Cerita Kelahiran si Bungsu (part 2/2)

Melanjutkan postingan PART 1 yang gw tulis 19 BULAN LALU tentang cerita kelahiran FF.

Jadi, Epidural atau ILA?

Setelah proses melahirkan selesai, gw masih dibiarin selama dua/tiga jam di ruang melahirkan itu. Mungkin untuk jaga-jaga. Nah selama dua/tiga jam itu, gw masih belum boleh makan atau minum, waktu gw tanya kenapa, susternya bilang takut gw muntah. Dan ketika gw udah diijinin minum (belum boleh langsung banyak), berapa lama kemudian benar aja gw muntah. Sampai tiga kali!
Continue reading

My Drama Queens

Hihi ini udah postingan ke-tiga yang gw tulis, setelah balik dari jeda lama… udah ngga stop di postingan ke-dua lagi. Hooraayy… 😀

Salah satu hal yang membuat gw ingin melahirkan secara “normal” (pastinya kalau diberi kelancaran) adalah karena gw orangnya suka penasaran.

Salah satu hal yang bikin gw penasaran waktu hamil adalah kapan waktu yang Tuhan tentukan untuk anak-anak gw lahir, dan kenapa di hari itu ^_^. Biarpun ngga semua hal harus ada maksud “terselubung” dan Tuhan “bilang” pengen aja di hari tersebut, gw tetap puas.

Untuk GG dan FF, sebenarnya gw rada mendapatkan kejutan, biarpun bukan sesuatu yang besar, gw tetap merasa seperti Tuhan berkomunikasi dengan gw! (rada lebay ya, tapi ngga papa, kan? Ngga bikin orang lain rugi, kan?)

Yang gw maksud adalah seperti di bawah ini:

GG keluar di minggu ke 38
FF keluar di minggu ke 39
(di dua kehamilan itu, gw pakai aplikasi kehamilan yang sama, dengan mengisi tanggal ‘hari pertama haid terakhir’ yang tepat *karena memang setiap kali haid, gw catat tanggal hari pertamanya setiap bulan ke note*)

GG lahir jam 11-an siang
FF lahir jam 11-an malam

GG lahir di hari Kamis
FF lahir di hari Jumat

GG lahir di awal bulan, menjelang akhir tahun (01 Agustus)
FF lahir di akhir bulan, pada awal tahun (30 Januari)
Perbedaan umur mereka pas 1,5 tahun (eh, kurang sehari deh) / 18 bulan kurang sehari / 547 days to be exact!

GG lahir menjelang Idul Fitri 1434 H
FF lahir menjelang CNY/Imlek 2566

Proses kelahiran GG 12 jam-an
Proses kelahiran FF 2 jam-an
Sama-sama di pembukaan 3-4 cm ketika sampai RS.

Sama-sama keluar hanya setelah beberapa kali push (lama di tunggu pembukaan komplit). Dan sama-sama ada lilitan 1x di leher.

Sama-sama punya golongan darah yang sama dengan daddy mereka. Padahal golongan darah gw umum banget yaitu O+.

Karena golongan darah mereka sama-sama beda dengan gw, itu juga yang menyebabkan badan mereka sama-sama kuning/Jaundice karena angka bilirubin yang semakin meningkat di hari ke-dua, dan semakin parah di hari ke-tiga kelahiran dan harus disinar biru (fototerapi).


Untuk sifat dan sejenisnya:
GG, awalnya punya kecenderungan shy, ngga masalah main sendiri. Walaupun kadang bisa tiba-tiba nyapa orang-orang asing di dalam lift (“Hi guys…”) dan orang-orang yang pakai T-shirt dengan karakter kartun yang dia tahu, pasti kena panggil.

Belakangan ini, dia udah ngga takut orang lagi, contohnya waktu main di tempat yang ada playgroundnya, dia bisa suruh bapaknya anak lain untuk kasih aba-aba karena dia mau turun dari slide. Buat yang penasaran, dia ngomongnya gini: “uncle..uncle.. on your mark, get set, go..” Karena awkward, unclenya cuma ngomong, “one two three…” eh dia ngotot dong suruh ngomong: “on your mark, get set, gooo…” pas udah diturutin, baru dia turun. Dan ulang kejadian itu “1000x” dengan orang-orang yang ada di dekat dia waktu itu.

FF, punya kecenderungan galak. Teriak kencang, nangis kencang, dan kalau ada yang deketin mommynya tiba-tiba, dia akan datang dengan cepat dan dorong orang tersebut sampai lepas dari badan mommynya. (GG dan daddynya yang paling sering jadi korban). Dan belakangan ini, mommy-daddynya ngga boleh nyanyi bareng atau ketawa bareng. Bisa teriak kencang dia. Ampun deh.

Waktu masih rada kecilan, dia berani samperin sambil lari kecil ke orang-orang asing di mal yang manggil dia karena gemas (bahaya!), tapi udah gedean gini, rada penakut, kayak mematung gitu kalau didekatin orang. Mata tetap lirik-lirik melotot tapi badannya ngga berani gerak. Baru setelah gw dekatin, dia berani bergerak…, berusaha manjat badan gw dan setelah gw gendong, buru-buru sandarin kepalanya ke bahu gw sambil lanjut lirik melotot ke orang tersebut.

Kalau ketemu sodara atau teman-teman gw juga gitu, harus tunggu kurang lebih satu jam, luntur takutnya dan jadi liar, lari sana sini, teriak-teriak girang, nyanyi-nyanyi girang;  main sama cicinya dan anak-anak seumuran.

Ya namanya juga anak kecil ya, masih polos. Tapi yang membuat gw merasa lega adalah mereka gampang banget dibujuknya kalau lagi ngambek, tapi dengan cara yang berbeda.


Kalau ngambek:
GG, cara gw bujuk harus dengan soft dan seperti menuruti maunya dia. ‘Seperti’ loh ya, bukan benar-benar menuruti. Seolah-olah gw sangat mengerti dia, seolah-olah dia sedang curhat dan gw pendengar yang baik  (yang ngga perlu nasehati panjang lebar, cuma “hmm…hmm.. iya.. iya tahu…” pun cukup). Dan dia akan melembek sendiri.

FF, boro-boro bisa dilembutin, malah tambah parah. Triknya beda banget sama cicinya…, yaitu harus bercanda. Harus ceriaaa dan gw harus terlihat heboh bercandanya ke dia. Pasti langsung lupa sama ngambeknya.


Lalu bagian dramanya di mana?
Yang gw maksud dengan drama adalah seperti ini:
(gw rangkum beberapa dari sejak mereka kecil)

GG:
Mommy keluar buat buang sampah, nangis.
Kebangun tidur, ngga ada Mommy di sebelahnya, nangis.
Lihat Daddy pijat Mommy, nangis.
Mommy masuk kamar dan tutup pintu, nangis.
Mommy bilang, ‘Mommy is angry’, nangis.
Sandalnya ketinggalan di bawah meja resto, heboh panik minta diambilin.
Mommy bilang, FF ngga ikut (jalan-jalan), ngamuk dan setengah mati tarik stroller FF.

Dan FF:
Strollernya ditarik-tarik gitu, nangis.
Kejambak rambut sendiri, nangis.
Dengar suara sendiri (yang agak kencang semacam bersin) – kaget, nangis.
Ngantuk, nangis.
Pup, nangis.
Panas, nangis.
Cicinya nangis, ikut nangis.
Nengok ke kiri/kanan dan lihat ada daddynya – kaget, nangis.
Mommy masuk toilet, nangis.
Mommy duduk di depan meja dapur dan buka laptop (dengan maksud ingin update blog), nangis.

Tapi yang buat gw salut terhadap FF adalah ketika dia ngga enak bodi, sakit panas, atau muntah (yang untungnya dia bukan tipe anak yang suka muntah, so far cuma pernah muntah sekali, itupun sedikit) dan DIA NGGA NANGIS, ngga rewel. Untuk hal-hal tertentu dia super tough.

Sedangkan yang gw bangga dari GG adalah dia sayang adiknya. Dia suka bagi makanan ke FF tanpa disuruh, kalau gw bilang adiknya ngga usah ikut pergi, atau ketika selesai makan di resto, gw dan Ryan sengaja tinggalin FF di baby chair tanpa basa basi, si GG ngeh dan teriak-teriak manggil adiknya sampai nangis. Begitu udah bawa adiknya, dia pegang tangan adiknya dan pastiin adiknya “aman” di stroller. So sweet!

Dan namanya anak kecil ya pasti ada lah rebutan atau sejenisnya, tapi belum pernah sampai saling pukul atau sejenisnya (jangan sampai deh), juga masih tergolong gampang dibilanginnya dan bisa disuruh untuk bilang “sorry” dan kiss/elus sayang kepala satu sama lain.


Bangga-Banggain Anak

Gw nulis gini bukan mau pamer dan bangga-banggain anak, tapi emang gw BANGGA dan itu ngga tabu dong. Memangnya anak tercipta untuk dicari-cari kesalahannya? Dan ngga boleh dipuji?

Jujur aja ya, kadang gw suka merasa risih kalau lihat emak-emak saling “jelek-jelekin” anaknya, semacam tabu gitu kalau membanggakan anak. Yang sekalinya si Anu kasih tahu tentang “pintarnya” anaknya sperti apa, tiba-tiba aja ada yang ngomongin si Anu dari belakang dengan ditambahi bumbu “padahal anaknya biasa-biasa aja”. Si Anu bukan gw, gw itu saksi bisu.

Maksud gw biasa aja kali kalau berteman. Jangan banyak drama. Mau curhat tentang anak, mau bangga tentang anak, cerita aja apa adanya. Dan dengarin juga apa adanya. Ngga usah ada sirik atau malah senang di belakang.

Namanya anak, beda-beda kali perkembangannya. Dan pintarnya juga beda-beda. Termasuk perkembangan fisik juga beda. Waktu anak masih kecil berlomba-lomba gemukin anak, kenapa ngga sekalian aja emak-emaknya yang berlomba-lomba siapa yang paling gemuk! Atau ketika ada emak yang ngga mempermasalahkan anaknya gemuk atau biasa aja, malah jadi tersangka dalam kasus “Ngga Kasih Makan Anak” *curcol*.

Btw, kalau lomba emak-emak gemuk, gw bisa jadi salah satu calon juara kali, beberapa bulan sejak FF lahir, ini torso dan pipi ikut melar. (yang kalau ngga segera atur pola makan dan olahraga teratur, bisa merambat ke tangan dan kaki) *curcol lagi*.

Balik lagi ke soal bangga terhadap anak…

Termasuk juga anak-anak gw, banyak hal yang bikin bangga, tapi ada juga yang bikin gw beban pikiran. Tapi bukan hasil dari gw bandingin mereka dengan anak-anak lain. Cuma karena memang gw (dan Ryan) yang kadang suka overthinking dan juga merasa ngga akan terlalu repot kalau seandainya hal-hal yang jadi beban pikiran itu  udah bisa mereka lakukan.

Seperti apanya, nanti gw tulis di postingan tersendiri. Sementara udahan dulu, udah terlalu panjang postingan ini. 🙂

Cerita Kelahiran si Bungsu (1/2)

Sebelum gw mulai cerita, gw mau minta maaf dulu ke teman-teman yang suka baca blog ini (dan juga ke diri gw sendiri) karena lama banget baru bisa update. Gw ngga ngerti gimana caranya “stay at home mom” lain bisa rawat anak sambil tetap bisa update isi blog. Bagi gw kesempatan duduk di komputer seperti sekarang ini tuh langka banget (dan sekarang ini jam 4 pagi). Semau-maunya gw dan emang gw sangat mau update blog, bahkan udah buanyaaaakkkk banget cerita yang tertimbun di notes handphone, tetap gw kesulitan nyari celah waktu buat nulis. (note: postingan ini udah masuk keluar draft beberapa kali.)

Mungkin ada yang tanya, setelah lahir si bungsu, apa gw masih andalin diri sendiri atau udah pakai jasa baby sitter atau PRT? Jawabannya adalah gw masih andalin diri sendiri, tapi sejak si bungsu masuk satu bulan, gw mulai pakai jasa PRT.

Awalnya gw masih ngga mau, tapi Ryan lebih realistis. Biar gitu, gw masih belum nyaman dengan ide PRT tinggal bareng di sini… jadi gw hire PRT pulang hari. Datang jam delapan pagi, selesai sekitar jam 9.30 sampai jam 10 pagi. Dan… thank God, gw merasa sangat terbantu.

Tadinya, karena gw ngga mau PRT yang ikut tinggal dalam, gw dikasih dua pilihan: PRT yang kerja dua jam terus pulang, atau yang kerja duabelas jam (dari jam 8 pagi sampai 8 malam); gw pilih yang kerja dua jam aja. Dan keputusan gw tepat banget… PRT yang gw pilih ini, kerjanya rapi… dan ngga malas-malasan.

Dan… di mana-mana kalau ada kelebihan pasti ada kekurangan. Kekurangan PRT ini adalah, selain kerja di unit gw, dia juga kerja di empat unit lain. Seperti gw bilang sebelumnya, dia udah kerja di tempat gw dari sejak si bungsu umur satu bulan dan sekarang si bungsu udah empat bulan (YES! EMPAT BULAN), nah tiga bulan dia kerja di gw, udah minta tiga kali ijin ngga datang karena sakit dan empat hari untuk pulang kampung.

Soal dia sakit, gw percaya itu bukan alasan dia, bayangin aja, kerja di lima tempat, kerja fisik, gimana ngga gampang sakit. Dan parahnya lagi, dia ngga pernah sarapan. Gw pernah tanya sama dia, biasa pagi sarapan apa? Dia jawab pagi ngga pernah sarapan, siang jam satu baru makan di kantin apartemen. Lebih kasihannya lagi, tiga bulan sebelum dia kerja di tempat gw, dia baru melahirkan, tapi bayinya ngga selamat, *sorry,* tempurung kepalanya ngga ada *sorry*. Dia ngga tahu, karena selama hamil ngga pernah USG. Sedih dengarnya, tapi dari cara dia cerita ketahuan orangnya tough.

Hmm, di sisi lain, masalah dia sakit terus itu (flu, pilek, batuk, pusing parah, dan lain-lain), bikin gw jadi berpikir masih mau dia lanjut kerja di tempat gw atau ngga. Masalahnya, biarpun dia sering ijin kalau sakit, tapi dia juga tetap masuk biarpun batuk pilek. DAN DIA SERING MEGANG PIPI Gwen2 dan adiknya. Gw serba salah antara suruh dia jangan pegang tapi takut dia tersinggung, kalau ngga suruh, gw takut mereka ketularan. Gw masih dilema, tapi 80% hati gw bilang setelah lebaran, gw ngga mau lanjutin lagi.

BTW INI KENAPA INTRO-NYA PANJANG BANGET YA? Ok deh, gw mulai cerita kelahiran si bungsu sebelum jadi lebih panjang lagi.

Di mulai dari tanggal 25 Januari 2015 (Minggu) jam tiga pagi; gw merasakan kontraksi. Karena udah pengalaman tahu gimana rasanya kontraksi dari Gwen2, gw yakin itu kontraksi mau melahirkan. Di samping itu, jantung gw dagdigdug banget… gw tahu ngga lama lagi! Tapi di sisi lain, ngga ada bloody show sama sekali. Bikin gw bertanya-tanya apakah kontraksi mau melahirkan selalu harus dibarengi dengan bloody show? Atau memang ngga semua proses kelahiran normal dimulai dengan bloody show?

Gw jabarin jam-jam kontraksi yang gw rasain: 03.00, 03.25, 03.38, 03.44, 04.07, 04.11, 04.15, 04.30, 04.34, 04.54, 05.11, 05.28 lalu berhenti dan gw pergi tidur. Jam 05.54 mulai sakit lagi – berhenti, gw coba tidur lagi. Jam 08.34 mulai lagi, 08.52 dan setelah itu kontraksi stop gitu aja. Besok-besoknya juga ngga datang lagi.

Sampai akhirnya tanggal 30 Januari 2015 (Jumat) – lima hari kemudian – kontraksi itu muncul lagi… tapi, *sorry* pas pipis ngga ada bloody show sama sekali, cuma ada setitik merah di panty. Literally setitik. Beda banget dengan waktu Gwen2 dulu, yang waktu pipis seperti air ngalir warna merah. Makanya itu yang bikin gw ragu apa benar udah waktunya? Tapi kontraksinya benar-benar real.

Ini jam-jamnya:

17.09, 17.26, 17.39, 18.12, 18.42, 18.56, 19.03, 19.14, 19.38, 19.50, 20.20, 20.41, 20.49

Waktu kontraksi pertama kali (tanggal 25 Januari), besoknya, hari Senin, gw sempat minta tolong nyokap buat nginap, supaya kalau gw ke RS, dia yang jaga Gwen2. Nah karena kontraksi ngga datang-datang lagi, hari Rabu sore nyokap pulang. Jumat malamnya dia datang lagi dan kali ini gw beneran harus ke RS, walaupun gw ngga ngalamin bloody show.

Jam 7-an gw berangkat ke RSIA Grand Family PIK (karena Dr. Ronny lagi praktek di sana), sampai di sana, setengah sembilan-an. Prosesnya seperti mau check up biasa. Tapi karena gw bilang udah kontraksi dan sebagainya, gw dikasih masuk ke ruangan dokter duluan (banyak yang antri).

“CEK DALAM”

Sampai di dalam, basa basi, suster siapin gw ke tempat tidur untuk siap-siap di “cek dalam”, dalam hati gw, gw udah lupa tentang cek dalam, ngga kepikiran sama sekali! Dan waktu Dr. Ronny samperin gw, dia dengan pedenya bilang ke Ryan, ini mah masih besok, belum pucat mukanya, masih bisa senyum-senyum tuh.

Dan gw rasa dia benar, soalnya kontraksi gw sakitnya ngga sedahsyat waktu Gwen2. Dan waktu gw lihat Dr. Ronny pasang sarung tangan biru, semua memory proses kelahiran Gwen2, terbayang-bayang lagi di ingatan. Gw takut banget… dan tegang banget… dan waktu akhirnya berhasil dicek dalam, muka Dr. Ronny langsung berubah. Dia bilang, ini bentar lagi, udah lunak banget. Udah pembukaan 3 menuju 4. Persis dengan waktu Gwen2 mau lahir, gw ke RS udah pembukaan 3 menuju 4.

Setelah itu Dr. Ronny tanya gw tinggal di mana dan tahu ngga gw jawab apa? Gw jawab, “ADUH DI MANA YA, LUPA…” gw beneran lupa karena rasanya sakit banget cek dalam itu… 😥 diketawainlah gw sama mereka. Dan Ryan yang jawab akhirnya. Maksudnya dia tanya tempat tinggal, dia mau nyuruh siapin baju untuk nginap dan lain-lain. Tapi ternyata gw udah taruh koper ke mobil dari waktu kontraksi pertama datang.

Proses selanjutnya, Ryan pesan kamar dan lain-lain. Sedangkan gw langsung ke ruang bersalin. Gw lebih suka suster di Grand Family karena lebih ramah. Bukan berarti Family Pluit ngga ramah, tapi ini jenis ramahnya beda *ngga penting banget dibahas*. Seperti sebelumnya, ada suster yang datang untuk pasang alat CTG ke perut gw untuk mantau baby. Dan seperti waktu Gwen2 dulu, detak jantung si bungsu juga ngga terlalu kuat jadi gw harus terus inhale-exhale. Juga pasang oksigen. Ada suster lain yang datang untuk tanya-tanyain riwayat sakit dan sebagainya, ada lagi suster yang pasang infus.

EPIDURAL/ILA

Dan sekali lagi, gw minta pakai Epidural. Tapi Dr. Ronny saranin gw pakai ILA, karena ILA cuma perlu satu kali suntik tanpa perlu pasang selang di punggung. Sedangkan Epidural harus dipasang selang, gunanya untuk menambahkan dosis obat yang habis setelah 2-3 jam dengan cara disuntikkan ke dalam selang itu. Efek ILA bisa bertahan 6 jam lebih katanya.

Waktu di Family Pluit, gw suntik Epidural masih di tempat tidur observasi… tapi kali ini, gw langsung dibawa ke ruang proses melahirkan. Yang gw rasakan setelah disuntik ILA adalah kaki yang benar-benar mati rasa. Awalnya masih bisa gerak sedikit-sedikit, tapi belakangan benar-benar mati rasa. Selain itu ngga ada keluhan apa pun. Beda banget dengan waktu gw disuntik Epidural dulu… yang rasanya badan dingin banget, udah pakai selimut masih dingin banget dan mata gw seperti minus, ngga bisa fokus sama sekali (untungnya setelah dosis hilang, dan melahirkan, semua efek samping itu hilang sama sekali).

LAHIR

Kurang lebih dua jam gw di situ, jam 11-an malam Dr. Ronny masuk ke ruang bersalin. Udah waktunya melahirkan, pembukaan gw udah lengkap. Dan emang biarpun gw pakai ILA, tapi “ketidaknyamanan” itu masih terasa. Ngga seperti kelahiran Gwen2, kali ini suster ngga bantu dorong perut gw pakai kain, tapi gw yang disuruh ngeden sendiri. Gw lupa gw ngeden berapa kali, ngga terlalu lama yang jelas, si bungsu pun keluar jam 23.25 WIB. Dengan lilitan satu kali tali pusat ke leher (sama kayak Gwen2 dulu). Oh ya, begitu keluar, dia langsung nangis kencang. Beda dengan Gwen2 yang harus dipukul sedikit pantatnya baru nangis.

Keseluruhan proses persalinan (dari sampai ke RS sampai dengan lahir), ngga sampai 3 jam!!! Kalau ada yang bilang anak ke dua lebih lancar, lebih cepat; itu benar terjadi di gw. Thank God.

And World, once again please meet:

Faye Naomi

12344a

FAYE NAOMI GO
Faye = short form dari Faith (iman)
Naomi = menyenangkan
Jumat, 30 Januari 2015
jam 23.25 WIB
Berat lahir: 2,955 kg
Panjang lahir: 49 cm

Masih ada yang mau gw ceritain lagi tapi udah kepanjangan, lanjutin di part 2/2 ya… 😀

Proses Lahirnya si Sulung (part 2/2)

Lanjutan dari SINI

Lagi mikir-mikir pengen caesar, proses CTG belum selesai, eh Ryan masuk ke ruang observasi untuk kedua kalinya, samperin gw, pakai baju khusus. Gilaaa rasanya gw belum pernah sekangen itu sama dia… dan langsung ngadu ke dia kalau gw di “cek dalam” tadi (yang hasilnya udah gw bilang sebelumnya yaitu pembukaan 3 menuju 4, ngga sia-sia gw nunda seharian ke RS… lumayan untuk meminimalisir waktu “cek dalam” – btw don’t try this at home yaa… tubuh tiap orang kan beda-beda ok…) Gw juga bilang ke dia gw takut banget. Ga ada yang bisa dia lakuin selain nenangin gw sih….

Setelah itu suster datang karena CTG-nya udah setengah jam. Intinya si suster mau beresin dan Ryan terpaksa keluar lagi. Akh… rasanya gw pengen maksa si suster untuk biarin Ryan temenin gw terus. Alasan ngga boleh nemeninnya karena di sebelah kiri kanan ada bumil lain, yang pastinya ada proses cek dalam juga dsb-nya… sedangkan ranjang per ranjang cuma ditutup dengan tirai yang belum tentu selalu rapat tutupnya. Selain itu mungkin takut ganggu kerja para suster juga kali ya?

Proses CTG selesai, gw disuruh pipis lagi (kalau mau) dan digantiin baju RS. Setelah ganti baju, ada suster cowo datangin gw untuk ambil darah. Entah kenapa kesan gw terhadap suster cowo selalu lebih ok, cara dia ngambil darah tenang banget dan gw ngga ngerasa sakit sama sekali.

Dan setelah suster cowo itu pergi, para suster cewe datangi gw dan bilang mau pasang infus ke gw. Gw ga nyangka sama sekali kalau lahiran normal pun harus pasang infus. Kalau ngga salah ingat, katanya infus yang dipasang ke gw itu cairan biar gw ngga lemas karna kontraksi terus.

Dan gw lumayan stres tuh… seumur hidup gw belum pernah ngunjungi RS karna sakit, belum pernah juga di rawat inap, apalagi dipasang infus. Dalam satu malam itu, gw harus rasain semua yang menakutkan. Dan gw ngga tahu pula kalau harus ambil darah, pasang infus… Belum lagi “cek dalam” emang udah gw takuti dari beberapa waktu yang lalu.

Bukannya gw cengeng, tapi seumur-umur emang gw orang yang hati-hati dan ngga mau sampai fisik gw sakit gitu, literally fisik sakit semacam; kesayat, lecet, berdarah dan sebagainya (padahal gw punya hobi manjat-manjat loh!) sakit mata aja ngga mau dan emang ngga pernah… bahkan kalau di daerah lipatan mata mulai ada bentol atau gatal, gw buru-buru dan bela-belain olesin minyak angin, ngga peduli perih/airmata ngalir, yang penting bentol hilang… dan emang langsung hilang sih bentol itu… Terus juga kalau berdarah, buru-buru olesin Betadine… literally buru-buru.

(dan gw rasa itu efek samping dari trauma masa kecil jatuh dari pohon… pernah juga hampir tenggelam di sumur… *KASIAN BANGET GW KALAU DIPIKIR-PIKIR!* dan mungkin juga karena dari sejak 8 tahun lalu (gw tahu 8 tahun karna waktu itu awal-awal gw nge-date sama Ryan), gw sering banget anterin nenek gw ke rumah sakit-yang berbeda-beda, gw juga sering ikut nginap di kamar RS yang sama, gw nemenin dia diambil darah, diinfus, rontgen dan lain-lain… istilahnya kepala gw itu udah diisi dengan segala kesakitan dari nenek gw dan juga orang-orang yang gw temui di RS, bahkan keluarga yang berdiri melingkar sambil nangis-nangis juga ngga luput gw lihat…. in fact gw ikut nangis!! Gw ngga ngalamin semua itu, tapi gw dibikin takut oleh semua proses di RS itu…)

Sekarang teman-teman ngerti dong kalau gw bilang… setelah proses-proses cek dalam dan sebagainya itu… ditambah lagi gw sendirian di dalam sana, ngga ada kerjaan selain bengong, ketegangan pun makin semakin gw rasain. Ke-mellow-an juga dimulai. Semua perasaan dimulai!!!!!!! tips dari gw: BAWA BACAAN – yang tebal – BIAR NGGA BENGONG dan biar bisa ngalihin rasa sakit.

Bahkan waktu di sebelah gw udah ganti pasien lain, pasien bumil yang baru ini udah over due date tapi baby belum ada tanda-tanda turun, si bumil juga belum ada kontraksi, dokter menyarankan caesar. Dengar dokter saranin dia caesar (melalui percakapan dia dan suster), gw mikir dalam hati, KENAPA SIH DIA BERUNTUNG BANGET DAPAT REKOMENDASI DARI DOKTER UNTUK CAESAR??

Waktu udah nunjukin jam 1-an malam waktu suster samperin gw, jelasin ini itu, ngasih gw bel, dll. Gw cuma bisa iya-iya aja karna kontraksi benar-benar udah teratur. Gw ngga bisa teriak, gw ngga bisa ngadu, gw cuma bisa nahan sendiri. Dan di ruangan itu udah ngga tersisa bumil lagi kecuali gw.

Dan itu bikin gw tambah mellow (instead of marah-marah), takut, semua perasaan muncul dalam diri gw, tapi yang paling berasa adalah gw kangen banget sama Ryan! Rasa kangen yang belum pernah sedalam itu. Seolah-olah saat itu juga gw pengen cabut semua alat dan lari nyari Ryan ke luar!

Dan tahu ngga, gw sampai ngomong (bisik-bisik) ke baby Gwen-Gwen di dalam perut gw, kalau gw kangen banget sama daddy-nya, please suruh daddy datang. DAN DOA GW DIDENGAR!!!! Cuma selang beberapa detik, Ryan masuk lagi ke dalam ruangan. Rasanya gw mau nangis bombay di depan Ryan tapi ngga bisa… gw cuma bisa terus-terusan bilang gw takut… bahkan sempat keceplos pertanyaan ke dia tentang caesar aja. Tapi Ryan emang yang lebih waras, dia tahu gw cuma labil, karena gw udah sering bahas gw ngga mau caesar dan alasan-alasannya.

Next-nya Ryan ngga bisa lama-lama, tapi at least gw jadi lebih kuat setelah ketemu dia. Dan biarpun kontraksi yang gw rasain sakit bangettttt, tapi gw juga lumayan ngantuk. Gw tanya ke suster boleh tidur/ngga? (tadinya gw ngga berani tidur karna gw pikir ngga boleh, soalnya kan lagi kontraksi dll) Suster kaget gw dari tadi mikir ngga boleh tidur, akhirnya si suster suruh gw tidur, jangan begadang biar besok ada tenaga. Dan gw gemes banget sebenarnya… kenapa gw masih harus tunggu sampai besok?? Sekarang aja gw udah sakit banget, kenapa ngga langsung proses lahiran aja??!

Intinya gw ngantuk banget tapi ngga bisa tidur nyenyak karna sakit kontraksi… jadi gw tidur on-off… walaupun masih sempat mimpi sih… mimpi apa gitu… lupa… gara-gara mimpi itu gw kebangun dan ngga bisa tidur lagi…

Kalau Ryan tidur di kamar yang udah kita booking. Kebodohan kita adalah, sampai ke RS jam 10.30 malam, harusnya nunggu satu setengah jam lagi baru check in kamar biar bayarnya dihitung hari berikutnya (setelah jam 12 malam) ya, tapi kita malah langsung check-in…!  Hmmm… ga apa-apa deh, daripada Ryan harus nunggu ga jelas di mana gitu. *hibur diri*

Finally…
The Day: 1 Agustus 2013 (Kamis)

Jam 5.30 pagi setelah gw tidur on-off dan terbangun karna mimpi ngga jelas, suster senior datang lagi pakai SARUNG TANGAN BIRU. Gw langsung tahulah dia mau ngapain. Dan gw siapin mental baja. Gw tarik nafas panjangggggggg (suster yang suruh biar ngga berasa sakitnya) dan THANK GOD kali ini sakitnya emang sedikit banget, hampir ngga berasa!!!

Oonnya gw lupa tanya udah pembukaan berapa… dan setelah itu ngga pengen tanya lagi karena kontraksi gw semakin berasa dan gw pun pencet bel untuk pertama kalinya, ngadu ke suster kalau gw sakit banget … kapan bisa lahiran?? Si suster cuma bilang, iya emang begitu, dan nyuruh gw sabar.

Jam 6.30, dokter pengganti datang (gw pilih dokter Robby Indratto atas rekomen teman gw. Teman gw itu; anaknya bukan terlilit tali pusat, tapi tali pusatnya kusut di dalam, setiap kali babynya ditarik keluar, terpental lagi ke dalam karena tali pusat kusut tersebut. Sampai teman gw itu udah nyerah (bahkan bilang kalau kenapa-kenapa dia milih babynya aja yang diselamatin), option untuk caesar emang keluar dari mulut dokter tsb, tapi tetap si dokter usaha maksimal untuk ngga perlu operasi… dan terus ngasih semangat ke teman gw… finally, si baby terbebas dari tali pusat yang kusut dan teman gw ngga jadi operasi!)

Si dokter juga humble banget dan jelasin kalau dokter gw lagi cuti, jadi dia yang akan bantu gw lahiran, padahal dia juga tahu gw yang request dia sebagai dokter pengganti. Soalnya gw dengar waktu susternya telepon ke dia untuk ngasih tahu bahwa gw nunjuk dia sebagai dokter pengganti. Setelah basa basi, si dokter pakai SARUNG TANGAN BIRU, gw pun pasrah dan entah kenapa, ngga berasa sakit sama sekali.

Ngga lama setelah dicek dalam sama Dr. Robby, datanglah suster kepercayaannya dokter T.Ronny yang lagi cuti itu…, si suster tiba-tiba ngambil SARUNG TANGAN BIRU dan proses itu terjadi lagi… ya Tuhan…, itulah saatnya gw ngerasa saakiiiittttttttt bangettttttt…!! Sanking sakitnya tangan si suster benar-benar gw remas abis dan momen itulah saatnya gw pengen banget teriak… tapi as always… gw masih bisa cool (baca: gengsi) untuk teriak. Yang bisa gw lakuin cuma ngomong satu kata ke si suster, “sakit…” pikiran sama mulut beda banget ya…

Hasil dari cek dalamnya Dr. Robby: pembukaan 5 menuju 6. OMG, kenapa naiknya dikit banget??? Padahal gw udah berasa sakit banget!! Karna gw bilang ke dia gw udah sakit banget, dia bilang kalau emang udah ngga tahan bisa pakai epidural. Tanpa mikir lama-lama lagi, mental gw udah sedikit down…, gw bilang iyaaaaa gw mau epidural!!

Si suster nanya ke gw mau diskusi sama suami dulu atau ngga, kalau mau, dia telepon Ryan untuk samperin gw. Akhirnya dia telepon Ryan dan gw bilang ke Ryan: gw udah ngga tahan dan mau epidural, dia cuma nanya ada efek samping/ngga, gw bilang ngga (padahal gw juga ngga gitu tahu), dia langsung setuju dan urus ke depan. (spoiler: setelah 3 bulan lebih sejak gw melahirkan dan disuntik epidural, gw ngga ngerasa ada yang ngga ok dari badan gw sih… jadi gw rasa emang beneran ngga ada efek samping…?)

Setelah gw mutusin untuk epidural, gw masih harus nunggu beberapa lama dengan kontraksi yang melintir tulang ekor gw, sampai akhirnya dokter anestesi datang. Gw baru tahu kalau proses penyuntikan epidural harus dilakukan oleh dokter khusus anestesi. Gw kira itu proses yang bisa dilakuin sama suster. Ternyata ngga.

Intinya setelah dokter anestesi datang, gw disuruh duduk di pinggir ranjang, membelakangi dia dengan posisi sedikit bungkuk & meluk bantal. Kedengarannya gampang ya? Tapi coba bayangin deh: ibu hamil perut sebesar semangka, lagi tiduran, susah gerak, ketakutan, kontraksi yang rasanya seperti dipelintir, kurang tidur, tangan yang diinfus…

Fyi, tangan gw yang diinfus adalah tangan kiri (seperti pada umumnya) dan itu masalah buat gw karena gw itu kidal alias left-handed, setiap kali gw gerak pasti reflek dengan tangan kiri dan itu bikin darah naik ke daerah jarum gara-gara itu. Untuk geser badan ke pinggir ranjang pun super susah karena tangan “aktif” gw lagi ngga boleh terlalu keluar tenaga.

Jadi kebayang ngga gimana proses sesederhana: geser ke pinggir ranjang – duduk bungkuk – meluk bantal – membelakangi dokter; menjadi super ribet?

Biar gitu, setelah berhasil; sambil meluk bantal, gw tarik nafas panjang, tutup mata dan berdoa dengan super pasrah… “Segalanya berlalu kecuali Tuhan…” saat itu, gw merasa seperti lagi melayang di langit gelap penuh bintang dan gw tenang banget… padahal proses suntik ke tulang belakang gw belum di mulai… tapi gw udah siap dan waktu si dokter suntikin gw, gw berasa banget si jarum besar nembus, tapi 100% gw ngga ngerasa sakit. Dan waktu udah selesai proses suntik epidural itu, gw malah ngerasa kok cepat… Setelah suntik epidural, gw dipasangin lagi alat apa gitu, yang ada monitornya, ngga gitu nyimak lagi… yang jelas alat yang ada monitor itu dihubungkan ke jari gw (jari telunjuk gw dijepit dan kabelnya terhubung ke alat tsb).

DAN GW BERTERIMA KASIH KEPADA PENEMU EPIDURAL!!!! Dan kepada Tuhan yang mengijinkan penemuan itu terjadi.

RASA SAKIT HILANG SEKETIKA. THANK GOD.

Gw tahu biarpun gw pakai epidural, gw ngga akan menjadi kurang keibuan, KARENA GW TAHU DAN SADAR SEPENUHNYA, SEORANG IBU YANG BAIK BUKAN DINILAI DARI SEBERAPA SAKIT DIA SELAMA PROSES PERSALINAN. TAPI DARI PENERAPAN KASIH SAYANG DAN DISIPLIN YANG BENAR UNTUK SANG ANAK.

Dan juga gw tahu sejauh apa gw mampu menahan rasa sakit… dan sejauh apa gw ngga sanggup. Karena biarpun kontraksi udah ngga gitu berasa (masih ada rasa btw, ngga seratus persen ngga berasa lagi loh), gw masih harus menghadapi BADAN MENGIGIL (literally) akibat efek samping langsung dari suntikan epidural. Dan setelah beberapa saat, mata gw ngga jelas ngelihat tulisan/orang. Udah berusaha gw fokusin mata, tetap aja mata gw seperti mata minus.

Biarpun badan super mengigil, tapi beberapa waktu gw bisa tenang karena kontraksi ngga terlalu melintir lagi. Dan kira-kira hampir jam 10, 3 jam lebih sejak pembukaan 5 ke 6 (kalau ngga salah ingat ya), Dr. Robby datang dengan SARUNG TANGAN BIRU-nya, pembukaan menjadi 7 menuju 8. Dan efek obat epidural kayaknya sedikit memudar deh… soalnya badan gw ngga terlalu mengigil lagi dan gw mulai bisa rasain lumayan sakit di bagian belakang lagi… Proses nunggu pembukaan emang benar-benar bikin ngga sabaran….

Selama proses menunggu itu, ini yang terjadi:

  • Suster cukur bagian v (padahal udah gw lakuin di rumah, mungkin kurang rapi kali ya…)
  • Suster pompa isi perut gw supaya ngga menghalangi proses lahiran nanti katanya.
  • Gw ke toilet karna proses pompa tersebut. Dan karena gw malamnya emang cuma makan bubur, yang keluar bukan kotoran yang padat, tapi rasanya gw malah jadi kena diare deh… karena setelah lahiran, di dalam kamar pemulihan, gw beneran jadi *SORRY* bab yang cair.
  • Suster yang muda samperin gw terus untuk ngajak ngobrol… dan entah kenapa sangat memperhatikan gw… buktinya: dia lihat ke mata gw dan nanya, “Kenapa?” gw bingung kenapa dia tiba-tiba nanya gw kenapa, dan gw nanya balik ke dia, apanya yang kenapa…? Tahu ngga jawaban dia apa? Jawaban dia, “itu matanya… nangis ya?” Silahkan percaya, silahkan ngga, tapi gw sendiri juga heran kenapa dia sangat perhatian…??! Gw jawab kalau gw ngga nangis, cuma capek aja…

Dan akhirnya, jam 10.30-an, para suster mulai siapin gw untuk proses persalinan, ranjang gw didorong ke ruang khusus bersalin.

Di dalam situ pun, gw masih harus nunggu… sambil beberapa kali suster masuk untuk suruh tidur miring ke kiri terus supaya baby cepat turun. Dan nyuruh gw pakai oksigen terus karna denyut jantung baby sedikit lemah kalau gw ngga hirup oksigen. Gw diingatin terus untuk hirup oksigen yang panjang dan hembusin. Tapi masalahnya itu ruangan dingin banget, bikin oksigen yang gw hirup jadi dingin juga dan hidung gw mampet banget. Mampet itu udah dari malamnya sejak gw dipakaiin selang oksigen loh… dari sebelum gw disuntik epidural. Mampet itu bisa dibilang salah satu alasan gw mellow, gelisah gitu… di satu sisi kalau gw ngga pakai selang oksigen, baby kasihan… di sisi lain kalau gw pakai selang oksigen, gw jadi susah nafas. Solusinya gw sering lepas pasang….

Di dalam ruang itu, gw dipasang alat CTG lagi untuk mantau denyut jantung baby… dan gw perhatiin, setiap kali gw narik nafas panjang dan hembuskan, angka penunjuk detak jantung baby meningkat, tapi setiap kali gw lepas selang oksigen, angka tsb jadi rendah lagi bahkan sempat bunyi juga tanda terlalu low.

Selama di dalam ruang itu juga, efek epidural benar-benar hampir hilang dan kontraksi di pembukaan 8 (setelah suster cek dalam lagi), benar-benar berasa sakitnya. Anehnya, gw masih ngga bisa teriak atau marah-marah… padahal gw pengen banget manggil suster dan ngadu kalau gw udah sakit banget. Sampai akhirnya ada satu suster masuk, gw bilang ke dia, sakit banget… Dia langsung ambil sisa dosis obat epidural dan disuntikin ke dalam selang yang emang dipasang ke badan gw setelah dokter anestesi “bikin lubang” lewat jarum suntik tadi.

Setelah dosis obat ditambahkan, rasa sakit gw hilang lagi… lega banget… dan antara setengah sampai satu jam kemudian proses lahiran dimulai karena gw udah masuk pembukaan 10… Semua yang nempel di badan gw dicabut (infus dll).

Dan jam nunjukin jam 11 kurang sedikit waktu dua suster mulai pandu gw untuk proses lahiran, kaki gw diangkat ke atas dua penyanggah (kiri dan kanan), tangan gw genggam dua besi di kiri dan kanan juga. Satu suster berdiri di sebelah kanan gw dan dengan kain dan sikunya dia dorong perut gw ke arah bawah… (ngga tau ini metode seperti apa… semua kayak gitu ngga sih?)
Sebelum si suster dorong perut gw dengan sikunya, gw disuruh tarik nafas panjang, dan begitu dia dorong, gw harus hembusin nafas sambil ngeden gemes dan tangan gw narik besi yang gw genggam itu (ke dalam atau ke luar ya?? Gw lupa.) Percobaan 3 kali, kepala baby masih belum kelihatan juga, suster nyuruh gw semangat… dan akhirnya sang dokter datang… aura positif langsung berhembus… dia bersikap sangat santai dan membuat gw santai juga!!

Proses yang sama gw lakuin lagi…, kira-kira 3 kali lagi gw ngeden, kepala baby udah kelihatan dan kali ini dokter bilang, “ayo mamanya sendiri…”

Gw diantara ketegangan dan menahan rasa sakit (bukan sakit di bawah sana loh, tapi sakit karena perut gw didorong sekuat tenaga oleh si suster), sempat-sempatnya nanya ke dokter: “NGAPAIN?” (apanya yang sendiri maksud gw)

Maksud si dokter, suster ngga usah bantu dorong perut lagi, tapi gw yang berusaha ngeden sendiri sekarang tapi pastinya masih dipandu… dan salah satu suster ngomong ke gw, “ayo kayak waktu di senam hamil..,”

Dalam hati gw: GW NGGA PERNAH IKUT SENAM HAMIL!! Iya gw cuma bisa gw ucapin dalam hati, karna mulut gw sibuk tarik nafas panjang, hembusin, berulang-ulang.

But thank God, cuma sekali ngeden, tanpa perut gw dibantu dorong oleh suster lagi, dokter berhasil keluarin kepala baby… terus si dokter  bilang: “Pantas susah keluar, ini ada lilitan tali pusat ya…” sambil suruh Ryan yang dari tadi rekamin proses lahiran gw, untuk jadi saksi, lihat bahwa memang ada lilitan sekali di leher baby. Dan direkam pula sama Ryan.

Setelah lilitan dilepas, (kalau ngga salah) gw ngeden sedikit lagi dan badan baby langsung ditarik, dan buru-buru ditaroh ke dada gw, dan dokter bilang: itu namanya IMD, karna RS Family mendukung ibu menyusui. Dalam hati gw lagi: sempat banget ngejelasin??!!

Begitu gw lihat baby kecil diarahin ke gw, masih belum rapi penampilannya… (bahasa halus) dan itu emang pertama kalinya gw melihat dia, apa yang gw rasain dan pikirin? Mau tahu…?

Yang gw rasain dan pikirin pertama kali adalah TAKUT. Bukan terharu tapi TAKUT. Bukan takut nyakitin dia, tapi beneran takut melihat sosok baby Gwen-Gwen…, masih ada darah dan cairan-cairan, masih fresh keluar dari rahim gw.

Tapi rasa takut itu cuma sedetik dua detik. Begitu udah taroh di dada gw, gw reflek pegang kepalanya yang masih ada darah, otomatis tangan gw kena darah tsb…, apakah gw masih takut? Sama sekali ngga tapi yang terjadi adalah gw NANGIS. Dan bukan nangis manis seperti di film-film yang cuma setetes air dipojok mata loh… tapi nangis bombay!

distorsi -_- haish..

Setelah semalaman gw menahan rasa takut, bergumul dengan hidung yang mampet, gw menyemangati diri sendiri, gw berdoa, gw lawan emosi yang ngga perlu, yang paling nyata, gw lawan perasaan bahwa gw sendiri. Gw berpikir gw berjuang sendiri…, ternyata gw ngga sendiri, ternyata begitu baby Gwen-Gwen ditaruh di dada gw, gw sadar, dia juga ikut berjuang dan gw melihat sosok kecil yang benar-benar kuat.

Gw antara khawatirin dia dan amazed… Akhirnya gw keluarin semuanya lewat nangis bombay yang masih sedikit manis sih… Ryan hapus airmata gw yang ngga bisa berhenti ngalir. Suster ambil baby gw karena mau diukur dsb, itu terjadi benar-benar dalam hitungan detik, but it will last forever in my heart – perasaan memeluk bayi kecil untuk pertama kalinya.

Setelah baby Gwen-Gwen diambil dari gw, kata Ryan pantatnya ditepuk dan dia nangis for the first time. Dan gw… MASIH BELUM BERHENTI NANGIS LOH… MASIH NANGIS BOMBAY.

Sampai Dr. Robby bilang ke gw: “Udah ngga apa-apa, tuh baby lagi dibersihin…” dengan nada ceria dan santai, seolah-olah bisa baca pikiran gw yang mulai tersadar bahwa emang benar ada manusia kecil dalam rahim gw, emang benar gw udah jadi seorang ibu, emang benar ada baby yang harus gw lindungi. Setelah dia ngomong gitu, gw udah berhenti nangis dan urat malu udah mulai aktif lagi.

ngga fokus.. -_- haish..

Sambil baby ditimbang, ukur panjang dan lain-lain, sambil dokter kasih gw minum obat 2 biji kecil, gw lupa untuk apa dan lucunya gw ngga tahu kenapa ngerasa para dokter dan suster sangat perhatian ke gw…

Contohnya: Si dokter Robby ngasih obat bukan ke tangan gw atau tangan Ryan tapi nyuruh gw buka mulut dan langsung disuapin ke mulut gw. Aneh kan… aneh yang positif sih…

Dan juga setelah Gwen dibersihin, suster seniornya dokter T.Ronny yang tadi “cek dalam”-in gw, yang tangannya gw remas itu, tiba-tiba datang dan gendong Gwen-Gwen sambil main-main dan terus-terusan bilang Gwen cantik, hidungnya mancung… dan si suster nunjuk-nunjukin Gwen-Gwen ke gw terus…

Terus suster yang bantuin proses lahiran gw di awal, waktu dia mau bawa Gwen-Gwen ke ruang baby, sebelum pergi, dia gendong Gwen-Gwen ke gw dan sodorin bibir Gwen ke gw dan bilang, “ayo cium mami dulu…”

Mereka seolah-olah mau hibur gw. Dan gw bersyukur ngga ada satu pun para suster/dokter yang bikin gw bete.

Selanjutnya dokter keluarin plasenta gw, jahit bagian bawah sana dan lain-lain. Dan gw dipasang kateter dong… T_T (selang yang dipasang di daerah bawah situ) ngga ngerti kenapa, gw lupa alasannya apa. Jadi gw pipis langsung dari selang kateter tsb.

Ngga lama – masih di ruang itu, setelah Ryan kabarin teman gw, teman gw itu telepon dan gw bilang gw masih di ruang bersalin, belum pindah ke kamar… dia kaget kenapa gw bisa nerima telepon dan ngomong seperti biasa… karna dia sebelumnya udah lemas banget.

Mungkin karena proses ngedennya itu ngga sakit dan proses paling lama cuma 10 menit loh… tapi bagian gw harus buru-buru ambil nafas keluarin dan ngeden itu bikin gw kaget dan capek… Makanya gw nyesal kenapa ngga pernah ikut senam hamil supaya at least gw tahu cara nafas!!!

Setelah 2 jam, gw baru didorong ke kamar. Gw masih belum berani bangun karena kateter itu. Besoknya baru gw berani bangun dan coba duduk di pinggir ranjang.

Dan biarpun sebelumnya gw udah rencanain harus terlihat cantik setelah melahirkan… semua rencana buyar, gw sama sekali udah ngga peduli. Tapi tetap ada satu yang gw peduliin sih yaitu… pakai parfum biar ngga bau setelah keringat dsb.

Dan dua jam setelah gw masuk kamar, baby Gwen-Gwen diantar ke kamar gw, udah rapi, udah bersih… dan masih bikin gw terkagum-kagum.

No make-up, habis nangis bombay, & bad angle.. OK!!! btw tissue di dada menjelaskan bhw gw habis makan..

Gw nginap di RS dua malam, di hari ke tiga ternyata Gwen-Gwen kuning karena golongan darah gw dan dia beda, tingkat kuningnya berapa gw lupa…, jadi kita putusin untuk tinggalin di RS untuk di kasih lampu biru. Gw pulang ke rumah dan sedikit lega karna bisa istirahat, belum harus rawat baby. Tapi di sisi lain, pengen cepat-cepat ketemu juga. Jadi gw dan Ryan sepakat, besoknya kalau emang masih kuning, kita berdua tetap mau bawa pulang dan jemur sendiri aja setiap pagi.

Di hari ke empat, kuningnya udah ngga terlalu kuning lagi, angkanya pun menurun, tapi masih ada sedikit kuning… biar gitu,  kita tetap bawa pulang (Ryan yang bawa pulang, gw di rumah). Setelah jemur setiap hari, antara hari ke-7 sampai dengan 10, kuningnya Gwen-Gwen hilang 100%.

Cerita-cerita setelah Gwen-Gwen di rumah akan gw bikin di postingan terpisah aja ya.

Hal-hal yang harus gw syukuri adalah dari proses lahirnya Gwen-Gwen:

  • Gwen-Gwen lahir pada tanggal 1 Agustus 2013… which is tanggal 1 itu gampang banget diingat.
  • Seperti yang udah gw bilang sebelumnya, due date Gwen-Gwen adalah 12 Agustus. Dan bukan sesuatu yang mengherankan lagi kalau dari due date, proses persalinan bisa lebih cepat dua minggu atau lebih telat dua minggu. Dua minggu sebelum dan sesudah due date Gwen-Gwen adalah akhir Juli dan pertengahan (menuju akhir) Agustus.

Pointnya adalah… ada satu tanggal di akhir Juli dan satu tanggal di pertengahan Agustus yang gw hindari sebagai tanggal lahirannya Gwen dan lumayan was-was juga sih selama hamil. Karna dua tanggal tersebut mengingatkan gw akan kenangan buruk…. Gw ngga mau tanggal lahir Gwen-Gwen samaan dengan salah satu tanggal itu. Dan thank God, itu ngga terjadi.

  • Gwen lahir menjelang Hari Raya Lebaran; tgl 8 Agustus 2013. Yang di mana Ryan jadi ngga perlu ambil cuti karena liburan lebaran tahun ini di kantor Ryan di mulai dari tanggal 2 Agustus sampai dengan 14 Agustus. Padahal tadinya Ryan udah berencana ambil cuti 2 minggu untuk nemenin gw. Dan sekarang karena emang libur, dia jadi ngga perlu ambil jatah cuti.
  • Biarpun dokter bilang susah keluar, tapi gw merasa proses ngeden itu sangat-sangat sebentar dibanding penantian gw nunggu pembukaan sempurna. Dan kalau gw flashback lagi, proses kelahiran Gwen di RS tergolong gampang dan lancar. Begitu sampai RS udah pembukaan 3 menuju 4… Jam 10.30 malam sampai dengan jam 11 siang. Biarpun hitungannya kurang lebih 13 jam, tapi semua terjadi dari malam ke pagi menjelang siang yang seolah-olah malam gw tidur, begitu bangun udah ada baby di sebelah gw.

Proses melahirkan buat gw benar-benar kayak mimpi… yang begitu kita bangun tidur efek dari peristiwa di mimpi masih terasa, tapi beberapa jam kemudian, apalagi beberapa hari, bulan, semua efek ngga enak dari mimpi tsb hilang sama sekali. Makanya waktu gw bilang ke Dr. Robby gw ngga mau punya anak lagi… si Dr. Robby bilang ke gw, ah itu cuma sementara, nanti juga mau…. Dan apa yang dia bilang itu benar banget… sekarang aja rasanya gw pengen punya baby lagi… walaupun gw tahu rasanya kontraksi ngga enak, tapi gw tahu setelah baby keluar semuanya worth it!

mommy and Gwen-Gwen, end of October 2013

Proses Lahirnya si Sulung (part 1/2)

Intro 1
Rasanya melahirkan dan menjadi seorang ibu (baru)?Rasanya melahirkan itu seperti mimpi buruk. Rasanya buruk tapi ternyata cuma mimpi. Karena itu cuma mimpi buruk, jadi waktu bangun rasanya menyenangkan sekali… karena mimpi buruknya udah selesai malahan ada bonusnya… yaitu little angel…a.k.a baby. So pastinya lega dan bersyukur bangetttt.

Dan rasanya menjadi seorang ibu (baru)… i wish i can find the most beautiful word to describe it… Indescribable! Bayangin aja gimana rasanya ketemu sama orang yang jujur apa adanya… kesal ya nangis, happy ya ketawa… apa yang dia ucapkan cuma “kata-kata” yang bikin hati kita melting… ditambah lagi, biarpun kita ngga sempurna, dia ngga melihat itu… malah selalu tertawa/tersenyum setiap kali kita datang dan ternyata sangat percaya dan mengandalkan kita…? Itulah perasaan yang gw dapat dari menjadi seorang ibu.

Intro 2
Cerita di balik nama Gwen Naomi

Berawal dari keinginan gw dan Ryan yang pengen namain anak kita dengan nama yang simpel, singkat, padat dan ngga terlalu kebule-bulean supaya orang Indonesia gampang manggilnya (setiap kali gw nemu nama selalu gw bayangin dulu si calon empunya nama duduk nunggu antrian di rumah sakit dan suster manggil namanya, kalau susah manggilnya atau ngga enak didengar berarti ngga jadi).

Gwen
Beberapa tahun yang lalu, gw dan Ryan sering beberapa kali makan ke Kopitiam Oey (ownernya itu si Pak Bondan “maknyuss” Winarno), nah tembok di dalam Kopitiam Oey itu ada terpajang artikel dengan nama anaknya Pak Bondan yaitu Gwen Winarno. Ryan langsung nyeletuk, “Anak kita namanya Gwen aja…” Gw langsung setuju. Padahal waktu itu nikah aja belum 😛

Naomi
Awalnya kita pikir cuma pengen kasih nama depan dan nama keluarga aja… tapi karena nama keluarga kita Go. Jadi agak janggal kalau cuma Gwen-Go. Udah masuk trimester tiga pun kita masih belum nemu nama lain yang bisa klik dengan nama depan dan nama keluarga kita. Sampai akhirnya di bulan ke delapan, di tol dalam perjalanan ke Gading untuk beli beberapa perlengkapan baby…, salah satu bahasan kita soal nama tengah adalah pengen yang kejepang-jepangan… dan terakhir gw bilang ke Ryan, kalau bisa nama tengah Gwen ambil dari tokoh di Alkitab. Dan Ryan nyeletuk lagi… “Naomi aja…” dan gw langsung ngeh kalau selain dari tokoh di Alkitab, nama Naomi juga lumayan kejepang-jepangan… jadinya pas banget deh sama keinginan kita. 🙂

Gwen-Gwen
Untuk nama panggilan… waktu masih di dalam perut pun, Ryan udah manggil baby dengan nama panggilan Gwen-Gwen… sedangkan gw manggilnya Gweny. Nah pas udah lahir dan udah di rumah… ngga ngerti kenapa, dengan sendirinya gw manggil Gwen dengan Gwen-Gwen dan ngga pernah manggil Gweny lagi. Jadi sejak itu nickname Gwen adalah Gwen-Gwen… dan ternyata semua idenya Ryan. 😀 (di mana-mana nickname itu kependekan dari nama aslinya… ini malah lebih panjang).

Intro 3
Kenapa lama baru posting lagi?

  • Selama tiga bulan ini (yes, udah tiga bulan lebih sejak Gwen-Gwen lahir… ngga berasa banget!), gw rawat Gwen-Gwen dan ngurus rumah sendiri… No baby sitter, no pembantu, no nyokap, no mertua. s.e.n.d.i.r.i. Emang sih ada Ryan, tapi kan dari pagi sampai sore menjelang malam dia kerja dan dia itu workaholic, yang udah di rumah pun masih nyolong-nyolong kerja. Dan gw ngga bilang gampang… kalau emang gampang di dunia ini pasti ngga ada lagi babysitter… tapi gw berusaha yang terbaik aja. Dan gw bukan anti baby sitter juga… tapi emang lebih sreg urus dan besarin sendiri… lagian juga gw ngga kerja kantoran… kalaupun lagi kerja kantoran, gw pasti milih berhenti dan full time urus baby. Update Nov/8/13: barusan gw baca postingan Olivia yang judulnya Never say this to working moms, please! gw cuma mau bilang… keputusan gw untuk jadi IRT itu keputusan gw… orang lain ngga berhak ngeremehin…, di sisi lain, keputusan orang utk tetap bekerja juga keputusan orang itu… ngga ada yang berhak ngeremehin juga…. apalagi sok-sok nasehatin, pengen koreksi keputusan orang lain tanpa mikirin perasaan orang yang dikoreksi! Padahal niat aslinya cuma pengen terlihat lebih pintar & terlihat punya hidup yang lebih sempurna aja!   
  • Gw butuh waktu untuk penyesuaian. Karena selama ini gw terbiasa melakukan segala sesuatu sesuka hati gw, ngga pakai jadwal… dan sekarang semua harus sesuai waktu, jadwal, dsb… gw bertanggung jawab penuh atas kelangsungan hidup Gwen-Gwen… jadi gw harus konsentrasi. Selama tiga bulan ini (gw rasa) gw udah dapat ritmenya.
  •  Alasan terakhir adalah setiap kali gw duduk depan laptop dan siap-siap mau nulis, Gwen-Gwen selalu manggil… atau kalau dia ngga manggil, pikiran gw yang selalu ke dia dan berakhir dengan gw meninggalkan laptop dan main deh sama dia… 🙂 gw ngga bisa nulis on-off setiap menit, pengennya sekali nulis langsung selesai… atau at least selesaiin setengah…

Jadi mohon dimaafkan dan dimaklumi ya kalau lama baru posting cerita lahiran Gwen-Gwen ini. /dignose

Mari mulai…
Masih ingat postingan  On 38 weeks – sign of labor?? Di bagian paling bawah post gw bilang/tulis:
Update kondisi hari ini (Rabu, 31-07-13)
 
Gw rasa gw akan melahirkan ngga lama lagi… karena… dari kemarin malam perut gw keras terus setiap beberapa menit, baby seperti gerak terus ke bawah dan itu bikin bagian miss v sedikit nyeri/nyut-nyut (belum pernah terjadi selama hamil). 
Pagi ini, perut gw juga masih keras terus, sedikit sakit dan pinggang belakang gw juga mulai nyeri, setiap beberapa menit juga… dan gw juga belum pernah ngalamin itu.
 
Tebakan gw: mungkin dalam beberapa hari ke depan?
 And guess what…? Malamnya dong gw ke RS dan besoknya; 1 Agustus (Kamis) Gwen-Gwen lahir.
Dimulai dari 30 Juli (Selasa malam), gw dan Ryan ke gereja. Sepanjang kebaktian, perut gw udah berasa ngga enak terus, tapi gw sama sekali ngga curiga kalau itu kontraksi mau melahirkan… karena gw pikir kontraksi mau melahirkan itu dari awal udah menyakitkan. In fact ya, gw bahkan ngga ngeh kalau yang gw alami adalah kontraksi.
Pulang dari gereja, kita mampir ke XXI untuk numpang pipis. Tapi waktu lihat The Wolverine (2013) udah main, kita spontan mutusin untuk nonton midnite show-nya (jam 9-an).
Selama nonton, resah gelisah badan gw… perut tambah ngga enak, berasanya kencang terus, ngga nyaman banget. Tapi lagi-lagi belum ada feeling kalau Gwen-Gwen akan lahir secepat itu, gw kira semua rasa sakit yang gw rasain itu karna suara di dalam studio terlalu kencang dan bikin baby jadi gerak lebih aktif.

Intinya, malam itu sampai udah di rumah pun perut masih terus ada rasa sakit.  Tapi beneran ngga ngerti kenapa gw ngga curiga kalau itu kontraksi?!

Besok paginya: 31 Juli (Rabu), perut masih kontraksi dan ditambah dengan pinggang belakang ikutan nyut-nyut. Baru pada saat itu gw curiga waktu lahiran ngga lama lagi. Tapi pastinya ngga nyangka malamnya gw harus ke RS. Buktinya gw masih bisa leha-leha, update postingan yang gw cut di atas dan lakuin hal-hal lainnya.

Bahkan waktu gw cerita ke Ryan soal kontraksi gw, dia nanyain terus mau ke RS ngga… Gw malah ketawain dia dan ngatain dia lebay. Dan Ryan pun berangkat ke kantor dengan catatan gw harus ngasih laporan ke dia tentang kondisi gw.

Dan sepanjang siang, setelah update blog itu, kontraksi beneran tambah teratur. Gw perhatiin jam, setiap 10 menit gw kontraksi. Rasanya kontraksi yang gw rasain adalah: bagian perut kencang banget, kayak di dalam perut ada yang ngedorong bola besar ke depan. Tapi sebenarnya rasa sakit yang benar-benar gw rasain bukan dari perut, tapi dari pinggang belakang bagian bawah…, di daerah sekitar tulang ekor… kayak ada yang pelintir! Tapi karna ngga lama rasa sakit itu, ngga sampai satu menit.., jadinya gw masih bisa nahan dan masih bisa nyantai.

Tapi kesantaian itu berubah menjadi deg-degan ketika gw ke toilet, duduk; ngga ngerti kenapa gw merasa seperti ada yang ngalir, tapi ngga bisa gw kontrol, gw kira itu pipis, tapi kalau pipis kan harusnya tahu kapan mau keluarnya dan bisa ditahan ya? Nah ini tahu-tahu ngalir gitu aja. Setelah gw tengok, ternyata darah! Bukan yang kental gitu sih, cuma kayak air warna merah.

Paniklah gw lihat merah-merah gitu… dan ngeh mungkin itu yang disebut bloody show kali ya dan selanjutnya menjadi flek?! Gw langsung deg-degan, tangan gw langsung jadi dingin karna adrenalin, jantung beneran dag-dig-dug. Mulai ngerasa kayak bangun dari mimpi, kehamilan gw mulai terasa “nyata”, proses kelahiran mulai membayang-bayangin gw.

Buru-buru gw kasih laporan ke Ryan. Dari kantor, Ryan telepon ke susternya Obgyn gw; Dr. Tjien Ronny… dan si suster bilang: Dr. Ronny lagi cuti!!!!!!!

Cuti dari tgl 30 Juli (kontraksi awal gw) s/d 2 Agustus (sehari setelah gw melahirkan)! Bisa pas banget ya? Padahal tanggal 28 Juli-nya gw baru check-up ke dia. Dan di pertengahan Juli juga dia udah cuti. Alasan cutinya adalah nganterin ortunya yang sakit ke Singapore – dia sempat bilang sakit apa, tapi gw lupa. Jadi gw cuma bisa harap-harap cemas, semoga gw lahirannya pas tgl 3 Agustus aja.

Biar gitu masih ada dokter pengganti dan bisa milih sendiri mau dengan siapa. Soal gejala gw, suster bilang suruh bawa ke RS untuk cek. Ryan pun buru-buru pulang, dan pas banget hari itu mobilnya dipinjam anak buahnya, rencananya sore baru balikin. Tapi dia tetap pulang, naik taksi.

Seperti halnya kebetulan banget hari itu mobilnya Ryan dipinjam, kebetulan juga siang itu gw masih belum mandi! *ngasih penjelasan di awal biar ngga dikira tiap hari mandinya siang* Jadi biarpun panik, gw buru-buru mandi (sekalian keramas juga, biar ngga kelihatan kucel kalau-kalau jadi ke RS). Sambil keramas sambil berdoa supaya baby ngga brojol pas gw lagi mandi – karna air dorong ke bawah (??!!). *kebanyakan nonton tv*

Selesai mandi, kontraksi gw ngga gitu berasa lagi, jadinya gw manfaatin waktu untuk blow rambut + catok. Selesai catok, pas-pasan Ryan pulang dan bilang, taksi udah nungguin di bawah. *niat banget dia bawa gw ke RS* tapi gw bilang kalau gw udah ngga gitu berasa kontraksi lagi. Feeling gw bilang, gw ngga lahiran di hari itu, jadi gw minta Ryan suruh taksinya pergi aja.

Ryan turun ke bawah “usir” si taksi. Begitu naik, Ryan sekali lagi telepon ke RS, kali ini ke bagian emergency. Suster di bagian emergency malah nyantai banget dan nyuruh Ryan tenang, ngga usah panik…. Dari gejala gw, suster bilang masih lama proses lahiran gw. Biarpun udah pembukaan 10 pun ngga langsung keluar babynya. Gw pun agak tenang dan merasa masih ada kemungkinan gw dapat giliran melahirkan pas Dr. Ronny selesai cuti.

Tapi emang kontraksi ngga bisa dibohongin ya, semakin berjalannya waktu, kontraksi itu semakin teratur. Tiap 8 menit sekali. Gw pun tambah curiga lagi dan bertanya-tanya juga, apa benar gw akan melahirkan di hari itu?

Di tengah-tengah rasa sakit dan rasa bingung, ada yang telepon ke hp gw – nomor ngga dikenal. Biasanya gw cuma angkat telepon yang namanya ada di contact dan ngga akan angkat telepon yang cuma tercantum nomornya, kecuali kalau gw tahu gw lagi nunggu telepon.
Tapi hari itu, emang gw lagi ngga bisa mikir kali ya, langsung gw angkat, dan ternyata dari marketing ASURANSI. Gw ngga mau langsung tutup karna bagi gw itu ngga sopan… tapi orang asuransi tsb (cewek) nyerocos ngga bisa berhenti. Apapun yang gw bilang untuk nolak, dia ngga terima dan terakhir, gw bilang diskusi dulu sama suami, dia malah nanyain suami gw pulang jam berapa, udah gw jawab, eh dia minta kepastian dengan nada seolah-olah DIA PENTING.
Di situlah gw meledak… dikasih hati minta jantung. Bumil lagi kontraksi diajak debat! Gw yang selama hamil ngga pernah marah, di penghujung kehamilan malah harus ngamuk. Dan hari itu bikin gw semakin teguh untuk ngga angkat telepon dari nomor asing lagi (kecuali kalau emang lagi nunggu). Kalaupun terlanjur angkat, ngga ada lagi deh namanya mikir ngga sopan untuk tutup telepon kalau dikasih tahu sekali ngga bisa ngerti!!

Setelah drama itu, perut gw tambah keras dan bikin gw tambah bingung lagi…, ini kontraksi asli atau kontraksi palsu karna gw habis marah-marah?!

Untuk menghilangkan kebingungan, jam 2.30 siang, gw Whasapp ke teman gw yang emang habis melahirkan 3 bulan sebelumnya di RSIA Family juga.

Dia malah ngatain gw “gila” dan nyuruh gw buru-buru ke RS saat itu juga. Pakai acara nelepon balik, suruh buru-buru ke RS dan bilang kalau gejala gw itu udah proses mau lahiran. Ryan dengar gitu, tambah pengen bawa gw ke RS lah. Tapi gw masih ngga mau.

Dan saudara-saudara, di sini, gw mau beberin alasan gw ngga mau buru-buru ke RS pada saat itu… adalah: Gw takut dicek dalam – yang katanya sakit itu. Gw takut kalau gw udah di-cek dalam, eh ternyata itu cuma kontraksi palsu. Jadi sia-sia gw sakit.

Gara-garanya gw baca cerita orang-orang yang bilang cek dalam itu sakit banget. Gw beneran jadi takut. Tapi IMO ya, setelah gw pada akhirnya merasakan “cek dalam”, gw bisa bilang, cek dalam ngga sesakit yang gw bayangin ketika gw baca cerita orang-orang itu. Sakit iya, tapi ngga sesakit itu, dan sakitnya itu cuma waktu proses suster/dokter masukin jarinya aja. Paling cuma sedetik-dua detik – tapi ini IMO loh.

Jadi siang menjelang sore itu, gw masih belum ke RS. Malah masih pengen ngajak Ryan ke mall; beli ice cream Baskin Robbins yang kebetulan (lagi) hari itu ada disc 50% dengan kartu kredit salah satu bank. \^.^/

Sampai sore jam 5-an, kita duduk di Baskin Robbins lumayan lama karna nunggu anak buahnya Ryan balikin mobil yang dipinjam. Mereka janjian ketemu di lobi mall tersebut. Dan ini bukan nungguin untuk ke RS loh, karna gw masih belum ada niat untuk ke RS. Biarpun setiap 5-8 menit sekali, gw udah merasakan kontraksi sakit depan belakang secara teratur. Tapi ngga tahu kenapa gw masih tetap belum merasa ini waktunya ke RS.

Bahkan setelah mobil datang, kita langsung pulang ke rumah. Dan setelah pulang ke rumah itu, lupa kalau belum makan malam, jadi jam 6-an sore, kita berangkat ke luar untuk cari makan. Gw cuma makan bubur dan ngga habis pula karna ngga begitu nafsu makan.

Kondisi gw selama di mall sampai dengan cari makan adalah: susah jalan karena kontraksi. Setiap kali kontraksi datang, gw harus berhenti dulu dan Ryan megangin gw sepanjang jalan. Badan gw “not delicious” banget, kayak mual. Dan orang-orang di sekitar ngeliatin gw dengan tatapan: “ya ampun, bumil itu udah waktunya melahirkan ya?!”

Setelah makan, pulang lagi ke rumah, jam 9.30 malam, teman gw itu telepon lagi ke gw (dengan pemikiran gw udah di RS). Pas dia tahu gw belum ke RS, gw di-“gila”-in lagi… dan kali itu, dia berhasil menyakinkan gw untuk ke RS. Ryan sempat-sempatnya mandi dulu udah malam gitu… dan gw siapin perlengkapan sambil aduh-aduh. (spoiler: sampai RS, setelah cek dalam, udah pembukaan 3 menuju 4… ternyata kontraksi gw seharian itu, bahkan dari kemarin malamnya, beneran kontraksi mau melahirkan!! Hahahaha..)

Dan berangkatlah kita ke RS.

Jam 10-an malam sampai RS… dengan kondisi tambah susah jalan dan satpam nawarin pakai kursi roda. Tapi gw masih punya kekuatan untuk malu (malu jadi pusat perhatian). Jadi gw tolak kursi roda itu.

Kepanikan bikin gw dan Ryan lemot, kita berdua clueless harus ke mana dengan kondisi seperti gw saat itu. Harusnya sebelum lahiran, kita bikin simulasi dulu, harus ngapain dan ke mana di hari H nanti. Tapi nasi udah jadi bubur ngga usah dibahas lagi.

Untung ada satpam yang bilang langsung ke Ruang Bersalin, walaupun gw masih lemot dan masih mikir, kok ruang bersalin sih? Mungkin karna gw masih stuck pada pemikiran kalau belum waktunya gw melahirkan. Saat itu yang ada di pikiran gw cuma: ketemu suster, konsultasi dan langsung pulang karna belum waktunya.

Jadi waktu si Pak Satpam suruh langsung ke Ruang Bersalin, gw bingung. Kebingungan gw pasti sangat obvious yaa, sampai-sampai Si Pak Satpam inisiatif nganterin kita ke Ruang Bersalin lewat lift. Dianterin pula sampai depan pintu Ruang Bersalin.

Suster pun bukain pintu, gw disuruh masuk tapi katanya Ryan ngga boleh nemenin selama proses observasi. Di situlah awalnya perasaan gw berubah dari nervous menjadi takut. Karna dari awal gw udah mikir seluruh proses persalinan gw pengennya ditemanin Ryan. Gw ngga mau lalui proses itu sendiri! Tapi Ryan tetap ikut masuk sih :p ngomong bentar sama suster, samperin gw dan akhirnya keluar lagi untuk ngurus admin.

Setelah masuk, ternyata ruang bersalin itu ngga seperti yang gw pikirin. Selama ini gw berpikir seluruh proses persalinan dilakuin di dalam kamar (itu yang biasa gw lihat di film-film), tapi ternyata emang ada satu ruang khusus yang isinya ruang observasi (sekitar 4-5 ranjang) untuk proses CTG dll + 1 ruang persalinan normal di dalam ruang bersalin tersebut.

Di dalam, salah satu suster langsung suruh gw pipis dulu. Setelah pipis, gw disuruh baring di tempat tidur. Begitu baring, langsung dipasang alat CTG yang dihubungin ke perut gw (untuk mantau keadaan jantung baby dalam perut). Katanya selama setengah jam.

Dan selama pemasangan alat CTG tsb, salah satu suster yang cukup senior datangin gw dengan SARUNG TANGAN BIRU. Feeling gw langsung mengatakan this is it!!! CEK DALAM.
Suster senior: “yuk, dicek ya…” 
Gw: “cek dalam???” dengan reaksi kayak ngga mau gitu. *drama!*
Suster senior: “katanya mau normal, kalau mau normal harus siap. Beneran mau normal ngga nih? Ayo siapin mentalnya… ngga boleh setengah-setengah ya.” — kurang lebih itu yang dia omongin.

Si suster lebih ke tegas sih bukan kasar… tapi tetap aja gw merasa sedikit diserang dan kurang dikasih “pendahuluan” (karena biar gimana pun gw kan belum pengalaman, gw ngga tahu apa aja yang harus gw hadapi dan itu bikin gw nervous), tapi setelah itu ya cuma bisa pasrah dan proses itu pun dimulai.

Ngga usah gw ceritainlah detailnya… yang jelas begitu selesai, gw bersyukur banget dan dalam hati bilang, “udah ya?!” Ngga berani nanya ke para suster, karna ngga mau mereka ngira gw kuat!! Dengan asumsi kalau mereka ngira gw kuat, mereka akan lakuin lebih sering. Hahahaha sanking tegangnya sampai jadi shallow gw. Soalnya emang ngga lama dan ngga parah sakitnya… ngga sesakit yang gw kira.

Proses cek dalam pertama selesai, suster datang lagi untuk mantau CTG gw, dan pasangin gw selang oksigen karena detak jantung baby sedikit lemah di dalam sana… dan si suster suruh gw sering-sering tarik nafas panjang dan hembusin untuk bantu baby di dalam. Dia tunjukin hasil cetakan CTG sebagai buktinya… (hasil cetakan CTG tuh yang mirip di film-film; kertas yang muncul garis naik turun) nah garis naik turunnya Gwen-Gwen pendek-pendek dan kurang naik turun. Setelah gw dipakein oksigen, garisnya lumayan panjang-panjang dan lumayan tinggi naik turunnya.
belum ganti baju RS, setelah CTG selesai baru digantiin…
Selama proses CTG itu, gw tiduran di ranjang, gw bisa dengar di sebelah kiri dan kanan gw juga ada bumil lain. Bedanya dua bumil itu dengan gw adalah mereka pengen lahiran secara caesar — ngobrol sama suster dengan super santai, janjian besok datang jam enam pagi untuk operasi. Sedangkan gw, sambil CTG sambil nahan sakit kontraksi!! Gw mulai goyah dan mikir, apa gw caesar juga aja ya…?!

Bersambung aja ya soalnya udah kepanjangan… /XD

part 2/2