Yang Gw Bawa Kalau Travelling (Bareng Anak)

Postingan terakhir gw tanggal 3 Februari, itu gw lagi batuk dan sakit gusi. Hari ini udah tanggal 8 februari, gw masih batuk (tapi udah ngga separah awal-awal), sakit gusi pun berubah menjadi sakit gigi sebelah kanan. Sepertinya sih karena gw panas dalam, karena semakin sering gw mandi dan juga minum air putih (dan green tea), semakin mendingan sakitnya.

Oh ya, belum lama ini gw masih sempat ke mal sama mereka dan masih ngejar aja dong. Sempat gw cuekin, dengan cueknya dia lari full power ke eskalator dan sedikit lagi melangkah ke anak tangga eskalator. Lihat gitu, gw terpaksa lari full power juga dan tangkap tangannya. Dan sama-sama naik eskalator dong T_T padahal tujuannya bukan mau ke atas.
Udah sampai atas, gw lihat si Ryan di bawah celingak-celinguk nyariin (sambil dorong stroller isi FF), gw panggil-panggil ngga ngeh dia. Akhirnya gw dan GG turun lagi, Ryan udah hilang dan kita mutar-mutar saling nyari. Hahahah..
(Ga bisa telepon karena tas gw tergantung di stroller).

Anyway… sesuai judul di atas, di bawah nanti akan gw list down barang-barang yang gw bawa kalau ke luar kota/negeri atau sekedar staycation di hotel (Jakarta).
Continue reading

Januari Kemarin

Hari ini gw mau kasih tahu bahwa… Gw capek. Gw lelah. Gw batuk… dan gusi sebelah kanan gw sakit.

Kata pembaca: “nulis blog bukannya yang bikin semangat malah bikin ikut lemas!!”

Hihih… kalau ngga di sini di mana lagi gw curhat dan ngoceh dengan gratis? 😀 Kalau ke Ryan terus kan kasihan. Jadi… anggap aja sesi terapi gratis yaaa… (dan yang baca jadi terapisnya *lalu blog ini pun kehilangan pembaca*).

Karena gw capek, lelah, batuk dan gusi sakit…, membuat gw berpikir: KENAPA DI INDONESIA BANYAK BANGET PERAYAAN DAN LIBUR???! DAN WAKTUNYA BERDEKATAN PULA. *padahal mah di luar negeri juga sama ya?*

Buat orang kantoran mungkin senang karena bisa istirahat bentar dari kerjaan… tapi buat emak-emak satu balita dan satu batita kayak gw malah jadi lebih repot; terutama karena harus pergi-pergi… di mobil (GG ngga bisa diam, carseat udah ngga mau, carseat portable; udah bisa kabur), satu-satunya senjata gw cuma kasih nonton Youtube! Dan untungnya adiknya masih mau di carseat. Terus juga di mal, di rumah orang – yang akan gw ceritain di bawah.
Continue reading

Cerita Kelahiran si Bungsu (part 2/2)

Melanjutkan postingan PART 1 yang gw tulis 19 BULAN LALU tentang cerita kelahiran FF.

Jadi, Epidural atau ILA?

Setelah proses melahirkan selesai, gw masih dibiarin selama dua/tiga jam di ruang melahirkan itu. Mungkin untuk jaga-jaga. Nah selama dua/tiga jam itu, gw masih belum boleh makan atau minum, waktu gw tanya kenapa, susternya bilang takut gw muntah. Dan ketika gw udah diijinin minum (belum boleh langsung banyak), berapa lama kemudian benar aja gw muntah. Sampai tiga kali!
Continue reading

Beban Pikiran: part 1 – ASI

Gw udah janji di postingan sebelumnya, mau tulis postingan tentang beban pikiran ini dan akan terbagi dalam beberapa part dengan tema yang beda.

Postingan ini akan menjadi postingan terakhir di tahun 2016 dan memang bertepatan dengan hari terakhir di tahun 2016.

Itu sebabnya, gw mau memanfaatkan momen ini untuk melepaskan beban negatif di hidup gw (dengan mengungkapkan apa yang menjadi beban pikiran). Dan menjalani hidup lebih maksimal lagi di tahun baru (2017). HAPPY NEW YEAR by the way!!!!!! *15 menit lagi menuju tahun 2017, di jam gw.*

Continue reading

My Drama Queens

Hihi ini udah postingan ke-tiga yang gw tulis, setelah balik dari jeda lama… udah ngga stop di postingan ke-dua lagi. Hooraayy… 😀

Salah satu hal yang membuat gw ingin melahirkan secara “normal” (pastinya kalau diberi kelancaran) adalah karena gw orangnya suka penasaran.

Salah satu hal yang bikin gw penasaran waktu hamil adalah kapan waktu yang Tuhan tentukan untuk anak-anak gw lahir, dan kenapa di hari itu ^_^. Biarpun ngga semua hal harus ada maksud “terselubung” dan Tuhan “bilang” pengen aja di hari tersebut, gw tetap puas.

Untuk GG dan FF, sebenarnya gw rada mendapatkan kejutan, biarpun bukan sesuatu yang besar, gw tetap merasa seperti Tuhan berkomunikasi dengan gw! (rada lebay ya, tapi ngga papa, kan? Ngga bikin orang lain rugi, kan?)

Yang gw maksud adalah seperti di bawah ini:

GG keluar di minggu ke 38
FF keluar di minggu ke 39
(di dua kehamilan itu, gw pakai aplikasi kehamilan yang sama, dengan mengisi tanggal ‘hari pertama haid terakhir’ yang tepat *karena memang setiap kali haid, gw catat tanggal hari pertamanya setiap bulan ke note*)

GG lahir jam 11-an siang
FF lahir jam 11-an malam

GG lahir di hari Kamis
FF lahir di hari Jumat

GG lahir di awal bulan, menjelang akhir tahun (01 Agustus)
FF lahir di akhir bulan, pada awal tahun (30 Januari)
Perbedaan umur mereka pas 1,5 tahun (eh, kurang sehari deh) / 18 bulan kurang sehari / 547 days to be exact!

GG lahir menjelang Idul Fitri 1434 H
FF lahir menjelang CNY/Imlek 2566

Proses kelahiran GG 12 jam-an
Proses kelahiran FF 2 jam-an
Sama-sama di pembukaan 3-4 cm ketika sampai RS.

Sama-sama keluar hanya setelah beberapa kali push (lama di tunggu pembukaan komplit). Dan sama-sama ada lilitan 1x di leher.

Sama-sama punya golongan darah yang sama dengan daddy mereka. Padahal golongan darah gw umum banget yaitu O+.

Karena golongan darah mereka sama-sama beda dengan gw, itu juga yang menyebabkan badan mereka sama-sama kuning/Jaundice karena angka bilirubin yang semakin meningkat di hari ke-dua, dan semakin parah di hari ke-tiga kelahiran dan harus disinar biru (fototerapi).


Untuk sifat dan sejenisnya:
GG, awalnya punya kecenderungan shy, ngga masalah main sendiri. Walaupun kadang bisa tiba-tiba nyapa orang-orang asing di dalam lift (“Hi guys…”) dan orang-orang yang pakai T-shirt dengan karakter kartun yang dia tahu, pasti kena panggil.

Belakangan ini, dia udah ngga takut orang lagi, contohnya waktu main di tempat yang ada playgroundnya, dia bisa suruh bapaknya anak lain untuk kasih aba-aba karena dia mau turun dari slide. Buat yang penasaran, dia ngomongnya gini: “uncle..uncle.. on your mark, get set, go..” Karena awkward, unclenya cuma ngomong, “one two three…” eh dia ngotot dong suruh ngomong: “on your mark, get set, gooo…” pas udah diturutin, baru dia turun. Dan ulang kejadian itu “1000x” dengan orang-orang yang ada di dekat dia waktu itu.

FF, punya kecenderungan galak. Teriak kencang, nangis kencang, dan kalau ada yang deketin mommynya tiba-tiba, dia akan datang dengan cepat dan dorong orang tersebut sampai lepas dari badan mommynya. (GG dan daddynya yang paling sering jadi korban). Dan belakangan ini, mommy-daddynya ngga boleh nyanyi bareng atau ketawa bareng. Bisa teriak kencang dia. Ampun deh.

Waktu masih rada kecilan, dia berani samperin sambil lari kecil ke orang-orang asing di mal yang manggil dia karena gemas (bahaya!), tapi udah gedean gini, rada penakut, kayak mematung gitu kalau didekatin orang. Mata tetap lirik-lirik melotot tapi badannya ngga berani gerak. Baru setelah gw dekatin, dia berani bergerak…, berusaha manjat badan gw dan setelah gw gendong, buru-buru sandarin kepalanya ke bahu gw sambil lanjut lirik melotot ke orang tersebut.

Kalau ketemu sodara atau teman-teman gw juga gitu, harus tunggu kurang lebih satu jam, luntur takutnya dan jadi liar, lari sana sini, teriak-teriak girang, nyanyi-nyanyi girang;  main sama cicinya dan anak-anak seumuran.

Ya namanya juga anak kecil ya, masih polos. Tapi yang membuat gw merasa lega adalah mereka gampang banget dibujuknya kalau lagi ngambek, tapi dengan cara yang berbeda.


Kalau ngambek:
GG, cara gw bujuk harus dengan soft dan seperti menuruti maunya dia. ‘Seperti’ loh ya, bukan benar-benar menuruti. Seolah-olah gw sangat mengerti dia, seolah-olah dia sedang curhat dan gw pendengar yang baik  (yang ngga perlu nasehati panjang lebar, cuma “hmm…hmm.. iya.. iya tahu…” pun cukup). Dan dia akan melembek sendiri.

FF, boro-boro bisa dilembutin, malah tambah parah. Triknya beda banget sama cicinya…, yaitu harus bercanda. Harus ceriaaa dan gw harus terlihat heboh bercandanya ke dia. Pasti langsung lupa sama ngambeknya.


Lalu bagian dramanya di mana?
Yang gw maksud dengan drama adalah seperti ini:
(gw rangkum beberapa dari sejak mereka kecil)

GG:
Mommy keluar buat buang sampah, nangis.
Kebangun tidur, ngga ada Mommy di sebelahnya, nangis.
Lihat Daddy pijat Mommy, nangis.
Mommy masuk kamar dan tutup pintu, nangis.
Mommy bilang, ‘Mommy is angry’, nangis.
Sandalnya ketinggalan di bawah meja resto, heboh panik minta diambilin.
Mommy bilang, FF ngga ikut (jalan-jalan), ngamuk dan setengah mati tarik stroller FF.

Dan FF:
Strollernya ditarik-tarik gitu, nangis.
Kejambak rambut sendiri, nangis.
Dengar suara sendiri (yang agak kencang semacam bersin) – kaget, nangis.
Ngantuk, nangis.
Pup, nangis.
Panas, nangis.
Cicinya nangis, ikut nangis.
Nengok ke kiri/kanan dan lihat ada daddynya – kaget, nangis.
Mommy masuk toilet, nangis.
Mommy duduk di depan meja dapur dan buka laptop (dengan maksud ingin update blog), nangis.

Tapi yang buat gw salut terhadap FF adalah ketika dia ngga enak bodi, sakit panas, atau muntah (yang untungnya dia bukan tipe anak yang suka muntah, so far cuma pernah muntah sekali, itupun sedikit) dan DIA NGGA NANGIS, ngga rewel. Untuk hal-hal tertentu dia super tough.

Sedangkan yang gw bangga dari GG adalah dia sayang adiknya. Dia suka bagi makanan ke FF tanpa disuruh, kalau gw bilang adiknya ngga usah ikut pergi, atau ketika selesai makan di resto, gw dan Ryan sengaja tinggalin FF di baby chair tanpa basa basi, si GG ngeh dan teriak-teriak manggil adiknya sampai nangis. Begitu udah bawa adiknya, dia pegang tangan adiknya dan pastiin adiknya “aman” di stroller. So sweet!

Dan namanya anak kecil ya pasti ada lah rebutan atau sejenisnya, tapi belum pernah sampai saling pukul atau sejenisnya (jangan sampai deh), juga masih tergolong gampang dibilanginnya dan bisa disuruh untuk bilang “sorry” dan kiss/elus sayang kepala satu sama lain.


Bangga-Banggain Anak

Gw nulis gini bukan mau pamer dan bangga-banggain anak, tapi emang gw BANGGA dan itu ngga tabu dong. Memangnya anak tercipta untuk dicari-cari kesalahannya? Dan ngga boleh dipuji?

Jujur aja ya, kadang gw suka merasa risih kalau lihat emak-emak saling “jelek-jelekin” anaknya, semacam tabu gitu kalau membanggakan anak. Yang sekalinya si Anu kasih tahu tentang “pintarnya” anaknya sperti apa, tiba-tiba aja ada yang ngomongin si Anu dari belakang dengan ditambahi bumbu “padahal anaknya biasa-biasa aja”. Si Anu bukan gw, gw itu saksi bisu.

Maksud gw biasa aja kali kalau berteman. Jangan banyak drama. Mau curhat tentang anak, mau bangga tentang anak, cerita aja apa adanya. Dan dengarin juga apa adanya. Ngga usah ada sirik atau malah senang di belakang.

Namanya anak, beda-beda kali perkembangannya. Dan pintarnya juga beda-beda. Termasuk perkembangan fisik juga beda. Waktu anak masih kecil berlomba-lomba gemukin anak, kenapa ngga sekalian aja emak-emaknya yang berlomba-lomba siapa yang paling gemuk! Atau ketika ada emak yang ngga mempermasalahkan anaknya gemuk atau biasa aja, malah jadi tersangka dalam kasus “Ngga Kasih Makan Anak” *curcol*.

Btw, kalau lomba emak-emak gemuk, gw bisa jadi salah satu calon juara kali, beberapa bulan sejak FF lahir, ini torso dan pipi ikut melar. (yang kalau ngga segera atur pola makan dan olahraga teratur, bisa merambat ke tangan dan kaki) *curcol lagi*.

Balik lagi ke soal bangga terhadap anak…

Termasuk juga anak-anak gw, banyak hal yang bikin bangga, tapi ada juga yang bikin gw beban pikiran. Tapi bukan hasil dari gw bandingin mereka dengan anak-anak lain. Cuma karena memang gw (dan Ryan) yang kadang suka overthinking dan juga merasa ngga akan terlalu repot kalau seandainya hal-hal yang jadi beban pikiran itu  udah bisa mereka lakukan.

Seperti apanya, nanti gw tulis di postingan tersendiri. Sementara udahan dulu, udah terlalu panjang postingan ini. 🙂