitar situ, datang marah- marah dan suruh ganti rugi palang yang patah. Ngga nanya kita baik-baik aja atau ngga dsb. Ryan belum sempat ngomong (padahal dia juga orang yang lumayan ofensif-defensif kalau ada kejadian yang ngga enakin gitu), singkatnya, gw ngga pakai lemot, langsung ‘semprot’ habis-habisan ke satpam itu. Gw beberin bukti-bukti, bahkan gw sempat liatin palang tsb yang banyak dipasang cable ties dibeberapa titik, artinya apa itu? Dsb. Gw juga minta bukti cctv, yang ngga berani mereka kasih. Sampai akhirnya kepala satpamnya datang, blablabla… dan minta maaf. Satpam yang pertama juga minta maaf. Permintaan maaf mereka terdengar tulus. Masalah selesai tanpa gw nangis-nangis. Tapiiiiiiiii tangan gw gemetarannnnnnnn!!! Dan begonya kita adalah ngga tuntut mereka!! Udah keburu fokus membela diri. Sampai sekarang kalau ingat masih suka kesal, kenapa ngga tuntut ganti rugi. Tapi pada akhirnya mikir, masih mending mereka mau minta maaf, jadi dijadiin pelajaran aja.

Kejadian lain adalah waktu di lampu merah (naik motor juga tapi sama mantan gw, karena kejadian waktu jaman masih sekolah), jam tangan gw dijambret, sampai sekarang gw masih bisa ingat gambaran orang itu seperti apa. Orang itu berusaha banget tarik jam gw dan gw ngelawan dengan cara cakar tangannya dan segala gestur lain… yang paling gw ingat adalah cakaran tersebut karena *sorry* gw masih ingat rasa jijik waktu lihat ada darah dan sedikit kulitnya di kuku gw *sorry*. Kejadiannya juga cepat banget juga, ketolong sama lampu hijau, jadi bisa cepat kabur sebelum dia ngamuk karena dilawan. Dannnn yang bikin keki adalah jam gw berhasil diambil!! Itu jam yang dikasih sama mantan gw tsb. Tapi ngga lama setelah itu dibeliin lagi yang sama tapi beda warna. Gw antara sedikit terhibur dan kesal lihatnya.

Masih ada sih kejadian lain tapi cukup deh daripada kepanjangan. Dan… btw, kalau di antara kalian ada yang mikir postingan ini dimaksudkan untuk menyombong, kalian shallow. Karena dari isi-isi positif yang gw tulis, yang bisa kalian pikirkan cuma gw pengen menyombong! Fyi, gw bukan orang yang suka menyombong/pamer dan ngga perlu gw jelasin alasan/buktinya di sini. Walaupun menurut gw misalnya ada teman yang pajang barang yang baru mereka beli/dikasih, beserta dengan paperbag ber’merek’nya – walau menurut gw aneh kenapa paperbagnya juga harus ikut difoto? –   di pikiran gw, gw tetap mikir mereka bukan pengen pamer tapi bangga. Ngerti dong beda pamer dan bangga? Naif banget ya gw? Biarinlah daripada nyinyir.

 #yangngertisarkasmengertimaksudpostinganini

🙂

Yang Gw Bawa Kalau Travelling (Bareng Anak)

Postingan terakhir gw tanggal 3 Februari, itu gw lagi batuk dan sakit gusi. Hari ini udah tanggal 8 februari, gw masih batuk (tapi udah ngga separah awal-awal), sakit gusi pun berubah menjadi sakit gigi sebelah kanan. Sepertinya sih karena gw panas dalam, karena semakin sering gw mandi dan juga minum air putih (dan green tea), semakin mendingan sakitnya.

Oh ya, belum lama ini gw masih sempat ke mal sama mereka dan masih ngejar aja dong. Sempat gw cuekin, dengan cueknya dia lari full power ke eskalator dan sedikit lagi melangkah ke anak tangga eskalator. Lihat gitu, gw terpaksa lari full power juga dan tangkap tangannya. Dan sama-sama naik eskalator dong T_T padahal tujuannya bukan mau ke atas.
Udah sampai atas, gw lihat si Ryan di bawah celingak-celinguk nyariin (sambil dorong stroller isi FF), gw panggil-panggil ngga ngeh dia. Akhirnya gw dan GG turun lagi, Ryan udah hilang dan kita mutar-mutar saling nyari. Hahahah..
(Ga bisa telepon karena tas gw tergantung di stroller).

Anyway… sesuai judul di atas, di bawah nanti akan gw list down barang-barang yang gw bawa kalau ke luar kota/negeri atau sekedar staycation di hotel (Jakarta).
Continue reading

Januari Kemarin

Hari ini gw mau kasih tahu bahwa… Gw capek. Gw lelah. Gw batuk… dan gusi sebelah kanan gw sakit.

Kata pembaca: “nulis blog bukannya yang bikin semangat malah bikin ikut lemas!!”

Hihih… kalau ngga di sini di mana lagi gw curhat dan ngoceh dengan gratis? 😀 Kalau ke Ryan terus kan kasihan. Jadi… anggap aja sesi terapi gratis yaaa… (dan yang baca jadi terapisnya *lalu blog ini pun kehilangan pembaca*).

Karena gw capek, lelah, batuk dan gusi sakit…, membuat gw berpikir: KENAPA DI INDONESIA BANYAK BANGET PERAYAAN DAN LIBUR???! DAN WAKTUNYA BERDEKATAN PULA. *padahal mah di luar negeri juga sama ya?*

Buat orang kantoran mungkin senang karena bisa istirahat bentar dari kerjaan… tapi buat emak-emak satu balita dan satu batita kayak gw malah jadi lebih repot; terutama karena harus pergi-pergi… di mobil (GG ngga bisa diam, carseat udah ngga mau, carseat portable; udah bisa kabur), satu-satunya senjata gw cuma kasih nonton Youtube! Dan untungnya adiknya masih mau di carseat. Terus juga di mal, di rumah orang – yang akan gw ceritain di bawah.
Continue reading

Cerita Kelahiran si Bungsu (part 2/2)

Melanjutkan postingan PART 1 yang gw tulis 19 BULAN LALU tentang cerita kelahiran FF.

Jadi, Epidural atau ILA?

Setelah proses melahirkan selesai, gw masih dibiarin selama dua/tiga jam di ruang melahirkan itu. Mungkin untuk jaga-jaga. Nah selama dua/tiga jam itu, gw masih belum boleh makan atau minum, waktu gw tanya kenapa, susternya bilang takut gw muntah. Dan ketika gw udah diijinin minum (belum boleh langsung banyak), berapa lama kemudian benar aja gw muntah. Sampai tiga kali!
Continue reading

Beban Pikiran: part 1 – ASI

Gw udah janji di postingan sebelumnya, mau tulis postingan tentang beban pikiran ini dan akan terbagi dalam beberapa part dengan tema yang beda.

Postingan ini akan menjadi postingan terakhir di tahun 2016 dan memang bertepatan dengan hari terakhir di tahun 2016.

Itu sebabnya, gw mau memanfaatkan momen ini untuk melepaskan beban negatif di hidup gw (dengan mengungkapkan apa yang menjadi beban pikiran). Dan menjalani hidup lebih maksimal lagi di tahun baru (2017). HAPPY NEW YEAR by the way!!!!!! *15 menit lagi menuju tahun 2017, di jam gw.*

Continue reading