Yang Gw Bawa Kalau Travelling (Bareng Anak)

Postingan terakhir gw tanggal 3 Februari, itu gw lagi batuk dan sakit gusi. Hari ini udah tanggal 8 februari, gw masih batuk (tapi udah ngga separah awal-awal), sakit gusi pun berubah menjadi sakit gigi sebelah kanan. Sepertinya sih karena gw panas dalam, karena semakin sering gw mandi dan juga minum air putih (dan green tea), semakin mendingan sakitnya.

Oh ya, belum lama ini gw masih sempat ke mal sama mereka dan masih ngejar aja dong. Sempat gw cuekin, dengan cueknya dia lari full power ke eskalator dan sedikit lagi melangkah ke anak tangga eskalator. Lihat gitu, gw terpaksa lari full power juga dan tangkap tangannya. Dan sama-sama naik eskalator dong T_T padahal tujuannya bukan mau ke atas.
Udah sampai atas, gw lihat si Ryan di bawah celingak-celinguk nyariin (sambil dorong stroller isi FF), gw panggil-panggil ngga ngeh dia. Akhirnya gw dan GG turun lagi, Ryan udah hilang dan kita mutar-mutar saling nyari. Hahahah..
(Ga bisa telepon karena tas gw tergantung di stroller).

Anyway… sesuai judul di atas, di bawah nanti akan gw list down barang-barang yang gw bawa kalau ke luar kota/negeri atau sekedar staycation di hotel (Jakarta).
Continue reading

Januari Kemarin

Hari ini gw mau kasih tahu bahwa… Gw capek. Gw lelah. Gw batuk… dan gusi sebelah kanan gw sakit.

Kata pembaca: “nulis blog bukannya yang bikin semangat malah bikin ikut lemas!!”

Hihih… kalau ngga di sini di mana lagi gw curhat dan ngoceh dengan gratis? 😀 Kalau ke Ryan terus kan kasihan. Jadi… anggap aja sesi terapi gratis yaaa… (dan yang baca jadi terapisnya *lalu blog ini pun kehilangan pembaca*).

Karena gw capek, lelah, batuk dan gusi sakit…, membuat gw berpikir: KENAPA DI INDONESIA BANYAK BANGET PERAYAAN DAN LIBUR???! DAN WAKTUNYA BERDEKATAN PULA. *padahal mah di luar negeri juga sama ya?*

Buat orang kantoran mungkin senang karena bisa istirahat bentar dari kerjaan… tapi buat emak-emak satu balita dan satu batita kayak gw malah jadi lebih repot; terutama karena harus pergi-pergi… di mobil (GG ngga bisa diam, carseat udah ngga mau, carseat portable; udah bisa kabur), satu-satunya senjata gw cuma kasih nonton Youtube! Dan untungnya adiknya masih mau di carseat. Terus juga di mal, di rumah orang – yang akan gw ceritain di bawah.
Continue reading

My Drama Queens

Hihi ini udah postingan ke-tiga yang gw tulis, setelah balik dari jeda lama… udah ngga stop di postingan ke-dua lagi. Hooraayy… 😀

Salah satu hal yang membuat gw ingin melahirkan secara “normal” (pastinya kalau diberi kelancaran) adalah karena gw orangnya suka penasaran.

Salah satu hal yang bikin gw penasaran waktu hamil adalah kapan waktu yang Tuhan tentukan untuk anak-anak gw lahir, dan kenapa di hari itu ^_^. Biarpun ngga semua hal harus ada maksud “terselubung” dan Tuhan “bilang” pengen aja di hari tersebut, gw tetap puas.

Untuk GG dan FF, sebenarnya gw rada mendapatkan kejutan, biarpun bukan sesuatu yang besar, gw tetap merasa seperti Tuhan berkomunikasi dengan gw! (rada lebay ya, tapi ngga papa, kan? Ngga bikin orang lain rugi, kan?)

Yang gw maksud adalah seperti di bawah ini:

GG keluar di minggu ke 38
FF keluar di minggu ke 39
(di dua kehamilan itu, gw pakai aplikasi kehamilan yang sama, dengan mengisi tanggal ‘hari pertama haid terakhir’ yang tepat *karena memang setiap kali haid, gw catat tanggal hari pertamanya setiap bulan ke note*)

GG lahir jam 11-an siang
FF lahir jam 11-an malam

GG lahir di hari Kamis
FF lahir di hari Jumat

GG lahir di awal bulan, menjelang akhir tahun (01 Agustus)
FF lahir di akhir bulan, pada awal tahun (30 Januari)
Perbedaan umur mereka pas 1,5 tahun (eh, kurang sehari deh) / 18 bulan kurang sehari / 547 days to be exact!

GG lahir menjelang Idul Fitri 1434 H
FF lahir menjelang CNY/Imlek 2566

Proses kelahiran GG 12 jam-an
Proses kelahiran FF 2 jam-an
Sama-sama di pembukaan 3-4 cm ketika sampai RS.

Sama-sama keluar hanya setelah beberapa kali push (lama di tunggu pembukaan komplit). Dan sama-sama ada lilitan 1x di leher.

Sama-sama punya golongan darah yang sama dengan daddy mereka. Padahal golongan darah gw umum banget yaitu O+.

Karena golongan darah mereka sama-sama beda dengan gw, itu juga yang menyebabkan badan mereka sama-sama kuning/Jaundice karena angka bilirubin yang semakin meningkat di hari ke-dua, dan semakin parah di hari ke-tiga kelahiran dan harus disinar biru (fototerapi).


Untuk sifat dan sejenisnya:
GG, awalnya punya kecenderungan shy, ngga masalah main sendiri. Walaupun kadang bisa tiba-tiba nyapa orang-orang asing di dalam lift (“Hi guys…”) dan orang-orang yang pakai T-shirt dengan karakter kartun yang dia tahu, pasti kena panggil.

Belakangan ini, dia udah ngga takut orang lagi, contohnya waktu main di tempat yang ada playgroundnya, dia bisa suruh bapaknya anak lain untuk kasih aba-aba karena dia mau turun dari slide. Buat yang penasaran, dia ngomongnya gini: “uncle..uncle.. on your mark, get set, go..” Karena awkward, unclenya cuma ngomong, “one two three…” eh dia ngotot dong suruh ngomong: “on your mark, get set, gooo…” pas udah diturutin, baru dia turun. Dan ulang kejadian itu “1000x” dengan orang-orang yang ada di dekat dia waktu itu.

FF, punya kecenderungan galak. Teriak kencang, nangis kencang, dan kalau ada yang deketin mommynya tiba-tiba, dia akan datang dengan cepat dan dorong orang tersebut sampai lepas dari badan mommynya. (GG dan daddynya yang paling sering jadi korban). Dan belakangan ini, mommy-daddynya ngga boleh nyanyi bareng atau ketawa bareng. Bisa teriak kencang dia. Ampun deh.

Waktu masih rada kecilan, dia berani samperin sambil lari kecil ke orang-orang asing di mal yang manggil dia karena gemas (bahaya!), tapi udah gedean gini, rada penakut, kayak mematung gitu kalau didekatin orang. Mata tetap lirik-lirik melotot tapi badannya ngga berani gerak. Baru setelah gw dekatin, dia berani bergerak…, berusaha manjat badan gw dan setelah gw gendong, buru-buru sandarin kepalanya ke bahu gw sambil lanjut lirik melotot ke orang tersebut.

Kalau ketemu sodara atau teman-teman gw juga gitu, harus tunggu kurang lebih satu jam, luntur takutnya dan jadi liar, lari sana sini, teriak-teriak girang, nyanyi-nyanyi girang;  main sama cicinya dan anak-anak seumuran.

Ya namanya juga anak kecil ya, masih polos. Tapi yang membuat gw merasa lega adalah mereka gampang banget dibujuknya kalau lagi ngambek, tapi dengan cara yang berbeda.


Kalau ngambek:
GG, cara gw bujuk harus dengan soft dan seperti menuruti maunya dia. ‘Seperti’ loh ya, bukan benar-benar menuruti. Seolah-olah gw sangat mengerti dia, seolah-olah dia sedang curhat dan gw pendengar yang baik  (yang ngga perlu nasehati panjang lebar, cuma “hmm…hmm.. iya.. iya tahu…” pun cukup). Dan dia akan melembek sendiri.

FF, boro-boro bisa dilembutin, malah tambah parah. Triknya beda banget sama cicinya…, yaitu harus bercanda. Harus ceriaaa dan gw harus terlihat heboh bercandanya ke dia. Pasti langsung lupa sama ngambeknya.


Lalu bagian dramanya di mana?
Yang gw maksud dengan drama adalah seperti ini:
(gw rangkum beberapa dari sejak mereka kecil)

GG:
Mommy keluar buat buang sampah, nangis.
Kebangun tidur, ngga ada Mommy di sebelahnya, nangis.
Lihat Daddy pijat Mommy, nangis.
Mommy masuk kamar dan tutup pintu, nangis.
Mommy bilang, ‘Mommy is angry’, nangis.
Sandalnya ketinggalan di bawah meja resto, heboh panik minta diambilin.
Mommy bilang, FF ngga ikut (jalan-jalan), ngamuk dan setengah mati tarik stroller FF.

Dan FF:
Strollernya ditarik-tarik gitu, nangis.
Kejambak rambut sendiri, nangis.
Dengar suara sendiri (yang agak kencang semacam bersin) – kaget, nangis.
Ngantuk, nangis.
Pup, nangis.
Panas, nangis.
Cicinya nangis, ikut nangis.
Nengok ke kiri/kanan dan lihat ada daddynya – kaget, nangis.
Mommy masuk toilet, nangis.
Mommy duduk di depan meja dapur dan buka laptop (dengan maksud ingin update blog), nangis.

Tapi yang buat gw salut terhadap FF adalah ketika dia ngga enak bodi, sakit panas, atau muntah (yang untungnya dia bukan tipe anak yang suka muntah, so far cuma pernah muntah sekali, itupun sedikit) dan DIA NGGA NANGIS, ngga rewel. Untuk hal-hal tertentu dia super tough.

Sedangkan yang gw bangga dari GG adalah dia sayang adiknya. Dia suka bagi makanan ke FF tanpa disuruh, kalau gw bilang adiknya ngga usah ikut pergi, atau ketika selesai makan di resto, gw dan Ryan sengaja tinggalin FF di baby chair tanpa basa basi, si GG ngeh dan teriak-teriak manggil adiknya sampai nangis. Begitu udah bawa adiknya, dia pegang tangan adiknya dan pastiin adiknya “aman” di stroller. So sweet!

Dan namanya anak kecil ya pasti ada lah rebutan atau sejenisnya, tapi belum pernah sampai saling pukul atau sejenisnya (jangan sampai deh), juga masih tergolong gampang dibilanginnya dan bisa disuruh untuk bilang “sorry” dan kiss/elus sayang kepala satu sama lain.


Bangga-Banggain Anak

Gw nulis gini bukan mau pamer dan bangga-banggain anak, tapi emang gw BANGGA dan itu ngga tabu dong. Memangnya anak tercipta untuk dicari-cari kesalahannya? Dan ngga boleh dipuji?

Jujur aja ya, kadang gw suka merasa risih kalau lihat emak-emak saling “jelek-jelekin” anaknya, semacam tabu gitu kalau membanggakan anak. Yang sekalinya si Anu kasih tahu tentang “pintarnya” anaknya sperti apa, tiba-tiba aja ada yang ngomongin si Anu dari belakang dengan ditambahi bumbu “padahal anaknya biasa-biasa aja”. Si Anu bukan gw, gw itu saksi bisu.

Maksud gw biasa aja kali kalau berteman. Jangan banyak drama. Mau curhat tentang anak, mau bangga tentang anak, cerita aja apa adanya. Dan dengarin juga apa adanya. Ngga usah ada sirik atau malah senang di belakang.

Namanya anak, beda-beda kali perkembangannya. Dan pintarnya juga beda-beda. Termasuk perkembangan fisik juga beda. Waktu anak masih kecil berlomba-lomba gemukin anak, kenapa ngga sekalian aja emak-emaknya yang berlomba-lomba siapa yang paling gemuk! Atau ketika ada emak yang ngga mempermasalahkan anaknya gemuk atau biasa aja, malah jadi tersangka dalam kasus “Ngga Kasih Makan Anak” *curcol*.

Btw, kalau lomba emak-emak gemuk, gw bisa jadi salah satu calon juara kali, beberapa bulan sejak FF lahir, ini torso dan pipi ikut melar. (yang kalau ngga segera atur pola makan dan olahraga teratur, bisa merambat ke tangan dan kaki) *curcol lagi*.

Balik lagi ke soal bangga terhadap anak…

Termasuk juga anak-anak gw, banyak hal yang bikin bangga, tapi ada juga yang bikin gw beban pikiran. Tapi bukan hasil dari gw bandingin mereka dengan anak-anak lain. Cuma karena memang gw (dan Ryan) yang kadang suka overthinking dan juga merasa ngga akan terlalu repot kalau seandainya hal-hal yang jadi beban pikiran itu  udah bisa mereka lakukan.

Seperti apanya, nanti gw tulis di postingan tersendiri. Sementara udahan dulu, udah terlalu panjang postingan ini. 🙂

Cara Gw Nolong Diri Sendiri

1. Selalu siapin satu botol besar air putih (min 1 liter) dan habiskan dalam sehari. Alasan gw simple, supaya ngga dehidrasi. Karena menurut pengalaman gw (sebagai orang yang suka mengamati dan detail), dehidrasi bisa bikin kita mellow, juga gampang emosi. Mungkin sama kali ya efeknya dengan kalau lagi lapar?! (dehidrasi ringan ya, kalau dehidrasi akut bukan mellow lagi tapi bisa ngga nafas lagi).

2. Untuk penyemangat, gw suka minum kopi dan bubble milk tea, ngga mungkinlah sepanjang hari cuma minum air putih doang, mana sanggup. Kopi atau bubble milk tea itu dua-duanya efektif bikin gw jadi aktif dan semangat. *bubble milk tea yang gw suka cuma di Come Buy, di tempat lain ngga suka karena ada yang bubble/pearl-nya terlalu lembek, ada juga yang manissss banget, biarpun sugar bisa dikurangi, tapi tetap ngga pas. Eh ini kenapa jadi iklan ya?? Btw ini bukan iklan ya, ini murni pendapat gw sebagai pembeli.* Kopi bisa hampir setiap hari, kalau bubble milk tea ngga mungkinlah setiap hari, ngga setiap minggu juga, bisa dipelototin Ryan karena minum yang manis-manis. Dia itu biar cowo, tapi lebih sadar kesehatan (dalam hal makanan) daripada gw.

3. Buat gw yang bisa masak tapi malasnya ngga ada yang ngalahin, solusinya adalah beli makanan jadi. Kebetulan di sini ada yang jualan dan murah meriah dan bisa diantar naik ke unit apartemen gw. Ngga setiap hari, tapi lumayan ngasih solusi soal makanan.

4. Setiap malam sebelum tidur, gw memastikan piring-piring kotor dan teman-temannya sudah tercuci… supaya ketika bangun pagi pikiran ngga butek ngelihat yang kotor-kotor. Dan kalian bisa tebak dong, ini ngga selalu bisa terjadi tiap hari, tapi sebisa mungkin gw lakuin.

5. Kalau mau beresin sesuatu (mainan di lantai dsb) LANGSUNG ACTION, jangan banyak mikir apalagi ngomong aduhh aduhh… Masuk-masukin langsung semua ke keranjang/box/kantong plastik besar. Ngga sampai 15 menit. Taruh ke pojokan kalau niat kasih mereka main lagi, kalau ngga, langsung gw sembunyiin ke kamar lemari baju. Keluarin lagi cuma kalau udah ngga tahan diteror GG.

6. Siapin barang penting di beberapa titik rumah. Di setiap pojokan harus ada diaper, tissue basah dan lain-lain. Walaupun suka dihilangin dua anak dan tetap nyariin kalau lagi butuh, tetap ngga kapok, taruh terus.

7. Udah jadi rahasia umum kali ya kalau yang namanya stay at home mom itu jarang mandi, sehari bisa sekali udah bagus loh… (eh, apa jangan-jangan gw doang ya… jadi buka aib sendiri dong -_-“) solusi buat gw sendiri adalah begitu bangun tidur gw harus buru-buru mandi. Karena kalau ngga, gw ngga akan punya waktu sampai malam. Wong pipis/pup aja ada penontonnya. Hiks.

8. Gw berusaha sempatkan diri untuk berdoa (dan baca Bible). Jujur gw sering lupa berdoa, tapi sebisa mungkin gw berusaha ingat. Karena buat gw, berdoa itu sangat membantu gw untuk calm lagi dan bersyukur lagi terutama.

9. Kalau ada kesempatan, gw akan ambil waktu “me time”, walaupun cuma dua jam dan cuma ke mal, gw manfaatkan untuk makan-makan sendiri, PESTAA sendiri. Itu “me time” favorit gw, MAKAN SENDIRI DI RESTO MAL. Makan teppanyaki, sukiyaki, sushi, semua yang gw suka tapi ngga bisa gw makan kalau bareng anak!

10. Waktu FF masih newborn, gw yang udah capek gendong GG (yang udah ngga ringan lagi badannya), berusaha untuk ngga gendong FF ketika dia rewel (padahal udah minum susu), berbagai cara gw coba yaitu: diam alias ngga berani keluarin suara, tepok-tepok pahanya, tepok-tepok pantatnya, tepok-tepok bahunya, sayang-sayang rambutnya, ngga berhasil (itu berbagai caranya? *glek*) akhirnya gw nyanyi, ehhh dia mau diam juga… dan waktu gw berhenti nyanyi dia nangis lagi, akhirnya nyanyi terus. Ada waktunya gw capek nyanyi, gw coba kasih mainan yang ada lullaby-nya. Eh mau juga tuh… padahal udah geer, kirain suara gw merdu gitu sampai bisa bikin dia nyaman untuk bobo. Tapi udah hampir dua tahun gini umurnya, mana tahan gw untuk ngga gendong-gendong terus… lagi lucu-lucunya dan wangi baby-nya benar-benar jadi aromaterapi buat gw!

11. Alat penyelamat lain untuk gw adalah PLAYPEN (waktu GG masih lebih kecil)! Menurut gw itu wajib untuk punya ya. Fungsinya bukan untuk ngurung anak seharian tapi menurut gw at least dalam satu hari kita butuh moment tenang 1-2 jam (ya kalau anak mau duduk manis main dan ngga neror). Buat gw yang dua anak masih toddler, susah gw awasin dua-duanya, terutama pada saat gw harus bikinin lunch untuk mereka. Mau tinggalin di kamar pun gw takut, karena ya itu masih sama-sama kecil. Lagian GG udah bisa buka pintu kamar. Oh dear…!

Selain playpen, gw juga pakai pagar hexagonal dan dialasi karpet korea itu. Tapi sekarang pagar itu udah dibuka, alias dilurusin panjang gitu, buat tutup dapur, namanya juga dapur apartemen, ngga terlalu besar, jadi sangat nolong pagar itu.

12. Belakangan ini, dengan adanya isu-isu politik, dan semacamnya…, membuat gw semakin mantap untuk kembali berolahraga. Hahah ngga nyambung ya? Ada hubungannya kok. Gw jadi pengen olahraga karena pengen fit lagi, supaya kalau ada sesuatu yang tidak diinginkan (you name it), gw punya fisik yang cukup kuat (untuk lari, gendong dua anak, kabur, ataupun melawan). Gw SADAR kok kalau ini kedengaran konyol banget tapiiii mohon dilihat dari sisi positif aja ya, at least gw jadi termotivasi, IYA KAN?! Hehe gw ngga 100% serius kok, deep down, gw percaya sama pemerintahan yang sekarang.

Balik lagi ke olahraga (sementara jogging dulu), itu bisa bikin pikiran gw lebih terbuka, ngga gampang sensi, jadi lebih semangat dan pastinya berat badan turun dan kepercayaan diri meningkat. (moga-moga juga setelah ini, gw ke mal dipanggilnya “Kakak” lagi seperti dulu dan ngga ada lagi yang panggil “Bu”. *ngga sadar umur*)

13. Solusi untuk anak yang picky eater (GG)? Pasrahhh dan melakukan terapi dengan cara sering kasih makan si pemakan segala (FF). Gw sering bilang ‘pasrah’ ke Ryan, setiap kali dia cemasin GG karena benar-benar picky… tapi diam-diam juga gw usaha sih… dengan cara bikin suasana makan yang ceria, bersikap konyol, suapin dia pakai tangan, kasih dia makan sendiri pakai garpu dan alat-alat dapur yang aneh… Cara-cara itu sering berhasil tapi untuk makanan sehat tertentu. Dan beberapa cara ngga bisa diulang lagi karena udah ngga mempan. Dan belakangan gw mulai ngeh, si GG mau makan kalau makanan itu beraroma masakan yang gw masak sendiri di wajan/panci. Contohnya telur goreng atau mie goreng yang gw bikin untuk diri sendiri. Dia bisa tiba-tiba samperin sambil hidung endus-endus dan minta. Tapi belum pernah gw praktekin untuk masakan sayur-sayuran, ya karena seperti yang gw bilang tadi, gw baru ngeh belakangan ini.

Si GG ini bukan ngga mau makan atau mogok makan ya, tapi dia picky banget. Dia mau makan, yang dia mau. Contohnya Pizza, roti, biskuit, corn flakes, Chocolate cake, KERUPUK dan lain-lain. Segala makanan yang kebanyakan ngga mungkin gw kasih ke dia setiap hari. Dan untungnya makanan seperti telur, nasi putih (aja), nasi uduk (aja), sedikit ayam, dia masih mau. Tapi semua harus yang sesuai “pattern” awal. Maksud gw: kalau telur cuma mau yang gw bikinin, kalau nasi uduk cuma mau yang beli di tempat A, intinya ngga boleh beda dari yang pertama kali dia cobain lalu suka tersebut. *emaknya garuk-garuk kepala*

14. Dan cara gw menolong diri sendiri yang terakhir adalah berusaha untuk ngga mengeluh. Gampang banget ya nulisnya. Praktek rada susah. Tapi paling ngga gw berusaha loh. Diawali dengan menanamkan dalam pikiran: anak-anak gw ngga pernah minta dilahirin, mereka harus menikmati masa kecil yang ceria. Lalu sebisa mungkin ngga mikir: “Si anu enak banget sih…” Sebaliknya, gw selalu tanamin dalam pikiran gw: ini tugas gw, ini kewajiban gw, ini pekerjaan gw. Jadi ibu rumah tangga itu pilihan gw. Jadi gw yang harus cari penyelesaian, gw yang harus cari cara, cari solusi supaya “pekerjaan” gw ngga terlalu sulit, ngga terlalu melelahkan!

Gw ngga bilang gw bisa semua sendiri, ada kalanya gw harus dibantu dan pada saat gw merasa butuh bantuan suami, gw selalu minta langsung. Gw ngga berharap suami gw bisa baca pikiran gw, lalu super pengertian dengan nawarin pertolongan persis seperti yang gw inginkan. Dia bukan Tuhan yang tahu isi pikiran gw, dia juga punya kerjaan lain, juga bisa capek (kadang ngelihat dia tidur, gw suka kasihan gitu ngga tahu kenapa… tanda kurang minum air putih kali alias mellow *lol*). Ya kadang kalau tiba-tiba dia seperti bisa baca pikiran gw, gw anggap bonus aja deh dan berharap semoga ngga ketagihan.

Sementara segini dulu ya rangkuman cara gw nolong diri sendiri… kalau keingat yang lain, baru tulis lagi. Dan di bawah ini foto terbaru dua bocah yang bikin mommy-nya harus cari cara untuk menolong diri sendiri, supaya bisa jadi mommy yang “ramah lingkungan” dan tidak menyebabkan “polusi” untuk keluarganya. 🙂

gg

GG – (hampir) 3 tahun 4 bulan, udah lumayan susah difoto!

ff

FF – (hampir) 1 tahun 10 bulan

 *Btw, gw lupa mention kalau judul blog ini udah gw ganti dan gw samakan dengan alamat blog ini. Dari “Time Teaches Us How To Love” menjadi “Too Busy To Worry!” Simply karena gw benar-benar pengen ninggalin blog yang lama dan mulai dari awal lagi. 🤓

Sejak Menjadi Seorang Mama

  • Gw belajar banyak tentang disiplin. Gw belajar menjadi lebih rajin dan lebih determined dalam melakukan sesuatu!
  • Jadi suka donlod video nursery rhymes di Youtube.
  • Gw jadi “kolektor” stiker.
  • Awal GG lahir, karena pagi-siang-malam lihat mukanya GG, ketika nengok ke muka Ryan atau orang dewasa lainnya, berasanya muka mereka gede banget.
  • Gw jadi tahu bahwa gw itu lebih kuat dari yang gw pikir (secara fisik).
  • Gw jadi tahu bahwa ternyata gw itu orang yang romantis. (setiap hari, hampir setiap waktu ngucapin: “i love you, baby…”, “mommy loves you soooo muchhhhh.”)
  • Menjadi seorang yang “paranoid“. (Sering memperhatikan gerakan dada GG & FF ketika mereka tidur, untuk memastikan mereka masih bernafas, suka curiga mereka sembarangan pungut barang dan ketelan).
  • Jadi gampang kagetan.
  • Gw jadi ceroboh… sering banyak lebam dan lecet yang ngga jelas kapan terjadinya dan karena apa.
  • Walaupun sangat ingin, tapi ngga pernah lagi pakai high heels.
  • Awalnya kalau mau keluar rumah, gw selalu dilema antara mau bawa tas pribadi/ngga, sampai akhirnya sekarang-sekarang ini ngga pernah lagi bawa tas pribadi. Hp dan dompet asal selip aja di diaper bag mereka.
  • Yang wajib kalau keluar rumah adalah pakai camisole, karena gerakan dua anak yang suka ngga terduga. (Jadi kalau mereka tiba-tiba tarik/angkat baju luaran gw, kulit masih tertutup :D) kalau dipikir-pikir mungkin karena gw “trauma”:

    *pernah kejadian: kita lagi makan di foodcourt, (FF baru lahir beberapa bulan) gw lagi duduk dan perut emang masih gendut waktu itu (kayak sekarang udah rata aja hehe), tiba-tiba GG bilang, “ball!!” sambil angkat baju gw!!! OMG. Dia kira gw sembunyiin bola di balik baju. Ryan ketawa ngakak! Dan gw… cuma bisa bersyukur kiri kanan ngga ada orang.*

  • Gw menjadi seorang day dreamer. Yang paling sering gw bayangkan adalah waktu yang gw sia-siakan ketika masih single, ketika gw punya waktu yang bebas gw pakai untuk kerjain semua mimpi gw. Gw tahu sekarang pun gw masih bisa kejar mimpi itu, tapi waktu udah ngga kayak dulu lagi. Prioritas gw udah berubah sejak anak pertama lahir. Dan mimpi gw itu masuk antrian ke-4 (setelah Ryan, GG dan FF). Anehnya, walaupun mereka adalah alasan waktu gw ngga lagi fleksibel, tapi mereka juga yang jadi alasan gw untuk ngga menyerah. Faktanya, justru mereka yang saat ini bikin gw rangkak pelan-pelan untuk wujudin cita-cita gw!
  • Gw menjadi peminum kopi.
  • Gw menjadi lebih sering malu dibanding sebelum punya anak. Karena ada-ada aja ulah mereka yang melibatkan orang asing. Contoh: di mall ada objek foto gitu, orang-orang lagi foto-foto, tiba-tiba GG belok ke sana dan nimbrung dong di sekitar situ, udah dipanggil-panggil dan bujuk, masih bertahan di situ. Akhirnya? IKUT FOTO SAMA MEREKA (karena diajak). -___-“
  • Lebih selektif milih restoran kalau makan keluar… bukan fokus milih yang sehat atau sejenisnya sih, tapi milih yang ada baby chair dengan tali. Ada beberapa restoran yang tali pengaman di baby chairnya dilepas gitu. Sedangkan GG dan FF tipe anak yang suka kabur dari baby chair. Kalau ngga pakai tali pengaman, tahu-tahu udah berdiri aja di atas baby chair tersebut.
  • Waktu anak gw baru satu, gw kira ngurus anak itu berat. Sekarang setelah anak udah dua, gw cuma bisa bilang… wahai kalian yang masih beranak satu…, manfaatkanlah waktu buat istirahat (khususnya untuk para stay at home mom yang ngga pakai jasa PRT). Waktu anak lo tidur, mau ada kerjaan kayak gimana pun, tinggalin dan ikut tidur! Karena kalau anak udah dua, ngga ngerti kenapa ini kejadian di gw, GG dan FF kalau tidur siang itu hampir ngga pernah bareng. Entah kenapa mereka gantian gitu. FF tidur duluan, pas bangun, gantian GG tidur. Gw ngga punya kesempatan untuk santai. Hiks. Pernah sekali dua kali barengan, itu gw anggap bonus… bonus yang sangat melegakan!
  • Sebelum punya anak, gw belum pernah dengar istilah “me time“, tapi setelah punya anak, “me time” adalah sesuatu yang gw impikan. Walaupun ketika dikasih kesempatan “me time” sama Ryan dengan cara dia bawa dua anak main ke rumah nyokapnya alias mamer gw; gw ngerasa bersalah banget dan cemasin mereka banget. Ada semacam perasaan gelisah gitu.
  • Sebelum punya anak, gw dan Ryan ke mana-mana selalu bareng, sejak punya anak, nonton di bioskop pun harus gantian (karena kita tinggal di apartemen yang ada mall, jadi bisa gantian turun) jadi misalnya Ryan nonton yang jam 1, gw yang jam 3-nya… tapi di studio dan seat yang sama (romantis ya haha… :p) *biar bisa gantian, tapi hobi ini semakin jarang kita lakuin sejak FF lahir*
    Urusan makan pun pernah harus gantian… tapi ngga sering. Karena GG dan FF lagi tidur, jadi kita parkir depan resto dengan mesin nyala dan salah satu masuk resto untuk makan, salah satu jaga anak, lalu gantian.
  • Kalau ada barang yang hilang;
    Dulu: “coba ingat-ingat taruh di mana?!”
    Sekarang: “Si GG buang / taruh / sembunyiin ke mana ya?!”
  • Yang namanya kasur tambahan itu pasti harus ada. Biarpun badan kecil, tapi GG itu penguasa kasur kita. Sampai daddynya harus ngalah, tidur di kasur tambahan. Sedangkan FF masih mau tidur di box.
  • Kalau gw beruntung anak lagi bobo siang bareng; jalan harus kayak pencuri, nyolong-nyolong nonton tv, dengan volume mute! Sebisa mungkin jangan gaduh, karena kuping mereka sensitif banget.
  • Jadi TV lagi mute gitu, gw lagi cuci piring (pelan-pelan juga); bingung tiba-tiba ada suara senandung gitu, “Robot number one… we’re gonna have some fun… robot number one…” eh ngga tahunya diri sendiri yang lagi senandung. Dan senandungnya bukan lagu masa kini lagi, tapi lagu robot-robotan, nursery rhymes yang biasa mereka dengerin. -_-“
  • Dulu kalau keluar rumah, ketemu orang cuek-cuek aja. Tapi sekarang sering disapa orang asing, nanyain anak-anak gw atau yang berkaitan. Bahkan Ryan bisa saling senyum dengan bapak-bapak lain cuma karena sama-sama lagi gendong anak.
  • Warna lutut jadi gelap karena sering bertumpuh di lantai nemenin mereka main.
  • Ajaibnya, gw punya nama baru, yaitu MOMMY. Seumur hidup kalau Tuhan mengijinkan, nama itu akan terdengar terus di telinga gw. Nama panggilan yang paling senang gw dengar.
  • Sebelum punya anak, gw sering bertanya-tanya, kenapa ada orangtua (terutama ibu) yang memperlakukan anaknya dengan perlakuan, sebut saja “perlakuan tidak menyenangkan #1” & “perlakuan yang membunuh kepercayaan anak terhadap dunia” Gw kecewa dan kecewa! (artinya kecewa banget *rolling eyes*). 

    Tapi sejak pertama kali gw melahirkan dan merawat anak, gw cuma bisa bilang, gw finally ngerti kenapa ada orangtua seperti itu. KARENA membesarkan dan merawat anak itu bukan sesuatu yang gampang. Dibutuhkan kesabaran, ketenangan, ngga gampang panik, dan kekuatan ekstra untuk bisa cuek dan tutup kuping dari opini orang-orang ngga berkepentingan. Dan terutama juga butuh dukungan/bantuan dari suami yang pengertian.

    TAPI BUKAN BERARTI “perlakuan tidak menyenangkan” itu boleh dibenarkan. Gw cuma bilang gw finally mengerti. Dan gw tahu, anak-anak gw aman bersama gw… Gw tahu gw akan melindungi mereka, bukan cuma secara fisik tapi juga psikis. Bukan karena gw hebat ya, tapi karena gw punya Tuhan yang udah lebih dulu beri gw rasa aman dan perlindungan itu. I know I can do it! (in the name of Jesus Christ) Amen. 🙂

Cerita di Balik Cerita

*Tadinya postingan ini judulnya Cerita Kelahiran si Bungsu (2/2) tapi karena intronya (lagi-lagi) kepanjangan, gw bikin post tersendiri aja.

Cerita di Balik Nama Faye Naomi

Untuk nama depan, gw dan Ryan dari awal emang mau punya anak dengan nama yang singkat dan padat. Out of sudden, Ryan ngasih ide nama Faye (baca: Fei, bukan Fa-Ye; trust me, ada yang manggil Fa-Ye.) Awalnya gw ragu (karena ini di Indonesia) takut ada yang panggil dia “Fa-Ye” dan emang terbukti ada. Tapi setelah nyari-nyari dan ngga dapat nama lain, gw mulai mempertimbangkan nama “Faye”.

Untuk nama tengah, gw maunya ambil dari Bible lagi, cari nama lain. Tapiiii lagi-lagi Ryan ada maunya, dia mau nama tengah Faye disamain dengan cecenya. Gw udah sempat dapat nama lain, tapi setelah renungin lagi, yaudahlah ikutin Ryan aja. Kesimpulannya gw suka dua nama itu (yang dipilih Ryan). Dan baru ngeh nama yang gw pilih kurang cocok setelah gw lihat Faye sekarang.

Alasan lain gw mau nama yang singkat dan padat adalah, gw suka banget dengan nama yang pengucapannya diulang. Contohnya: Gwen-Gwen dan sekarang adiknya juga jadi “korban”; Faye-Faye. Dan untuk mempersingkat ketikan (karena bakalan sering mention dua nama itu), mulai hari ini gw singkat: Gwen-Gwen jadi GG, Faye-Faye jadi FF. Ok.

Tiga Minggu Sebelum FF Lahir

Waktu trimester akhir gw hamil GG, sama sekali ngga ada clue kontraksi itu seperti apa dan sebagainya. Dan pada saat gw beneran udah kontraksi pun, gw masih ngga sadar. Cerita kelahiran GG bisa dibaca di sini (part 1/2) dan di sini (part 2/2).

Tapi di kehamilan ke dua beda banget. Dari tiga minggu sebelum FF lahir (antara minggu 35/36), gw udah resah gelisah banget. Badan berasanya berat banget, perut rasanya keras banget. Malam harinya benar-benar ngga bisa tidur, antara insomnia dan sesak nafas. Jadi kalau mau bisa ketiduran, gw harus posisi duduk di sofa, kiri kanan belakang depan harus keselip bantal yang banyak. Ngga bisa tidur lurus lagi.

Setiap kali perut mulai mulas dikit, pasti bertanya-tanya, “udah waktunya ya?” Sering juga takut FF lahir prematur, tapi waktu udah masuk 38w (GG lahir di 38w), setiap hari curiga terus kalau udah waktunya. Hitungin hari, lihatin kalender, ngga sabar banget pengen keluarin baby FF, karena rasanya udah engap banget. Belum lagi ditambah si GG, sejak awal gw hamil lagi, ya ampun, seolah-olah dia tahu di perut gw ada “saingan”nya dia, minta gendong terusss…!

Dan ES BATU, gw ngga bisa lewatin hari tanpa es batu. Kalau di kulkas ngga ada es batu, gw akan sangat kecewa. Bukan buat gw masukin ke gelas minuman terus diminum…, tapi buat gw kunyah gitu aja. Kadang gw isi air setengah penuh ke blok-bloknya supaya kalau udah jadi, ngga kegedean dan gampang gigitnya.

Ngga ngerti kenapa jadi pengen gigitin es batu padahal sebelum hamil, gw bukan tipe yang suka es batu, karena lebih suka minuman panas. Dan juga terbukti setelah melahirkan FF, keinginan untuk gigit es batu hilang gitu aja. Pernah coba sekali untuk gigit, tapi ternyata sensasi yang gw rasain waktu hamil itu, udah hilang.

Berapa lama lalu (setelah melahirkan), gw baca di sini kalau suka gigitin es batu bisa jadi ada indikasi anemia. Kalau mau tahu lebih lanjut buka aja linknya.  

Mirip Siapa?

Waktu GG masih bayi, semua orang yang gw kenal bilang dia mirip Ryan. Ada satu tante gw waktu lihat foto bilang GG mirip gw, tapi waktu jenguk, malah berbalik bilang mirip Ryan. Sekarang GG udah hampir dua tahun. Siapapun yang ketemu pasti bilangnya mirip banget sama gw. Ngga ada yang bilang mirip Ryan lagi. HAHAHAHAH. Bahkan Ryan sendiri bilang GG itu “mini me“-nya gw.

Sekarang FF… rata-rata bilang mirip banget sama Ryan. Tapi anehnya ada juga beberapa teman gw + saudara bilang mirip banget sama gw kayak ceplakan. Bahkan cecenya Ryan sendiri yang awalnya bilang FF mirip sama Ryan, tiba-tiba bilang FF itu “Vina kecil”. (kok bisa ya ada dua kelompok yang sama-sama bilang mirip banget, tapi yang satu bilang mirip bapaknya, yang lain bilang mirip emaknya… padahal kan emak bapaknya beda, ngerti ngga maksud gw?)

Kalau menurut gw… Gw dan Ryan itu punya mata yang ngga gitu beda jauh bentuknya. Bedanya mata gw ada double eyelid yang solid, sedangkan eyelid di mata Ryan ngga jelas gitu, mata yang satu ada, mata yang lain ngga ada. Tapi kadang-kadang bisa dua-duanya ada, kadang dua-duanya ngga ada. Di hari yang normal, satu ada, satu ngga ada. Biar gitu, mata Ryan tergolong belo.

*niat banget kan?*

*niat banget kan?*

Nahhh, GG itu eyelidnya ikutin Ryan banget. Dan FF ikutin gw banget. Eyelid-nya GG yang sebelah kadang ada, kadang ngga ada. Tapi kalau dua-duanya lagi ada, mirip banget sama punya gw bentuknya. Sedangkan Ryan kalau lagi ada, tetap ngga ‘dalam’ bentuknya. Sedangkan FF, dari lahir sampai sekarang, eyelidnya tetap solid bentuknya kayak gw. Tapi belo ikutin bapaknya.

Sedangkan bentuk muka, GG mirip banget sama gw. FF mirip banget sama Ryan. Dan Ryan itu kan ada lesung pipi, ternyata FF kebagian, GG ngga kebagian.

Jadi kesimpulannya, dua anak itu benar-benar campuran dari gw dan Ryan. 🙂 Di bawah ini gw kasih referensi foto gw waktu kecil, (sayangnya ngga ada foto Ryan, udah hilang ngga tahu ke mana). And you tell me, mirip GG or FF?

little-vina

Jadi, mirip GG or FF?

Lebih enak hamil GG atau FF?

Soal mual-muntah… waktu hamil GG, gw dua sampai tiga bulan pertama (kalau ngga salah ingat), paling cuma mual-mual aja, jarang banget sampai muntah gitu. Tapi kaki bengkak banget, bagian V juga sempat bengkak di trimester akhir (iya, beneran). Nah waktu hamil FF, empat sampai lima bulan pertama MUNTAH-MUNTAH-MUNTAH DAN MUNTAH. Tapi setelah itu, ngga ada keluhan apa pun. Bagian tubuh sama sekali ngga ada yang bengkak (kecuali dada dan perut, *yaiyalah*).

Soal insomnia dan sesak nafas kalau tidur lurus, di tiga minggu terakhir, itu sama-sama ngalamanin. Tapi di kehamilan pertama, gw masih bisa tidur di kasur.

Soal berat badan… hamil GG, total kenaikan berat badan gw: 10.7 kg, hamil FF total kenaikan berat badan: 4.9 kg. AJAIB. Padahal FF waktu lahir lebih berat daripada cecenya. Tapi kenapa berat badan gw naiknya lebih sedikit ya?

Sekarang berat badan gw persis sama seperti sebelum hamil, eh tapi jangan dibayangin kurus langsing gitu ya… karena… berat gw sebelum hamil tergolong gemuk juga untuk ukuran gw. Jadi mau ngga mau gw tetap harus kurusin lagi. Biar lebih pede biarpun udah jadi emak anak dua… selain itu juga biar lebih fit aja. Karena ngurus dua anak itu melelahkan.

Menjawab Pertanyaan Tentang si Anak Ke-2

Di postingan “pemikiran dan pertanyaan tentang si anak ke-2” gw bertanya-tanya apakah gw bisa sayang sama anak ke-2 gw seperti sayang sama si anak pertama? Sekarang terjawab sudah hehehe..

Sebelumnya, thank you banget buat teman-teman yang udah komen di sana, sorry banget waktu itu ngga bisa gw balas karena ngga memungkinkan… dan kalau balas sekarang juga kayaknya udah basi ya… so… sekali lagi thank youuu… 🙂

Tadinya gw bingung mau jelasin gimana soal perasaan ke anak ke-2 itu… Tapi sekarang gw tahu…

Beberapa lama yang lalu, gw taruh GG dan FF di ruangan yang beda. Gara-garanya FF mau tidur, tapi GG berisik banget. Sehari-hari emang gw selalu nemenin GG main, biarpun nonton acara kesukaan dia di TV pun pasti gw temenin. Dan setiap kali main sama GG, perasaan gw itu selalu jadi happy banget, jadi bahagia banget.

Terus ngga berapa lama, FF di dalam kamar tiba-tiba nangis, buru-burulah gw samperin dia ke kamar…, lihat dia nangis gitu gw hibur dan main-main juga sama dia, dan dia emang paling suka diajak main, pasti suaranya jadi berisik gitu, ketawa-ketawa dan suddenly, gw sadar aja kalau perasaan yang sama dengan waktu gw main sama GG, gw rasain juga ke FF… Perasaan yang happy banget, yang bahagia banget itu. Sama. Dari awal emang udah ada perasaan itu, tapi siang itu gw kayak dibikin lihat sendiri.

Dan soal cemburu… gw kira dengan perbedaan umur sesedikit ini (1.5 tahun), GG masih belum ngerti cemburu. Ternyata………. udah ngerti dia!

Awal-awal FF pulang ke rumah, GG takut banget lihat FF, kadang dia ngga berani nengok dan disuruh pegang tangan adeknya, dia pasti teriak. Juga kalau daddy-nya gendong FF, dia pasti tarik celana daddy-nya. Cerita selengkapnya di postingan Cerita Kelahiran si Bungsu part 2 ya.

Supaya GG ngga ngerasa “terancam”, sebisa mungkin gw gabungin mereka berdua dan selalu libatin dia ketika gw lagi urus FF. Apapun yang gw lakuin ke FF (mandiin, ganti diaper dsb), gw kasih tahu GG dan sengaja bikin dia terlibat, biarpun cuma sekedar gw tanya-tanyain. Contoh: gw lagi ganti diaper FF, gw tanya GG, “mommy changes the dia…?” Dia akan balas, “…per!” Atau misalnya di diaper FF ada gambar kucing, gw akan sengaja heboh dan tanya dia di diaper adeknya ada gambar apa… dan dia biasa juga ikut heboh, niruin gaya dan suara kucing. Atau kalau adeknya nangis, gw bilang ke dia kasihan adeknya dan suruh dia sayangin… dia pasti elus-elus dada adeknya dengan muka ge-er gitu.

Dan sekarang setiap bangun tidur, dia sempatin buat samperin box FF dulu sambil ngomong, “mei-mei…” (dia manggil adeknya “mei-mei”) kalau dia lihat ngga ada, dia bisa mewek dan maksa gw nyari ke depan (FF kalau udah di depan berarti habis dikasih susu sama bapaknya).Kelihatannya mulus banget ya… padahal… (lanjutin ke post selanjutnya).

Senin, 22 Juni 2015

Di saat gw kira gw benar-benar tahu apa yang gw rasain ke FF, gw dikasih lihat fakta baru…

jadi hari ini, gw ke rumah nyokap (biasanya gw main ke rumah nyokap sebulan sekali), FF awalnya ngga kenapa-napa, cuma lihat-lihat aja… setengah jam kemudian bokap gw turun dan bercandain dia, kiss juga. Gara-gara itu, FF mulai nangis jerit. Ngga mau berhenti sampai hampir setengah jam atau malah lebih, ngga tahu deh, yang jelas rasanya lama banget. Nyokap gw hibur dia, bokap juga, adek gw juga bahkan sampai susternya pho-pho gw pun dapat giliran untuk gendong dan hibur-hibur, tetap aja nangis kayak air terjun dan keringat bercucuran. Baru pertama kalinya dia kayak gitu.

Akhirnya gw ambil alih, gw bawa dia ke depan, ada angin sepoi-sepoi gitu, dia masih nangis tapi udah mereda… gw tepok-tepok punggung bagian bahunya, dia suka dan mulai diam… lalu… dari balik pintu, ada satu tetangga, cewek (lebih tua dari gw kelihatannya), dia dengan heboh suruh gw jangan bawa masuk lagi… katanya baby bisa “ngeliat”. Gw harap kalian tahu ya maksud dia “ngeliat” itu apa. Gw malas jelasin soalnya. Bukan gw ngga percaya gitu-gituan, tapi saat itu insting gw bilang, anak gw nangis bukan karena itu. Biarpun gw belum tahu karena apa. Intinya, si cewek itu langsung suruh gw SERAHIN FF ke dia, untuk dia tenangin. ATAS DASAR APA ORANG LAIN BISA MIKIR KALAU MEREKA BISA MELAKUKAN LEBIH BAIK DARIPADA IBU KANDUNG SI ANAK?

Karena gw orang yang sopan, gw tolak tawarannya, “Ngga apa-apa, ngga usah,” dengan senyum.

Setelah percakapan itu, FF pun kembali nangis jerit. Gw bawa dia masuk, naik ke lantai atas, bekas kamar gw dulu, gw pikir dia kepanasan jadi gw nyalain AC, tapi dia tetap nangis jerit. Lalu gw bawa turun lagi ke ruang tamu, benar-benar kasihan sama dia, posisi gendong udah coba segala macam, udah coba kasih susu dia ngga mau, coba tidurin dia juga ngga mau. Tapi gw ngga mau dia nangis kayak gitu terus, gw literally takut dia pingsan *iya, emang gw lebay*.

Akhirnya gw tentuin gw mau dia ngapain. Gw mau dia tidur. Gw bilang sama dia untuk bobo. Jangan nangis lagi. Gw tanya sama dia, kesal ya karena berisik? Kesal banget ya karena ngga bisa bobo? AJAIBnya, dia mulai lihatin gw, berhenti nangis, mulut tapi masih ditekuk-tekuk. Gw semacam merasa udah dapat ritme percakapan sama dia, gw terusin. Ngomong sama dia seolah-olah dia lagi curhat dan gw ngertiin “perasaan” dia, tapi juga pengen dia “move on”. Gw tahu itu super lebay (apalagi didengerin nyokap, susternya pho-pho gw dan mungkin tetangga), tapi gw ngga peduli, karena pada akhirnya, gw berhasil bikin dia bobo!!!!!!!

Sebenarnya cara “melakukan percakapan seolah-olah si baby curhat dan gw ngertiin perasaannya tapi juga pengen dia move-on” itu udah seringgggg banget gw lakuin ke GG. Di saat tengah malam tiba-tiba GG nangis jerit tanpa alasan (gw berasumsi karena dia kaget dengar Ryan ngorok, atau dia siangnya kecapean main sampai mimpi buruk, dsb), gw selalu gendong dia dan mulai bilang (kadang dengan heboh), iyaa mommy di sini, mommy loves you so much, mommy kiss ya? he-eh bobo lagi ya… iyaaa mommy tahu GG ngantuk banget, ya udah bobo lagi aja… dll. it works every time.

Pointnya adalah…

Lihat FF nangis seperti itu, gw ngerasa kasihan banget. Dan merasa, selama ini, sepanjang dia hadir di dunia ini (which is hampir 5 bulan), gw jelas belum kasih dia seperti apa yang gw kasih ke cecenya. Gw jelas tanpa sadar udah menomor-duakan dia. Dan gw ngga pengen menjabarkan seperti apa.

Di sisi lain gw juga baru tersadarkan, bahwa dia itu nyata, selama ini gw masih belum ngeh kalau dia itu *haish susah jelasin*, intinya sekarang dia nangis gitu, gw baru ngeh dia punya kebutuhan. Dia butuh cinta yang sama seperti yang gw kasih ke cecenya. Selama ini sepertinya gw seperti merawat boneka, mandiin, kasih susu, tidurin, main-main sebentar, a lot of kisses tetap, tapi sebenarnya banyak yang sering gw tunda, karena gw merasa dia bisa nunggu, dia toh ngga ngerti…, tapi hari ini gw baru ngeh DIA BENAR-BENAR MEMBUTUHKAN GW. Gw literally harus kasih usaha terbaik untuk dia, banyak hal yang ngga boleh gw tunda-tunda lagi. She is real and I love her so much. As much as I love her sister.

Hari ini gw dapat pencerahan banget (mungkin untuk orang lain ngga ada artinya, tapi sangat berarti untuk gw *ya iyalah kan hidup lo, bukan hidup orang lain*) dan gw bersyukur atas kebaikan Tuhan.

Cerita Kelahiran si Bungsu (1/2)

Sebelum gw mulai cerita, gw mau minta maaf dulu ke teman-teman yang suka baca blog ini (dan juga ke diri gw sendiri) karena lama banget baru bisa update. Gw ngga ngerti gimana caranya “stay at home mom” lain bisa rawat anak sambil tetap bisa update isi blog. Bagi gw kesempatan duduk di komputer seperti sekarang ini tuh langka banget (dan sekarang ini jam 4 pagi). Semau-maunya gw dan emang gw sangat mau update blog, bahkan udah buanyaaaakkkk banget cerita yang tertimbun di notes handphone, tetap gw kesulitan nyari celah waktu buat nulis. (note: postingan ini udah masuk keluar draft beberapa kali.)

Mungkin ada yang tanya, setelah lahir si bungsu, apa gw masih andalin diri sendiri atau udah pakai jasa baby sitter atau PRT? Jawabannya adalah gw masih andalin diri sendiri, tapi sejak si bungsu masuk satu bulan, gw mulai pakai jasa PRT.

Awalnya gw masih ngga mau, tapi Ryan lebih realistis. Biar gitu, gw masih belum nyaman dengan ide PRT tinggal bareng di sini… jadi gw hire PRT pulang hari. Datang jam delapan pagi, selesai sekitar jam 9.30 sampai jam 10 pagi. Dan… thank God, gw merasa sangat terbantu.

Tadinya, karena gw ngga mau PRT yang ikut tinggal dalam, gw dikasih dua pilihan: PRT yang kerja dua jam terus pulang, atau yang kerja duabelas jam (dari jam 8 pagi sampai 8 malam); gw pilih yang kerja dua jam aja. Dan keputusan gw tepat banget… PRT yang gw pilih ini, kerjanya rapi… dan ngga malas-malasan.

Dan… di mana-mana kalau ada kelebihan pasti ada kekurangan. Kekurangan PRT ini adalah, selain kerja di unit gw, dia juga kerja di empat unit lain. Seperti gw bilang sebelumnya, dia udah kerja di tempat gw dari sejak si bungsu umur satu bulan dan sekarang si bungsu udah empat bulan (YES! EMPAT BULAN), nah tiga bulan dia kerja di gw, udah minta tiga kali ijin ngga datang karena sakit dan empat hari untuk pulang kampung.

Soal dia sakit, gw percaya itu bukan alasan dia, bayangin aja, kerja di lima tempat, kerja fisik, gimana ngga gampang sakit. Dan parahnya lagi, dia ngga pernah sarapan. Gw pernah tanya sama dia, biasa pagi sarapan apa? Dia jawab pagi ngga pernah sarapan, siang jam satu baru makan di kantin apartemen. Lebih kasihannya lagi, tiga bulan sebelum dia kerja di tempat gw, dia baru melahirkan, tapi bayinya ngga selamat, *sorry,* tempurung kepalanya ngga ada *sorry*. Dia ngga tahu, karena selama hamil ngga pernah USG. Sedih dengarnya, tapi dari cara dia cerita ketahuan orangnya tough.

Hmm, di sisi lain, masalah dia sakit terus itu (flu, pilek, batuk, pusing parah, dan lain-lain), bikin gw jadi berpikir masih mau dia lanjut kerja di tempat gw atau ngga. Masalahnya, biarpun dia sering ijin kalau sakit, tapi dia juga tetap masuk biarpun batuk pilek. DAN DIA SERING MEGANG PIPI Gwen2 dan adiknya. Gw serba salah antara suruh dia jangan pegang tapi takut dia tersinggung, kalau ngga suruh, gw takut mereka ketularan. Gw masih dilema, tapi 80% hati gw bilang setelah lebaran, gw ngga mau lanjutin lagi.

BTW INI KENAPA INTRO-NYA PANJANG BANGET YA? Ok deh, gw mulai cerita kelahiran si bungsu sebelum jadi lebih panjang lagi.

Di mulai dari tanggal 25 Januari 2015 (Minggu) jam tiga pagi; gw merasakan kontraksi. Karena udah pengalaman tahu gimana rasanya kontraksi dari Gwen2, gw yakin itu kontraksi mau melahirkan. Di samping itu, jantung gw dagdigdug banget… gw tahu ngga lama lagi! Tapi di sisi lain, ngga ada bloody show sama sekali. Bikin gw bertanya-tanya apakah kontraksi mau melahirkan selalu harus dibarengi dengan bloody show? Atau memang ngga semua proses kelahiran normal dimulai dengan bloody show?

Gw jabarin jam-jam kontraksi yang gw rasain: 03.00, 03.25, 03.38, 03.44, 04.07, 04.11, 04.15, 04.30, 04.34, 04.54, 05.11, 05.28 lalu berhenti dan gw pergi tidur. Jam 05.54 mulai sakit lagi – berhenti, gw coba tidur lagi. Jam 08.34 mulai lagi, 08.52 dan setelah itu kontraksi stop gitu aja. Besok-besoknya juga ngga datang lagi.

Sampai akhirnya tanggal 30 Januari 2015 (Jumat) – lima hari kemudian – kontraksi itu muncul lagi… tapi, *sorry* pas pipis ngga ada bloody show sama sekali, cuma ada setitik merah di panty. Literally setitik. Beda banget dengan waktu Gwen2 dulu, yang waktu pipis seperti air ngalir warna merah. Makanya itu yang bikin gw ragu apa benar udah waktunya? Tapi kontraksinya benar-benar real.

Ini jam-jamnya:

17.09, 17.26, 17.39, 18.12, 18.42, 18.56, 19.03, 19.14, 19.38, 19.50, 20.20, 20.41, 20.49

Waktu kontraksi pertama kali (tanggal 25 Januari), besoknya, hari Senin, gw sempat minta tolong nyokap buat nginap, supaya kalau gw ke RS, dia yang jaga Gwen2. Nah karena kontraksi ngga datang-datang lagi, hari Rabu sore nyokap pulang. Jumat malamnya dia datang lagi dan kali ini gw beneran harus ke RS, walaupun gw ngga ngalamin bloody show.

Jam 7-an gw berangkat ke RSIA Grand Family PIK (karena Dr. Ronny lagi praktek di sana), sampai di sana, setengah sembilan-an. Prosesnya seperti mau check up biasa. Tapi karena gw bilang udah kontraksi dan sebagainya, gw dikasih masuk ke ruangan dokter duluan (banyak yang antri).

“CEK DALAM”

Sampai di dalam, basa basi, suster siapin gw ke tempat tidur untuk siap-siap di “cek dalam”, dalam hati gw, gw udah lupa tentang cek dalam, ngga kepikiran sama sekali! Dan waktu Dr. Ronny samperin gw, dia dengan pedenya bilang ke Ryan, ini mah masih besok, belum pucat mukanya, masih bisa senyum-senyum tuh.

Dan gw rasa dia benar, soalnya kontraksi gw sakitnya ngga sedahsyat waktu Gwen2. Dan waktu gw lihat Dr. Ronny pasang sarung tangan biru, semua memory proses kelahiran Gwen2, terbayang-bayang lagi di ingatan. Gw takut banget… dan tegang banget… dan waktu akhirnya berhasil dicek dalam, muka Dr. Ronny langsung berubah. Dia bilang, ini bentar lagi, udah lunak banget. Udah pembukaan 3 menuju 4. Persis dengan waktu Gwen2 mau lahir, gw ke RS udah pembukaan 3 menuju 4.

Setelah itu Dr. Ronny tanya gw tinggal di mana dan tahu ngga gw jawab apa? Gw jawab, “ADUH DI MANA YA, LUPA…” gw beneran lupa karena rasanya sakit banget cek dalam itu… 😥 diketawainlah gw sama mereka. Dan Ryan yang jawab akhirnya. Maksudnya dia tanya tempat tinggal, dia mau nyuruh siapin baju untuk nginap dan lain-lain. Tapi ternyata gw udah taruh koper ke mobil dari waktu kontraksi pertama datang.

Proses selanjutnya, Ryan pesan kamar dan lain-lain. Sedangkan gw langsung ke ruang bersalin. Gw lebih suka suster di Grand Family karena lebih ramah. Bukan berarti Family Pluit ngga ramah, tapi ini jenis ramahnya beda *ngga penting banget dibahas*. Seperti sebelumnya, ada suster yang datang untuk pasang alat CTG ke perut gw untuk mantau baby. Dan seperti waktu Gwen2 dulu, detak jantung si bungsu juga ngga terlalu kuat jadi gw harus terus inhale-exhale. Juga pasang oksigen. Ada suster lain yang datang untuk tanya-tanyain riwayat sakit dan sebagainya, ada lagi suster yang pasang infus.

EPIDURAL/ILA

Dan sekali lagi, gw minta pakai Epidural. Tapi Dr. Ronny saranin gw pakai ILA, karena ILA cuma perlu satu kali suntik tanpa perlu pasang selang di punggung. Sedangkan Epidural harus dipasang selang, gunanya untuk menambahkan dosis obat yang habis setelah 2-3 jam dengan cara disuntikkan ke dalam selang itu. Efek ILA bisa bertahan 6 jam lebih katanya.

Waktu di Family Pluit, gw suntik Epidural masih di tempat tidur observasi… tapi kali ini, gw langsung dibawa ke ruang proses melahirkan. Yang gw rasakan setelah disuntik ILA adalah kaki yang benar-benar mati rasa. Awalnya masih bisa gerak sedikit-sedikit, tapi belakangan benar-benar mati rasa. Selain itu ngga ada keluhan apa pun. Beda banget dengan waktu gw disuntik Epidural dulu… yang rasanya badan dingin banget, udah pakai selimut masih dingin banget dan mata gw seperti minus, ngga bisa fokus sama sekali (untungnya setelah dosis hilang, dan melahirkan, semua efek samping itu hilang sama sekali).

LAHIR

Kurang lebih dua jam gw di situ, jam 11-an malam Dr. Ronny masuk ke ruang bersalin. Udah waktunya melahirkan, pembukaan gw udah lengkap. Dan emang biarpun gw pakai ILA, tapi “ketidaknyamanan” itu masih terasa. Ngga seperti kelahiran Gwen2, kali ini suster ngga bantu dorong perut gw pakai kain, tapi gw yang disuruh ngeden sendiri. Gw lupa gw ngeden berapa kali, ngga terlalu lama yang jelas, si bungsu pun keluar jam 23.25 WIB. Dengan lilitan satu kali tali pusat ke leher (sama kayak Gwen2 dulu). Oh ya, begitu keluar, dia langsung nangis kencang. Beda dengan Gwen2 yang harus dipukul sedikit pantatnya baru nangis.

Keseluruhan proses persalinan (dari sampai ke RS sampai dengan lahir), ngga sampai 3 jam!!! Kalau ada yang bilang anak ke dua lebih lancar, lebih cepat; itu benar terjadi di gw. Thank God.

And World, once again please meet:

Faye Naomi

12344a

FAYE NAOMI GO
Faye = short form dari Faith (iman)
Naomi = menyenangkan
Jumat, 30 Januari 2015
jam 23.25 WIB
Berat lahir: 2,955 kg
Panjang lahir: 49 cm

Masih ada yang mau gw ceritain lagi tapi udah kepanjangan, lanjutin di part 2/2 ya… 😀