Cerita Ringan

Di kotak draft gw ada 26 postingan yang mager aja di situ. Cerita demi cerita tertulis setengah-setengah aja; dari staycation yang udah beberapa kali, sampai bocah kecil (will be 3 on 30th Jan, 2018) pun juga udah masuk sekolah Juli kemarin. Lalu ada juga cerita sedih yang cukup viral (dengan akhir yang positif, sepertinya) yang terus gw simpan sendiri.

Ngga ngerti kenapa motherhood ini bikin gw lumayan berubah. Waktu gw baca postingan gw yang dulu-dulu/sebelum-sebelumnya, ya ampun polos sekali dirikuu…, cerita lepas aja gitu, ngga pakai mikir bakal malu-maluin diri atau ngga. Tapi ya biar gimanapun, itu apa adanya diri gw pada saat itu, jadi biarpun ada yang memalukan atau bikin merinding karena cheesy, tetap gw ngga nyesel hahah.

Tapi tetap seperti yang gw bilang tadi, motherhood ini merubahku hiks. Ada semacam perasaan kalau gw ambil waktu untuk diri gw sendiri (contoh: ‘me time‘ atau luangin waktu di malam hari untuk nulis blog); gw bersalah. What is wrong with me? (mungkin diriku hanya lelah?)

Seolah-olah, gw harus terus selesaiin dulu pekerjaan rumah dan urusan yang berhubungan dengan anak-anak gw, baru gw boleh duduk dan melakukan hal untuk diri gw sendiri… sedangkan seperti yang (sebagian dari) kalian tahu, pekerjaan rumah dan urusan anak itu seperti lingkaran, ngga pernah selesai (kalau ngga pakai bantuan nanny/helper).

Itu sebabnya pada satu titik, gw sempat berpikir: apa udahan aja ya bloggingnya… daripada hati kebagi antara ngurus keluarga tapi mikirin harus ngeblog terus, udah gitu ditambah lagi satu kondisi, akhir Maret 2017 lalu, gw baru ganti laptop dari yang Windows ke Macbook, jadi pastinya masih bingung-bingung.

Bingung-bingung yang lain masih bisa gw atasin dan pelan-pelan teratasi, tapi ada satu yang masih gw bingung, yaitu cara resize foto. *diketawain anak-anak IT se-Indonesia Raya lainnya* Kalau di Windows gw pakai Photoshop yang key/serial numbernya dapat dari adik gw. Setelah gw ganti ke Macbook pastinya udah ngga bisa pakai lagi dan gw harus beli tapiii buat gw itu mahal, ngga rela cuma pakai buat resize foto doang.

Intinya adalah pada saat itu gw belum dapat solusi gimana cara resize foto di Macbook tanpa bayar apa-apa. Jadilah itu salah satu alasan gw nunda ngeblog. Udah gitu juga kelupaan terus untuk nanya mbah gugel. Jadi semua jalan gitu aja.

Tapi emang ya (lagi-lagi), ‘alam semesta’ seperti ngga ngijinin gw pergi, HOT TOPIC yang belum lama ini *kalian tahu kan yang mana*; blog post yang ditulis seseorang itu, bikin gw ngerasa sedikit terganggu. Terganggu bukan karena keputusan yang udah dia buat (karena emang itu hak asasi dia), tapi karena dia pikir cuma karena keputusan dia tepat, dia bisa mengejek keputusan orang lain, orang Indonesia to be exact. Ada yang memilih diam, nontonin aja, kalau gw milih komen aja biar lega. Gw terima kok apapun balasan komen dia, asalkan gw tetap humble *prinsip hidup*, gw ngga akan sakit-sakit amat sama komentar baliknya yang mungkin akan %$^@%*@#(%^&^&*&(**()#@!!!. Tapi ternyata ngga separah yang gw bayangkan, masih cukup kuat gw bacanya. (tapi yang ke orang lainnya sangat menunjukkan betapa dia belum siap sama pro kontra kehidupan.) (gw tahu topik ini dari insta story blogger lain, gw curiga yang diomongin adalah seseorang itu, jadi gw cari tahu dan ternyata emang benar).

Gw mau bahas sedikit (lumayan banyak sih) tentang postingan orang tersebut ya…

Gw sebenarnya sangat menghormati keputusan dia… lah gimana ngga menghormati, gw juga ada kok tante yang childfree, malahan sebelumnya beliau emang ngga mau nikah, ngga ada tuh dari keluarga yang mandang sebelah mata ke beliau, apalagi kasih “nasehat-nasehat”. Hidup tetap berjalan seperti biasa.

Tapi emang jalan hidup ngga ada yang tahu, beliau ternyata bisa ketemu orang yang sama-sma ‘klik’ gitu dan mereka putusin untuk menikah awal tahun lalu (setelah dekat beberapa tahun)!! Di usia tante gw yang ke 47 tahun dan suaminya 48 tahun. Mereka sama-sama masih single, belum pernah menikah). Dan bisa dipastikan mereka akan terus childfree mengingat umur tante gw. Adopsi anakpun sepertinya ngga karena suatu alasan. Dan ngga masalah, hidup tetap jalan seperti biasa, beliau juga ngga koar sana sini memberikan ‘seribu’ alasan kenapa dia ngga mau punya anak. 

Ada juga kerabat gw yang lain yang benar-benar single sampai sekarang (umur 40 tahun), dia ngga adopsi anak, tapi dia punya anak-anak asuh di Papua. Dia pun ngga koar-koar kiri kanan menjelaskan kenapa dia ngga mau menikah apalagi punya anak. Karena dia percaya diri dengan keputusannya dan orang lain menghormati. Kalaupun ada yang membicarakan di belakang, ya ada sebabnya kan mereka ada di belakang? *mengutip dari suatu quote*.

Si seseorang tersebut bilang gw missed the point (setelah baca komen gw), fyi, gw yakin gw ngga missed the point. Kenapa? Karna justru saking gw ngerti poin-poin yang dia tulis (yang secara umum ditujukan untuk mereka yang ingin memiliki anak – atas kemauan sendiri), gw bisa nanya gimana dengan mereka yang hamil karena kecolongan dan diperkosa? Apa harus kita suruh mereka aborsi sedangkan hukum Tuhan melarang itu.

Cuma dengan nanya gitu gw langsung dimasukin ke SQUAD “CUMA CONCERN SOAL AGAMA & MISSED THE POINT”. Cuma karena gw menyebut kata Tuhan dan ngga bahas lima poin yang dia tulis; terdapat di dalamnya sbb: dunia sudah terlalu banyak orang, lapangan pekerjaan susah, bayaran rendah, penyakit, makanan sehat, air bersih, pasar becek, harga sawi di carrefour, dan lain-lain.

Buat apa gw bahas semua itu kalau ujung-ujungnya gw justru akan terlihat ‘sok berani’ dan menggurui? Jadi gw hanya menanyakan yang berkaitan dengan poin-poin tersebut, yaitu bagaimana dengan mereka yang hamil karena kecolongan dan diperkosa?!

Dan tahu ngga, menjawab komen orang lain yang berkaitan dengan kebobolan, dia dengan entengnya jawab ANGKAT RAHIM. Dia kira angkat rahim itu seperti pencet jerawat? Dia kira ngga ada resiko kematian? Ngomong sama teman gw yang kehilangan mamanya karena hal tersebut!!!

Yang bikin lucu adalah dia kira lima poin yang dia tulis ngga pernah terpikirkan oleh orang lain, dan nulis gini: “Sok atuh mau punya anak, tapi ya inget aja LIMA  poin penting yang kusampaikan tadi. Zaman kita hidup ngga segampang zaman ortu kita hidup, pun zaman anak2 Cici besar nantinya gak segampang hari ini. Jadi tolong pertimbangkan LIMA poin ini untuk anak2 cici ke depannya yah.”

LALU SETELAH BACA ITU APA GW AKAN TERDUDUK DENGAN LEMAS DAN BERKATA, “YA AMPUN APA YANG TELAH KULAKUKAN?? AKU CEROBOH SEKALI TIDAK MEMIKIRKAN MASA DEPAN SEPERTI ITU, AKU BERSALAH, AKU BERSALAH KEPADA ANAK-ANAKKU… APA YANG HARUS KULAKUKAN SEKARANG?? *lalu pingsan*. Ngga.

Karena sebagai orangtua gw tahu jangankan lima poin yang dia sebutkan itu, yang lebih jauh dan lebih dalam aja udah terpikirkan. Dan jangan mulai tanyain tentang orangtua yang buang anak segala macam ya, di dunia ini ngga semuanya berwarna putih. Banyak juga orang sakit jiwanya. Jangan mengabaikan yang positif dan cuma mau fokus ke negatif aja KECUALI ADA YANG BISA KAMU PERBUAT UNTUK MEMBANTU. 

Cuma karena di luar sana banyak orang brengsek, bukan berarti semua orang pasti brengsek juga. Mengutip lirik  lagu Basofi Sudirman:
TIDAK SEMUA LAKI-LAKI IBU-IBU BERSALAH PADAMU!

Dan referensi lagu lain yang harus dia dengar:
ROW-ROW ROW YOUR BOAT… LIFE IS BUT A DREAM.
Hidup hanya sementara, hanya sebentar, kita ngga hidup abadi di dunia ini.

Satu lagi, omongan dia tentang zaman dulu, zaman sekarang dan zaman nanti. 

Pendapat gw adalah setiap jaman ada tantangannya sendiri. Sekarang ada kesusahan, bukan berarti dulu tuh enak. Coba tanyakan ke orangtua kulit hitam yang tinggal di Amerika dari sejak mereka lahir? Apakah mereka lebih suka di zaman mereka kecil atau sekarang? Kejauhan? Coba tanya orang-orang Indonesia yang hidup di zaman penjajahan.

Atau kalau bahas mereka masih kejauhan…, cobalah tanya gw, lebih suka tinggal di jaman gw kecil dulu waktu masih sering dilecehkan secara verbal oleh orang asing di jalan (cuma karena asal usul ras gw yang mereka simpulkan dari fisik gw) ataukah gw lebih suka jaman sekarang? Atau apakah gw suka zaman waktu hampir setiap hari nyokap gw melakukan verbal abuse, bahkan physical abuse ke gw? (yang setelah punya anak gini, gw curiga mungkin dulu nyokap gw mengalami yang namanya Postpartum Depression).

Zaman dulu banyak bikin nangis dan gw ngga meratapi karena memang itu yang membentuk diri gw di zaman sekarang. Zaman sekarang malah gw bisa lebih strong karena selain memang fisik pun gw udah lebih besar dibanding waktu gw kecil (YA IYALAH!), pola pikir gw juga terbentuk ke arah yang lebih baik. Semua semata-mata karena gw ngga mendendam dan meratap! Dan hal itu membawa gw ke momen turning point gw di tahun 2004! Gw yang ada di posisi terendah di hidup, meminta pertolongan, lalu hati gw seperti terjamah, ada perasaan bahwa gw udah aman, lalu gw meyakini sesuatu. Sejak itu hidup gw membaik dan terus membaik (termasuk hubungan gw dengan nyokap gw).

Tantangan mah pasti masih ada, ngga mungkin ngga ada, itu sebabnya daripada saling menakuti dan bersikap pesimis, mending kita saling memberi semangat. Lebih bagus lagi kalau bisa saling bantu.

*****
Anywayyyy, Di mulai dari situ, selanjutnya malah jadi blogwalking ke blog-blog lain. Proses blogwalking ke blog-blog lain tersebut, ngebalikin ingatan akan passion awal gw dulu nulis blog (2011, waktu gw mulai nulis segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan pernikahan gw).

Jadi sekarang, gw mau mulai lagi dengan cerita ringan ya…

Kemarin (18 Nov, Sabtu) gw ke rumah ortu gw, nenek gw juga tinggal di sana.

Btw bahkan untuk ke rumah ortu gw pun bisa dua bulan sekali karena (you have no idea) betapa hecticnya keseharian gw. Bukan gw ngga mau pakai helper ya, gw sempat pakai loh selama kurang lebih tiga bulanan gitu, si mbak kerjanya bagus, ngga reseh, suka ngobrol, tapiii sering telat… kalau gw emang di rumah terus sih ngga kenapa-napa telat, tapi sering banget bentrok dengan jam gw harus jemput GG. Dan itu waktu FF belum mulai sekolah loh, kalau waktu itu FF pun udah sekolah juga, lebih ribet lagi ngatur jamnya. Karena GG sekolah jam 8 pagi, FF jam 10 pagi. Dan nyari helper lagi di apartemen ngga segampang itu sih, mostly bentrok di waktu (karena rata-rata mereka udah megang beberapa unit lain juga). 

Balik lagi ke rumah ortu gw itu, jadi di sana Si GG mainin buku yang ada di rak nenek gw, GG turunin salah satu buku dan taruh ke sofa depan nenek gw. Nenek gw kan ngga suka kalau barangnya diberantakin, jadi dia bilang ke GG untuk balikin lagi. Karena GG (dan FF juga sih) sangat suka buku, dia ngga dengerin nenek gw, nah karena ngga didengerin, nenek gw mulai nakut-nakutin GG, kurang lebih kayak gini: “Ih jangan main, ada (binatang) C loh… iiihhh ada C loh.”

Habis itu kan gw bantu GG balikin ke rak itu buku, eh malah gantian si FF yang ambil buku itu lagi… nah si nenek gw ngomong gitu  lagi: “Iiihh ada C loh… jangan mainin, ada C lohh….”

Pasti pada bingung kan maksud gw apa dan C itu apa?!

C itu ada binatang yang bikin gw phobia parah. Sangat parah sampai gw cuma berani tulis inisial depannya aja di sini atau kadang gw pakai bahasa inggrisnya ‘w***’. Intinya bukan binatangnya itu… tapi sekarang gw ngerti kenapa gw bisa phobia banget sama binatang itu!

Kalau gw ingat balik lagi, gw itu kan dari umur balita sampai kelas 3 SD diasuh sama nenek dan tante gw, gw punya kecurigaan kalimat yang dia pakai untuk nakutin GG dan FF itu (yang pakai binatang C itu) PASTI sering dia pakai juga ke gw dulu dan masuk ke alam bawah sadar gw, sampai jadi phobia.  Karena penjelasannya apa kok gw bisa spesifik takut sama binatang itu? Sedangkan ular yang besar aja gw ngga takut? *sok, padahal belum pernah pegang langsung, eh tapi at least gw ngga takut lihatnya.*

Setelah gw dapat jawaban atas phobia gw (biarpun bukan jawaban langsung tapi sangat gw yakini), gw jadi mikir, gw sendiri juga kalau udah kehabisan akal, sering nakut-nakutin GG dan FF pakai binatang, tapi binatangnya semut, kadang spider sih… gw jadi ngerasa bersalah sendiri dan mikir, gimana kalau mereka gede nanti malah phobia sama semut/spider? Dan gw putusin perlahan-lahan ngga mau lagi deh nakut-nakutin/ancam pakai binatang.

Itu cerita kemarin… Hari ini (19 Nov, Minggu) gw juga ada cerita ringan.

Tadi subuh, gw mimpi… GG udah ngga ada lagi (kalian pasti tahu maksud gw). Gw lupa di dalam mimpi itu apa penyebab GG ngga ada lagi, tapi gw ingat banget perasaan kehilangan GG itu. Gw ingat gw seperti ngga bisa nafas. Gw ingat gw takut gw juga susah hidup lagi (badan gw masih aktif tapi seperti jiwa gw udah hampir pergi), di mimpi itu gw lihat ke Ryan dan gw panik karena gw tahu sebagian jiwa gw udah mau pergi, gw literally akan gila dan gw merasa kasihan sama Ryan. Sambil gw ngerasain kayak gitu sambil gw ngga bisa nahan kesedihan juga. Gw bilang sama Ryan, harusnya kita jangan kasih nama panggilan Gwen dengan Gwen-Gwen karena dengar nama Gwen ngga menyakitkan tapi dengar nama Gwen-Gwen walaupun cuma dalam hati, entah kenapa hati kayak dicabut.

Mimpi itu super real, bahkan ditengah-tengah kesedihan di dalam mimpi itu, gw berdoa dan gw sangat ingat doa gw itu: Tuhan, tolong pertemukan aku dengan GG lima menit aja dan aku pasti ngga akan sesedih ini lagi….” SEKETIKA ITU JUGA, gw bangun dari tidur gw, tadi subuh. Dan GG yang posisi tidur biasanya di pojokan (FF ditengah-tengah antara gw dan GG), benar-benar ada di samping gw, bahkan dia tidur di bantal gw (mungkin juga karena dia rada nemplok di gw, gw jadi mimpiin dia). Anyway, gw yang masih kebawa perasaan di mimpi, ngerasa bahagia banget, puji Tuhan banget itu cuma mimpi. Karena beneran gw bisa ngerasain gw ngga mungkin bisa bangkit lagi. Saking gw ngerasa bahagia banget karena itu cuma mimpi, gw sampai ngomong, literally keluarin suara, “terima kasih Tuhan, terima kasih Tuhan”.

Karena mimpi itu, hati dan mata gw terbuka untuk mempersiapkan diri “kehilangan” mereka suatu hari nanti, bukan dalam artian meninggal, tapi ketika mereka dewasa nanti. Mereka akan punya dunia sendiri, bukan lagi gw yang menentukan. Akan ada orang-orang di hidup mereka yang gw ngga kenal. Juga mereka (mungkin) akan menikah dan punya keluarganya sendiri. (Walaupun udah ngga terhitung berapa kali gw mikirin tentang semua yang berhubungan dengan anak-anak gw di masa depan, tetap, gw ngga tahu kapan gw akan siap) Tapi setelah mimpi itu, ada sesuatu yang menguatkan gw.

Dan IMHO, setiap detik perjalanan orang tua (yang ngga berhenti berharap dan berdoa kepada Tuhan), setakut apapun orangtua tersebut, akan ada hal-hal yang terjadi dalam hidupnya, yang sebenarnya adalah pertolongan.
Mungkin bukan lewat keajaiban-keajaiban besar, mungkin cuma sesimpel mimpi.  
Karena setiap peristiwa yang memberi makna tertentu – yang di dalamnya ada sesuatu yang bisa dijadikan pelajaran – bahkan memberikan solusi atas suatu beban – gw yakini itu adalah asalnya dari Tuhan. Gw yakini itulah pertolongan Tuhan dan gw syukuri. 

😀

P.s: tentang resize foto di Macbook, kemarin gw dapat jawabannya yaitu gw bisa resize lewat Preview (app yang udah ada di Macbook langsung). Caranya: (mungkin cara yang akan gw jelasin di bawah ini agak ribet, jadi kalau di antara kalian ada yang lebih ngerti dan ada solusi lain boleh jelasin ke gw… thanks a lot.)

Cara gw edit di Preview:
Awalnya gw klik logo Preview, ga terjadi apa-apa, jadi gw masuk ke folder Photos, buka salah satu foto dan double klik untuk nemuin tombol “open with (Preview)”, tapi ngga ada option itu, yang ada “open with Moments”, lalu gw coba copas foto tsb ke Finder, di situ gw ulang lagi double klik foto tersebut dan nyari “open with Preview”, ternyata ada option itu dan bisa kebuka dan benaran juga gw bisa resize ukuran foto di situ. Jadi intinya adalah foto yang ada di Photos ngga ada option “open with Preview”. Foto-foto yang lokasinya di Finder baru ada option “open with Preview”.

Sekian dan terima kasih. 😀

12 thoughts on “Cerita Ringan

  1. Ringan banget ya Vin bahasannya.. Saking ringannya gw sampe mewek baca cerita terkhir.. *pentung

    Hayukk kembali aktif ngeblog.. Anda senang, saya senang..hahaha.. Bacaan makin banyak.. Hurrayy.. Gpp lah, mesti malah Mama2 itu punya Me Time.. Jgn merasa bersalah, sebagai pecinta Me Time saya mendukung anda.. Fighting

Really appreciate your comment :) Thank you!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s