Yang Gw Bawa Kalau Travelling (Bareng Anak)

Postingan terakhir gw tanggal 3 Februari, itu gw lagi batuk dan sakit gusi. Hari ini udah tanggal 8 februari, gw masih batuk (tapi udah ngga separah awal-awal), sakit gusi pun berubah menjadi sakit gigi sebelah kanan. Sepertinya sih karena gw panas dalam, karena semakin sering gw mandi dan juga minum air putih (dan green tea), semakin mendingan sakitnya.

Oh ya, belum lama ini gw masih sempat ke mal sama mereka dan masih ngejar aja dong. Sempat gw cuekin, dengan cueknya dia lari full power ke eskalator dan sedikit lagi melangkah ke anak tangga eskalator. Lihat gitu, gw terpaksa lari full power juga dan tangkap tangannya. Dan sama-sama naik eskalator dong T_T padahal tujuannya bukan mau ke atas.
Udah sampai atas, gw lihat si Ryan di bawah celingak-celinguk nyariin (sambil dorong stroller isi FF), gw panggil-panggil ngga ngeh dia. Akhirnya gw dan GG turun lagi, Ryan udah hilang dan kita mutar-mutar saling nyari. Hahahah..
(Ga bisa telepon karena tas gw tergantung di stroller).

Anyway… sesuai judul di atas, di bawah nanti akan gw list down barang-barang yang gw bawa kalau ke luar kota/negeri atau sekedar staycation di hotel (Jakarta).
Continue reading

Januari Kemarin

Hari ini gw mau kasih tahu bahwa… Gw capek. Gw lelah. Gw batuk… dan gusi sebelah kanan gw sakit.

Kata pembaca: “nulis blog bukannya yang bikin semangat malah bikin ikut lemas!!”

Hihih… kalau ngga di sini di mana lagi gw curhat dan ngoceh dengan gratis? 😀 Kalau ke Ryan terus kan kasihan. Jadi… anggap aja sesi terapi gratis yaaa… (dan yang baca jadi terapisnya *lalu blog ini pun kehilangan pembaca*).

Karena gw capek, lelah, batuk dan gusi sakit…, membuat gw berpikir: KENAPA DI INDONESIA BANYAK BANGET PERAYAAN DAN LIBUR???! DAN WAKTUNYA BERDEKATAN PULA. *padahal mah di luar negeri juga sama ya?*

Buat orang kantoran mungkin senang karena bisa istirahat bentar dari kerjaan… tapi buat emak-emak satu balita dan satu batita kayak gw malah jadi lebih repot; terutama karena harus pergi-pergi… di mobil (GG ngga bisa diam, carseat udah ngga mau, carseat portable; udah bisa kabur), satu-satunya senjata gw cuma kasih nonton Youtube! Dan untungnya adiknya masih mau di carseat. Terus juga di mal, di rumah orang – yang akan gw ceritain di bawah.
Continue reading

Cerita Kelahiran si Bungsu (part 2/2)

Melanjutkan postingan PART 1 yang gw tulis 19 BULAN LALU tentang cerita kelahiran FF.

Jadi, Epidural atau ILA?

Setelah proses melahirkan selesai, gw masih dibiarin selama dua/tiga jam di ruang melahirkan itu. Mungkin untuk jaga-jaga. Nah selama dua/tiga jam itu, gw masih belum boleh makan atau minum, waktu gw tanya kenapa, susternya bilang takut gw muntah. Dan ketika gw udah diijinin minum (belum boleh langsung banyak), berapa lama kemudian benar aja gw muntah. Sampai tiga kali!
Continue reading

Beban Pikiran: part 1 – ASI

Gw udah janji di postingan sebelumnya, mau tulis postingan tentang beban pikiran ini dan akan terbagi dalam beberapa part dengan tema yang beda.

Postingan ini akan menjadi postingan terakhir di tahun 2016 dan memang bertepatan dengan hari terakhir di tahun 2016.

Itu sebabnya, gw mau memanfaatkan momen ini untuk melepaskan beban negatif di hidup gw (dengan mengungkapkan apa yang menjadi beban pikiran). Dan menjalani hidup lebih maksimal lagi di tahun baru (2017). HAPPY NEW YEAR by the way!!!!!! *15 menit lagi menuju tahun 2017, di jam gw.*

Continue reading

My Drama Queens

Hihi ini udah postingan ke-tiga yang gw tulis, setelah balik dari jeda lama… udah ngga stop di postingan ke-dua lagi. Hooraayy… 😀

Salah satu hal yang membuat gw ingin melahirkan secara “normal” (pastinya kalau diberi kelancaran) adalah karena gw orangnya suka penasaran.

Salah satu hal yang bikin gw penasaran waktu hamil adalah kapan waktu yang Tuhan tentukan untuk anak-anak gw lahir, dan kenapa di hari itu ^_^. Biarpun ngga semua hal harus ada maksud “terselubung” dan Tuhan “bilang” pengen aja di hari tersebut, gw tetap puas.

Untuk GG dan FF, sebenarnya gw rada mendapatkan kejutan, biarpun bukan sesuatu yang besar, gw tetap merasa seperti Tuhan berkomunikasi dengan gw! (rada lebay ya, tapi ngga papa, kan? Ngga bikin orang lain rugi, kan?)

Yang gw maksud adalah seperti di bawah ini:

GG keluar di minggu ke 38
FF keluar di minggu ke 39
(di dua kehamilan itu, gw pakai aplikasi kehamilan yang sama, dengan mengisi tanggal ‘hari pertama haid terakhir’ yang tepat *karena memang setiap kali haid, gw catat tanggal hari pertamanya setiap bulan ke note*)

GG lahir jam 11-an siang
FF lahir jam 11-an malam

GG lahir di hari Kamis
FF lahir di hari Jumat

GG lahir di awal bulan, menjelang akhir tahun (01 Agustus)
FF lahir di akhir bulan, pada awal tahun (30 Januari)
Perbedaan umur mereka pas 1,5 tahun (eh, kurang sehari deh) / 18 bulan kurang sehari / 547 days to be exact!

GG lahir menjelang Idul Fitri 1434 H
FF lahir menjelang CNY/Imlek 2566

Proses kelahiran GG 12 jam-an
Proses kelahiran FF 2 jam-an
Sama-sama di pembukaan 3-4 cm ketika sampai RS.

Sama-sama keluar hanya setelah beberapa kali push (lama di tunggu pembukaan komplit). Dan sama-sama ada lilitan 1x di leher.

Sama-sama punya golongan darah yang sama dengan daddy mereka. Padahal golongan darah gw umum banget yaitu O+.

Karena golongan darah mereka sama-sama beda dengan gw, itu juga yang menyebabkan badan mereka sama-sama kuning/Jaundice karena angka bilirubin yang semakin meningkat di hari ke-dua, dan semakin parah di hari ke-tiga kelahiran dan harus disinar biru (fototerapi).


Untuk sifat dan sejenisnya:
GG, awalnya punya kecenderungan shy, ngga masalah main sendiri. Walaupun kadang bisa tiba-tiba nyapa orang-orang asing di dalam lift (“Hi guys…”) dan orang-orang yang pakai T-shirt dengan karakter kartun yang dia tahu, pasti kena panggil.

Belakangan ini, dia udah ngga takut orang lagi, contohnya waktu main di tempat yang ada playgroundnya, dia bisa suruh bapaknya anak lain untuk kasih aba-aba karena dia mau turun dari slide. Buat yang penasaran, dia ngomongnya gini: “uncle..uncle.. on your mark, get set, go..” Karena awkward, unclenya cuma ngomong, “one two three…” eh dia ngotot dong suruh ngomong: “on your mark, get set, gooo…” pas udah diturutin, baru dia turun. Dan ulang kejadian itu “1000x” dengan orang-orang yang ada di dekat dia waktu itu.

FF, punya kecenderungan galak. Teriak kencang, nangis kencang, dan kalau ada yang deketin mommynya tiba-tiba, dia akan datang dengan cepat dan dorong orang tersebut sampai lepas dari badan mommynya. (GG dan daddynya yang paling sering jadi korban). Dan belakangan ini, mommy-daddynya ngga boleh nyanyi bareng atau ketawa bareng. Bisa teriak kencang dia. Ampun deh.

Waktu masih rada kecilan, dia berani samperin sambil lari kecil ke orang-orang asing di mal yang manggil dia karena gemas (bahaya!), tapi udah gedean gini, rada penakut, kayak mematung gitu kalau didekatin orang. Mata tetap lirik-lirik melotot tapi badannya ngga berani gerak. Baru setelah gw dekatin, dia berani bergerak…, berusaha manjat badan gw dan setelah gw gendong, buru-buru sandarin kepalanya ke bahu gw sambil lanjut lirik melotot ke orang tersebut.

Kalau ketemu sodara atau teman-teman gw juga gitu, harus tunggu kurang lebih satu jam, luntur takutnya dan jadi liar, lari sana sini, teriak-teriak girang, nyanyi-nyanyi girang;  main sama cicinya dan anak-anak seumuran.

Ya namanya juga anak kecil ya, masih polos. Tapi yang membuat gw merasa lega adalah mereka gampang banget dibujuknya kalau lagi ngambek, tapi dengan cara yang berbeda.


Kalau ngambek:
GG, cara gw bujuk harus dengan soft dan seperti menuruti maunya dia. ‘Seperti’ loh ya, bukan benar-benar menuruti. Seolah-olah gw sangat mengerti dia, seolah-olah dia sedang curhat dan gw pendengar yang baik  (yang ngga perlu nasehati panjang lebar, cuma “hmm…hmm.. iya.. iya tahu…” pun cukup). Dan dia akan melembek sendiri.

FF, boro-boro bisa dilembutin, malah tambah parah. Triknya beda banget sama cicinya…, yaitu harus bercanda. Harus ceriaaa dan gw harus terlihat heboh bercandanya ke dia. Pasti langsung lupa sama ngambeknya.


Lalu bagian dramanya di mana?
Yang gw maksud dengan drama adalah seperti ini:
(gw rangkum beberapa dari sejak mereka kecil)

GG:
Mommy keluar buat buang sampah, nangis.
Kebangun tidur, ngga ada Mommy di sebelahnya, nangis.
Lihat Daddy pijat Mommy, nangis.
Mommy masuk kamar dan tutup pintu, nangis.
Mommy bilang, ‘Mommy is angry’, nangis.
Sandalnya ketinggalan di bawah meja resto, heboh panik minta diambilin.
Mommy bilang, FF ngga ikut (jalan-jalan), ngamuk dan setengah mati tarik stroller FF.

Dan FF:
Strollernya ditarik-tarik gitu, nangis.
Kejambak rambut sendiri, nangis.
Dengar suara sendiri (yang agak kencang semacam bersin) – kaget, nangis.
Ngantuk, nangis.
Pup, nangis.
Panas, nangis.
Cicinya nangis, ikut nangis.
Nengok ke kiri/kanan dan lihat ada daddynya – kaget, nangis.
Mommy masuk toilet, nangis.
Mommy duduk di depan meja dapur dan buka laptop (dengan maksud ingin update blog), nangis.

Tapi yang buat gw salut terhadap FF adalah ketika dia ngga enak bodi, sakit panas, atau muntah (yang untungnya dia bukan tipe anak yang suka muntah, so far cuma pernah muntah sekali, itupun sedikit) dan DIA NGGA NANGIS, ngga rewel. Untuk hal-hal tertentu dia super tough.

Sedangkan yang gw bangga dari GG adalah dia sayang adiknya. Dia suka bagi makanan ke FF tanpa disuruh, kalau gw bilang adiknya ngga usah ikut pergi, atau ketika selesai makan di resto, gw dan Ryan sengaja tinggalin FF di baby chair tanpa basa basi, si GG ngeh dan teriak-teriak manggil adiknya sampai nangis. Begitu udah bawa adiknya, dia pegang tangan adiknya dan pastiin adiknya “aman” di stroller. So sweet!

Dan namanya anak kecil ya pasti ada lah rebutan atau sejenisnya, tapi belum pernah sampai saling pukul atau sejenisnya (jangan sampai deh), juga masih tergolong gampang dibilanginnya dan bisa disuruh untuk bilang “sorry” dan kiss/elus sayang kepala satu sama lain.


Bangga-Banggain Anak

Gw nulis gini bukan mau pamer dan bangga-banggain anak, tapi emang gw BANGGA dan itu ngga tabu dong. Memangnya anak tercipta untuk dicari-cari kesalahannya? Dan ngga boleh dipuji?

Jujur aja ya, kadang gw suka merasa risih kalau lihat emak-emak saling “jelek-jelekin” anaknya, semacam tabu gitu kalau membanggakan anak. Yang sekalinya si Anu kasih tahu tentang “pintarnya” anaknya sperti apa, tiba-tiba aja ada yang ngomongin si Anu dari belakang dengan ditambahi bumbu “padahal anaknya biasa-biasa aja”. Si Anu bukan gw, gw itu saksi bisu.

Maksud gw biasa aja kali kalau berteman. Jangan banyak drama. Mau curhat tentang anak, mau bangga tentang anak, cerita aja apa adanya. Dan dengarin juga apa adanya. Ngga usah ada sirik atau malah senang di belakang.

Namanya anak, beda-beda kali perkembangannya. Dan pintarnya juga beda-beda. Termasuk perkembangan fisik juga beda. Waktu anak masih kecil berlomba-lomba gemukin anak, kenapa ngga sekalian aja emak-emaknya yang berlomba-lomba siapa yang paling gemuk! Atau ketika ada emak yang ngga mempermasalahkan anaknya gemuk atau biasa aja, malah jadi tersangka dalam kasus “Ngga Kasih Makan Anak” *curcol*.

Btw, kalau lomba emak-emak gemuk, gw bisa jadi salah satu calon juara kali, beberapa bulan sejak FF lahir, ini torso dan pipi ikut melar. (yang kalau ngga segera atur pola makan dan olahraga teratur, bisa merambat ke tangan dan kaki) *curcol lagi*.

Balik lagi ke soal bangga terhadap anak…

Termasuk juga anak-anak gw, banyak hal yang bikin bangga, tapi ada juga yang bikin gw beban pikiran. Tapi bukan hasil dari gw bandingin mereka dengan anak-anak lain. Cuma karena memang gw (dan Ryan) yang kadang suka overthinking dan juga merasa ngga akan terlalu repot kalau seandainya hal-hal yang jadi beban pikiran itu  udah bisa mereka lakukan.

Seperti apanya, nanti gw tulis di postingan tersendiri. Sementara udahan dulu, udah terlalu panjang postingan ini. 🙂

Cara Gw Nolong Diri Sendiri

1. Selalu siapin satu botol besar air putih (min 1 liter) dan habiskan dalam sehari. Alasan gw simple, supaya ngga dehidrasi. Karena menurut pengalaman gw (sebagai orang yang suka mengamati dan detail), dehidrasi bisa bikin kita mellow, juga gampang emosi. Mungkin sama kali ya efeknya dengan kalau lagi lapar?! (dehidrasi ringan ya, kalau dehidrasi akut bukan mellow lagi tapi bisa ngga nafas lagi).

2. Untuk penyemangat, gw suka minum kopi dan bubble milk tea, ngga mungkinlah sepanjang hari cuma minum air putih doang, mana sanggup. Kopi atau bubble milk tea itu dua-duanya efektif bikin gw jadi aktif dan semangat. *bubble milk tea yang gw suka cuma di Come Buy, di tempat lain ngga suka karena ada yang bubble/pearl-nya terlalu lembek, ada juga yang manissss banget, biarpun sugar bisa dikurangi, tapi tetap ngga pas. Eh ini kenapa jadi iklan ya?? Btw ini bukan iklan ya, ini murni pendapat gw sebagai pembeli.* Kopi bisa hampir setiap hari, kalau bubble milk tea ngga mungkinlah setiap hari, ngga setiap minggu juga, bisa dipelototin Ryan karena minum yang manis-manis. Dia itu biar cowo, tapi lebih sadar kesehatan (dalam hal makanan) daripada gw.

3. Buat gw yang bisa masak tapi malasnya ngga ada yang ngalahin, solusinya adalah beli makanan jadi. Kebetulan di sini ada yang jualan dan murah meriah dan bisa diantar naik ke unit apartemen gw. Ngga setiap hari, tapi lumayan ngasih solusi soal makanan.

4. Setiap malam sebelum tidur, gw memastikan piring-piring kotor dan teman-temannya sudah tercuci… supaya ketika bangun pagi pikiran ngga butek ngelihat yang kotor-kotor. Dan kalian bisa tebak dong, ini ngga selalu bisa terjadi tiap hari, tapi sebisa mungkin gw lakuin.

5. Kalau mau beresin sesuatu (mainan di lantai dsb) LANGSUNG ACTION, jangan banyak mikir apalagi ngomong aduhh aduhh… Masuk-masukin langsung semua ke keranjang/box/kantong plastik besar. Ngga sampai 15 menit. Taruh ke pojokan kalau niat kasih mereka main lagi, kalau ngga, langsung gw sembunyiin ke kamar lemari baju. Keluarin lagi cuma kalau udah ngga tahan diteror GG.

6. Siapin barang penting di beberapa titik rumah. Di setiap pojokan harus ada diaper, tissue basah dan lain-lain. Walaupun suka dihilangin dua anak dan tetap nyariin kalau lagi butuh, tetap ngga kapok, taruh terus.

7. Udah jadi rahasia umum kali ya kalau yang namanya stay at home mom itu jarang mandi, sehari bisa sekali udah bagus loh… (eh, apa jangan-jangan gw doang ya… jadi buka aib sendiri dong -_-“) solusi buat gw sendiri adalah begitu bangun tidur gw harus buru-buru mandi. Karena kalau ngga, gw ngga akan punya waktu sampai malam. Wong pipis/pup aja ada penontonnya. Hiks.

8. Gw berusaha sempatkan diri untuk berdoa (dan baca Bible). Jujur gw sering lupa berdoa, tapi sebisa mungkin gw berusaha ingat. Karena buat gw, berdoa itu sangat membantu gw untuk calm lagi dan bersyukur lagi terutama.

9. Kalau ada kesempatan, gw akan ambil waktu “me time”, walaupun cuma dua jam dan cuma ke mal, gw manfaatkan untuk makan-makan sendiri, PESTAA sendiri. Itu “me time” favorit gw, MAKAN SENDIRI DI RESTO MAL. Makan teppanyaki, sukiyaki, sushi, semua yang gw suka tapi ngga bisa gw makan kalau bareng anak!

10. Waktu FF masih newborn, gw yang udah capek gendong GG (yang udah ngga ringan lagi badannya), berusaha untuk ngga gendong FF ketika dia rewel (padahal udah minum susu), berbagai cara gw coba yaitu: diam alias ngga berani keluarin suara, tepok-tepok pahanya, tepok-tepok pantatnya, tepok-tepok bahunya, sayang-sayang rambutnya, ngga berhasil (itu berbagai caranya? *glek*) akhirnya gw nyanyi, ehhh dia mau diam juga… dan waktu gw berhenti nyanyi dia nangis lagi, akhirnya nyanyi terus. Ada waktunya gw capek nyanyi, gw coba kasih mainan yang ada lullaby-nya. Eh mau juga tuh… padahal udah geer, kirain suara gw merdu gitu sampai bisa bikin dia nyaman untuk bobo. Tapi udah hampir dua tahun gini umurnya, mana tahan gw untuk ngga gendong-gendong terus… lagi lucu-lucunya dan wangi baby-nya benar-benar jadi aromaterapi buat gw!

11. Alat penyelamat lain untuk gw adalah PLAYPEN (waktu GG masih lebih kecil)! Menurut gw itu wajib untuk punya ya. Fungsinya bukan untuk ngurung anak seharian tapi menurut gw at least dalam satu hari kita butuh moment tenang 1-2 jam (ya kalau anak mau duduk manis main dan ngga neror). Buat gw yang dua anak masih toddler, susah gw awasin dua-duanya, terutama pada saat gw harus bikinin lunch untuk mereka. Mau tinggalin di kamar pun gw takut, karena ya itu masih sama-sama kecil. Lagian GG udah bisa buka pintu kamar. Oh dear…!

Selain playpen, gw juga pakai pagar hexagonal dan dialasi karpet korea itu. Tapi sekarang pagar itu udah dibuka, alias dilurusin panjang gitu, buat tutup dapur, namanya juga dapur apartemen, ngga terlalu besar, jadi sangat nolong pagar itu.

12. Belakangan ini, dengan adanya isu-isu politik, dan semacamnya…, membuat gw semakin mantap untuk kembali berolahraga. Hahah ngga nyambung ya? Ada hubungannya kok. Gw jadi pengen olahraga karena pengen fit lagi, supaya kalau ada sesuatu yang tidak diinginkan (you name it), gw punya fisik yang cukup kuat (untuk lari, gendong dua anak, kabur, ataupun melawan). Gw SADAR kok kalau ini kedengaran konyol banget tapiiii mohon dilihat dari sisi positif aja ya, at least gw jadi termotivasi, IYA KAN?! Hehe gw ngga 100% serius kok, deep down, gw percaya sama pemerintahan yang sekarang.

Balik lagi ke olahraga (sementara jogging dulu), itu bisa bikin pikiran gw lebih terbuka, ngga gampang sensi, jadi lebih semangat dan pastinya berat badan turun dan kepercayaan diri meningkat. (moga-moga juga setelah ini, gw ke mal dipanggilnya “Kakak” lagi seperti dulu dan ngga ada lagi yang panggil “Bu”. *ngga sadar umur*)

13. Solusi untuk anak yang picky eater (GG)? Pasrahhh dan melakukan terapi dengan cara sering kasih makan si pemakan segala (FF). Gw sering bilang ‘pasrah’ ke Ryan, setiap kali dia cemasin GG karena benar-benar picky… tapi diam-diam juga gw usaha sih… dengan cara bikin suasana makan yang ceria, bersikap konyol, suapin dia pakai tangan, kasih dia makan sendiri pakai garpu dan alat-alat dapur yang aneh… Cara-cara itu sering berhasil tapi untuk makanan sehat tertentu. Dan beberapa cara ngga bisa diulang lagi karena udah ngga mempan. Dan belakangan gw mulai ngeh, si GG mau makan kalau makanan itu beraroma masakan yang gw masak sendiri di wajan/panci. Contohnya telur goreng atau mie goreng yang gw bikin untuk diri sendiri. Dia bisa tiba-tiba samperin sambil hidung endus-endus dan minta. Tapi belum pernah gw praktekin untuk masakan sayur-sayuran, ya karena seperti yang gw bilang tadi, gw baru ngeh belakangan ini.

Si GG ini bukan ngga mau makan atau mogok makan ya, tapi dia picky banget. Dia mau makan, yang dia mau. Contohnya Pizza, roti, biskuit, corn flakes, Chocolate cake, KERUPUK dan lain-lain. Segala makanan yang kebanyakan ngga mungkin gw kasih ke dia setiap hari. Dan untungnya makanan seperti telur, nasi putih (aja), nasi uduk (aja), sedikit ayam, dia masih mau. Tapi semua harus yang sesuai “pattern” awal. Maksud gw: kalau telur cuma mau yang gw bikinin, kalau nasi uduk cuma mau yang beli di tempat A, intinya ngga boleh beda dari yang pertama kali dia cobain lalu suka tersebut. *emaknya garuk-garuk kepala*

14. Dan cara gw menolong diri sendiri yang terakhir adalah berusaha untuk ngga mengeluh. Gampang banget ya nulisnya. Praktek rada susah. Tapi paling ngga gw berusaha loh. Diawali dengan menanamkan dalam pikiran: anak-anak gw ngga pernah minta dilahirin, mereka harus menikmati masa kecil yang ceria. Lalu sebisa mungkin ngga mikir: “Si anu enak banget sih…” Sebaliknya, gw selalu tanamin dalam pikiran gw: ini tugas gw, ini kewajiban gw, ini pekerjaan gw. Jadi ibu rumah tangga itu pilihan gw. Jadi gw yang harus cari penyelesaian, gw yang harus cari cara, cari solusi supaya “pekerjaan” gw ngga terlalu sulit, ngga terlalu melelahkan!

Gw ngga bilang gw bisa semua sendiri, ada kalanya gw harus dibantu dan pada saat gw merasa butuh bantuan suami, gw selalu minta langsung. Gw ngga berharap suami gw bisa baca pikiran gw, lalu super pengertian dengan nawarin pertolongan persis seperti yang gw inginkan. Dia bukan Tuhan yang tahu isi pikiran gw, dia juga punya kerjaan lain, juga bisa capek (kadang ngelihat dia tidur, gw suka kasihan gitu ngga tahu kenapa… tanda kurang minum air putih kali alias mellow *lol*). Ya kadang kalau tiba-tiba dia seperti bisa baca pikiran gw, gw anggap bonus aja deh dan berharap semoga ngga ketagihan.

Sementara segini dulu ya rangkuman cara gw nolong diri sendiri… kalau keingat yang lain, baru tulis lagi. Dan di bawah ini foto terbaru dua bocah yang bikin mommy-nya harus cari cara untuk menolong diri sendiri, supaya bisa jadi mommy yang “ramah lingkungan” dan tidak menyebabkan “polusi” untuk keluarganya. 🙂

gg

GG – (hampir) 3 tahun 4 bulan, udah lumayan susah difoto!

ff

FF – (hampir) 1 tahun 10 bulan

 *Btw, gw lupa mention kalau judul blog ini udah gw ganti dan gw samakan dengan alamat blog ini. Dari “Time Teaches Us How To Love” menjadi “Too Busy To Worry!” Simply karena gw benar-benar pengen ninggalin blog yang lama dan mulai dari awal lagi. 🤓